Thursday, 17 November 2011

PARAGRAF DALAM KARANGAN


PARAGRAF DALAM KARANGAN

A. Pengertian Paragraf
         Iatilah lain untuk paragraf adalah alinea. Paragraf adalah ba­gian terkecil karangan yang terdiri atas kalimat-kalimat. Namun, yang per­lu diperhatikan ada­­lah ti­dak se­tiap kum­­­pulan kalimat pasti merupakan paragraf
Berkebalikan halnya dengan contoh (29) berikut ini.

(29)        (a) Dalam kehidupan sehari-hari, manusia akan ber­­gaul dengan sesamanya. (b) Dalam kedudukannya sebagai kar­yawan suatu instansi, ia akan bergaul de­ngan karyawan yang lain dan dengan pimpinannya. (c) Dalam keduduk­an­­nya sebagai anggota masyarakat, ia akan bergaul dengan te­tangganya, dengan ketua RT-nya, dengan ketua RW-nya, dengan kepala desanya, dan seterusnya. (d) Da­lam kedu­duk­­­annya sebagai anggota suatu keluarga, ia akan bergaul dengan saudara-saudaranya dan dengan kedua orang tua­nya. (e) Demi­kian pula, dalam rangka menjamin lancarnya suatu pe­me­rintahan, suatu instansi atau suatu departemen akan berkomunikasi dengan departemen yang lain karena ke­dua belah pihak saling memerlukan. (f) Dalam dunia bis­nis dan dunia ekonomi terjadi peristiwa yang sama. (g) Ber­bagai per­usahaan akan saling mengisi dan sa­ling me­me­­san barang yang diproduksi perusahaan lain, dan sebagainya.
Contoh (29) tersebut merupakan paragraf karena kalimat-ka­­li­mat pembentuk­nya, yaitu kalimat (a)-(g) ber­hubungan satu sama lain untuk men­­­dukung satu ide po­kok. Ide pokok yang dimaksud adalah pergaulan antarmanusia yang tertuang dalam kalimat

B.  Syarat Paragraf  yang Baik

         Ba­­gian ter­kecil karangan yang terdiri atas kalimat-kalimat da­pat di­se­­but paragraf yang baik apabila memenuhi persya­ratan paragraf. Persyaratannya adalah hanya mengan­dung satu ide pokok, ada ke­paduan (cohesion) dan kesa­­­­tu­­an (coherence) antar­kali­mat pem­ben­tuknya, dan berunsur ka­li­mat topik dan kalimat pe­ngem­­­­bang. Keempat syarat itu bersifat sa­ling melengkapi.
         Paragraf yang baik hanya mengandung satu ide pokok. Oleh ka­rena itu, bila da­lam satu paragraf terdapat lebih dari sa­tu ide pokok, paragraf itu bukan merupakan paragraf yang baik, dan untuk menjadi pa­ra­graf yang baik, paragraf itu harus dipecah ke dalam beberapa pa­ragraf. Per­hati­kan­­lah con­toh yang ber­ikut.
         Suatu paragraf dinyatakan padu (cohesive) bila kalimat-ka­li­mat pem­ben­tuknya berhubungan satu sama lain. Sifat padu itu da­pat di­tam­­­pak­kan de­ngan cara menyusun kalimat-kalimat da­lam pa­ra­graf ke dalam satu urutan yang logis dan menyusun kalimat-ka­limat dalam pa­ragraf yang mempu­nyai urutan pola dan kai­dah ke­bahasaan yang ter­atur (Pa­rera, 1982:17).

Paragraf (34) yang terdiri atas empat kalimat, yaitu kalimat (a)-(d), itu bersifat padu. Kalimat (a) berisi “paragraf sebagai sa­tuan informasi”. Sa­tuan informasi itu dijabarkan lebih terinci pada kalimat (b)-(c). Pa­ragraf tersebut kemudian ditutup dengan kalimat (d) yang sesungguh­nya merupakan penegasan dari kalimat (a)-(c).
         Syarat lain untuk paragraf yang baik adalah memiliki kalimat to­pik dan kalimat pengem­bang. Kalimat topik adalah kalimat yang ber­­isi ide pokok, sedangkan kalimat pengembang adalah ka­limat-ka­limat yang ber­isi rincian ide pokok yang terbentang da­lam kalimat to­pik. Perhatikan­lah contoh yang ber­ikut.

(36)                    Indonesia pernah mengalami sejumlah kemajuan da­lam bi­dang ekonomi walaupun masih ada beberapa ma­­­sa­lah di sana-sini, di antaranya adalah masa­lah ke­mis­­kin­an, ma­salah peng­ang­guran, dan masalah ledak­an pen­du­duk.

 

C. Cara Penyusunan Paragraf

         Bagaimanakah paragraf yang baik dapat disusun? Paragraf yang baik disusun dengan melewati tiga langkah. Lang­­kah per­­­tama adalah menentukan ide pokok. Ide pokok itu dapat pula disebut pi­kir­an pokok atau gagasan utama. Penentuan ide pokok itu di­lakukan pa­da langkah pertama karena dalam penyu­sunan pa­ra­­graf ide po­­kok ber­peranan se­bagai pengen­dali (Ramlan, 1993:9). Ide pokok itu dapat di­am­bil con­toh “kartun”.
         Langkah kedua adalah membuat kalimat dengan ide pokok yang telah ditentukan. Kalimat yang dimaksud disebut ka­limat to­pik. Is­­tilah lain untuk kalimat topik itu adalah ka­limat tum­­puan (Pa­­­rera, 1982:14) dan kalimat utama (Liang Gie, 1992:75; Soe­dji­to dan Hasan, 1986:12). Kalimat topik itu dijadikan tumpuan da­lam pe­nyu­sunan pa­ragraf. De­ngan ide pokok “kartun”, misalnya, dapat disusun kalimat to­pik Kartun ada­lah gambar interpretatif yang simbolis mengenai si­kap orang, si­tuasi, atau kejadian terten­tu.
         Langkah ketiga adalah mengembangkan kalimat to­pik men­­­ja­di paragraf. Caranya adalah dengan menyusun kalimat lain yang isinya berhubungan dengan, mendukung, meng­uraikan, dan atau menjelaskan ide pokok yang tertuang dalam kalimat topik. Kalimat lain itu ber­fungsi sebagai pengembang atau penjelas kalimat topik. Kalimat yang berfungsi sebagai pengembang atau penjelas kalimat topik itu dapat disebut kalimat pengembang atau kalimat penjelas.
         Dalam kenyataannya, ada banyak po­la pengembangan ka­li­mat topik menjadi paragraf. Salah satu di antaranya adalah dengan ka­­limat to­­pik (a) Kartun ada­lah gambar interpreta­tif yang simbo­lis mengenai sikap orang, situasi, atau ke­ja­dian ter­­tentu yang di­tem­patkan pada awal paragraf, mi­sal­­nya, da­pat di­susun kalimat-kali­mat pengembang  de­ngan mengulang ide pokok “kartun” menjadi (b) Kartun se­ring di­gu­nakan un­tuk me­nyampaikan pesan secara cepat dan ring­kas ke­pa­da masya­rakat sebab kartun mempunyai kemampuan yang sa­ngat be­sar untuk me­na­rik perhatian dan mempengaruhi si­kap atau perilaku, (c) Kartun biasanya me­nonjolkan isi pesan serta karakter yang mudah dikenal dan dime­ngerti, bukan pada de­tailnya, sehing­ga bia­sanya berbentuk sa­ngat sederhana, dan (d) Mes­kipun se­derhana, kartun yang baik dan mengena akan berkesan da­­lam ingatan da­lam jangka wak­tu la­ma, se­hingga terbentuk pa­ra­graf berikut.

(38)                    (a) Kartun ada­lah gambar interpreta­tif yang simbolis me­ngenai sikap orang, situasi, atau kejadian ter­tentu. (b) Kartun se­ring digunakan untuk menyampaikan pesan secara cepat dan ringkas kepada masyarakat sebab kartun mempunyai kemampuan yang sangat besar untuk menarik perhatian dan mem­pe­ngaruhi sikap atau perilaku, (c) Kar­­­tun biasanya menonjolkan isi pe­san serta karakter yang mu­dah dikenal dan dime­ngerti, bukan pada detailnya, sehing­ga biasanya berbentuk sa­ngat sederhana. (d) Mes­ki­pun se­der­hana, kar­­­­­tun yang baik dan mengena akan ber­­­­ke­san da­lam ingatan dalam jangka waktu lama.

         Paragraf dapat disusun dengan memperhatikan kemung­kin­an pe­­nempatan kalimat topik. Paragraf dapat disusun dengan cara meletakkan kalimat topik pa­­da awal pa­ragraf. Penyusunan paragraf de­ngan ca­ra ini disebut penyusunan secara deduktif sehingga paragrafnya pun di­se­but paragraf deduktif. Jadi, bentuk su­­sun­an paragraf deduktif ini ada­lah kalimat topik diikuti oleh kalimat(-kalimat) pengembang. Con­­tohnya sebagai ber­ikut.


(40)                    (a) Hutang Amerika Serikat sekarang ini berjum­­lah se­kitar empat trilyun dolar. (b) Bunga hutang yang harus diba­yar­nya tiap tahunnya melampaui ang­garan mi­liter­nya, bah­kan men­ca­pai rekor dalam senjata AS, yakni sekitar 270 milyar dolar. (c) Hutang AS sekarang ini lebih besar dari hutang tahun 1980 ketika Presiden Ronald Rea­­­­gan me­mangku ja­bat­an­nya. (d) Ini menjadi tugas Bill Cinton se­karang untuk mem­perkecil hutang tersebut.

Contoh (40) tersebut merupakan paragraf yang disusun de­ngan menempatkan kalimat topik pa­da awal paragraf, yaitu pada kalimat (a), diikuti oleh kalimat(-kalimat) pengembang. Kalimat topik pa­da paragraf (40) adalah Hu­tang Amerika Serikat se­karang ini berjum­lah se­kitar 4 trilyun dolar. Sementara itu, kalimat (b), (c), dan (d) un­tuk paragraf (40), merupakan kalimat pengembang.
         Paragraf dapat disusun dengan cara menempatkan kalimat topik pada akhir paragraf. Paragraf yang disusun dengan cara se­perti itu di­na­mai paragraf induktif. Bentuk susunan paragraf induktif ini adalah kalimat(-kalimat) pengembang ditempatkan mendahului ka­limat to­pik. Contohnya sebagai berikut.

(41)          (a) Para ilmuwan sosial, dengan berbagai teori me­re­­ka, tidak kurang merupakan ikatan-budaya ma­nu­sia la­in. (b) Sis­tem pen­didikan Barat memberi kita se­­mua ca­ra-cara menginterpretasi­kan pengalaman. (c) Berbagai asum­si im­­plisit me­ngenai du­nia muncul dalam ber­bagai teori dari se­tiap di­siplin aka­de­mik, kritik sastra, ilmu alam, sejarah, dan semua ilmu so­si­al. (d) Etnografi sen­di­­ri ber­upaya untuk men­doku­men­tasikan ber­bagai realitas alter­natif dan men­­des­krip­sikan realitas itu dalam batas­an rea­litas itu sen­di­ri. (e) De­ngan demikian, et­­nografi dapat ber­fungsi ko­­­­rek­tif terhadap teori-teori yang muncul da­lam ilmu so­sial Ba­rat.

Contoh (41) tersebut merupakan paragraf yang disusun de­ngan cara meletakkan kalimat topik pada akhir paragraf. Kalimat to­pik kedua paragraf ter­sebut adalah kalimat (e), sedangkan kalimat-kalimat la­­innya, ya­itu kalimat (a)-(d), me­rupakan kalimat pengembang.
         Paragraf dapat pula disusun dengan cara menempatkan kalimat to­pik di awal dan diulang pada akhir paragraf. Dalam hal ini, ide po­­kok yang diletak­kan pa­da awal paragraf biasanya berisi pernya­ta­an yang bersifat umum, sedangkan yang terletak di akhir paragraf sebe­nar­nya me­­rupa­kan ulangan dari ide pokok yang ter­letak pada bagian awal pa­ragraf (Ramlan, 1993:6). Kali­mat topik ulangan itu tentu saja tidak harus sama persis dengan kalimat to­pik yang diletakkan pada awal pa­ragraf. Kali­mat topik ulang­­an itu bo­leh diubah bentuk ka­ta-ka­­ta­nya, susunan kalimatnya, tetapi ide po­kok te­tap sama (Soedjito dan Ha­san, 1986:14). Paragraf yang kalimat topiknya terletak di awal dan akhir pa­ra­graf itu bia­sa­nya di­sebut paragraf campuran. Contohnya se­bagai ber­ikut.

(43)        (a) Sebuah karangan tidak mungkin baik jika pa­ra­­graf­nya tidak tersusun dengan baik. (b) Paragraf me­ru­pa­kan sa­tuan ter­kecil sebuah karangan. (c) Isi­nya mem­­­ben­tuk sa­tu­an pi­kir­an seba­gai bagian dari pe­san yang di­sam­paikan oleh penulis dalam ka­rang­annya. (d) Paragraf yang tidak jelas su­sun­annya akan me­nyu­litkan pem­baca untuk me­nang­kap pikiran penulis. (e) Oleh se­bab itu, se­buah ka­rang­­an tidak akan baik jika pa­ra­graf­nya tidak di­­­su­sun de­ngan baik.

Contoh (43) tersebut merupakan paragraf yang disusun dengan cara mengulang kalimat topik, yaitu kalimat (a) dan (e). Kalimat (e) merupa­kan ulangan dari kalimat (a). Ulangan itu dimaksudkan untuk mem­­beri tekanan pada pi­kir­an atau ide pokok yang ter­tuang dalam kalimat (a).
         Ada pula paragraf yang disusun dengan cara menempatkan kali­mat topiknya seperti da­lam contoh (45) ber­ikut ini.

(45)        (a) Kesadaran masyarakat untuk menyertifikatkan ta­­nah pada masa sekarang cukup tinggi. (b) Hal ini di­buk­tikan dari jumlah permohonan sertifikat ke kan­tor per­ta­hanan yang me­ningkat pada setiap bulan­nya. (c) De­ngan de­mi­kian, masyarakat mulai menger­ti pen­­ting­nya ser­tifikat tanah. (d) Pemilik tanah hanya mempunyai hak sepenuh­nya yang berkekuatan hukum kalau tanah yang dimi­likinya sudah bersertifikat. (e) Ka­­lau belum bersertifikat, pe­milik tanah belum sepe­­nuh­nya dijamin hak kepe­mi­lik­annya.

Paragraf (45) tersebut disusun dengan meletakkan kalimat topik di te­ngah paragraf. Kalimat topik dalam paragraf (45), kali­mat (c), ya­itu De­ngan demiki­an, ma­sya­rakat mulai menger­ti pen­­ting­nya sertifikat ta­nah, me­­rupakan kalimat topik, sedangkan kalimat (a) dan (b) ser­ta ka­limat (d) dan (e) merupakan kalimat pengem­­­bang. Paragraf yang ka­limat topik­nya ada di te­ngah pa­ragraf itu disebut paragraf te­ngah (lih. Liang Gie dan Wi­dya­­mar­­taya, 1983:17).
         Terkait dengan cara penyusunan paragraf, sebenar­nya tidak ada aturan mutlak yang mengikat (Liang Gie, 2002:69).

D. Pola Pengembangan Paragraf

         Sebuah paragraf yang baik mengandung kalimat topik dan ka­limat pengembang yang berhubungan satu sama lain. Hubungan itu me­nyangkut sesuatu yang diungkapkan dalam kalimat pengembang. Mak­sudnya, sesuatu yang diungkapkan da­lam ka­­limat pengem­bang se­­nan­tiasa berhubungan dengan dan tidak boleh terlepas dari ide po­kok yang di­ketengahkan dalam kalimat to­pik. Wujud sesuatu dalam kalimat pengem­bang itu ada bermacam-macam sehingga lahirlah berma­cam- macam pola pengembangan paragraf. Paragraf itu antara lain da­pat di­kem­bangkan dengan pola contoh, alasan, perbandingan, perlawan­an, dan definisi.
         Sesuatu yang diungkapkan dalam kalimat pengembang dapat be­rupa “con­toh”. Con­tohnya sebagai berikut.

(45)        (a) Khusus untuk jenis mainan yang memerlukan gerak tubuh yang leluasa dan banyak hingga memer­lukan ruangan yang luas, dengan sendirinya yang paling dulu ha­rus dipertimbangkan adalah kondisi ru­mah dan sekitar­nya apakah cukup memenuhi syarat. (b) Mainan seperti itu, mi­salnya, adalah bola, layang-layang, se­peda, mobil- mo­bil­an untuk dikendarai, ra­ket dan cock untuk ber­main bulutangkis, dan sebagai­nya.

Contoh (45) tersebut merupakan paragraf yang terdiri atas dua kalimat, yaitu kalimat (a) dan (b). Kalimat (a) merupakan kalimat topik, sedangkan kalimat (b) merupakan ka­­limat pengembang. Se­sua­tu yang disampaikan dalam kalimat (b) itu adalah “con­­toh” untuk ide po­kok yang dituangkan dalam kalimat (a).
         Sesuatu yang diungkapkan dalam kalimat pengembang da­pat pu­la berupa “alasan”.  Contohnya se­bagai berikut.

(47)        (a) Sering kali, untuk memainkan suatu mainan anak masih memerlukan bantuan orang tua. (b) Alas­an­nya ada­lah anak memang belum tahu bagaimana ca­­­ranya mem­­­peroleh kegembiraan semaksimal mungkin dari ma­in­­­an barunya.
Paragraf (47) tersebut terdiri atas dua kalimat, yaitu kalimat (a) dan kalimat (b). Kalimat (a) adalah kalimat topik, sedangkan kalimat (b) me­rupakan kalimat pengembang. Kalimat pengembang teersebut ber­isi “alas­an” untuk ide pokok yang diungkapkan dalam ka­­limat topik. 
         Alasan yang tertuang dalam kalimat pengembang dapat meru­pakan “akibat” dari ide pokok dalam kalimat topik. Amati­lah co­n­­­­­toh ber­ikut.

(48)        (a) Sebelum awal abad XX, banyak kritikus me­ng­­akui bahwa struktur plot yang rapi, yang diajukan oleh Aris­toteles dan peng­ikutnya, tidak dapat di­kenakan pada novel. (b) Akibatnya, mes­kipun te­tap relevan untuk cerita pendek, pembicaraan tentang struktur menjadi ber­kurang.

Kalimat topik dalam paragraf (48) tersebut ada­lah kalimat (a), se­dang­kan kalimat (b) merupakan kalimat pengembang. Kalimat (b) me­rupakan aki­bat dari ide pokok yang dinyatakan dalam kalimat (a) se­hingga antara kalimat topik dan kalimat pengembang tersebut terbentuk hu­bungan “sebab-akibat”. Sebalik­nya, pada contoh berikut ini, ka­li­­mat pengembang, yaitu kalimat (b), merupakan “sebab” dari ide da­­­lam kali­mat topik, yaitu kalimat (a).

(49)        (a) Saran dan kritik yang ditujukan untuk mem­­­per­­baiki usa­ha penyempurnaan program Applied Ap­proach ini akan kami terima dengan senang hati. (b) Hal ini karena usaha penyempurnaan program itu ba­ru merupa­kan satu langkah dari langkah-langkah yang harus dila­lui dalam pe­ningkatan kualitas dosen di perguruan ting­gi.

         Kalimat pengembang dapat pula berupa “perbandingan” dari ide po­kok yang dituangkan da­lam kalimat topik. Contohnya sebagai ber­ikut.

(50)        (a) Perbedaan antara eksposisi dan argumentasi terletak pa­da tujuan ma­sing-masing. (b) Eksposisi ha­nya ber­­usaha untuk menjelaskan atau menerangkan sua­tu po­kok persoalan, sedangkan argumentasi berusaha untuk mem­buktikan kebenaran dari suatu pokok persoalan. (c) Dalam eksposisi, penulis menye­rah­kan ke­putusannya ke­pa­­­da pem­baca, sedangkan dalam argu­men­tasi penulis ingin mengubah pandangan pembaca.

Ide pokok dalam contoh (50) tersebut adalah ‘perbedaan tujuan an­tara eksposisi dan argumentasi’. Ide pokok itu diungkapkan da­lam kalimat topik, yaitu kalimat (a). Perbedaan tujuan itu kemu­dian dibandingkan da­lam kalimat, yaitu dalam kalimat (b) dan (c).
         Yang disajikan dalam kalimat pengembang dimungkinkan be­ru­pa “definisi” dari sesuatu yang diungkapkan dalam kalimat topik. Con­tohnya sebagai berikut.

(52)        (a) Istilah argumentasi diserap dari bahasa Inggris argumentation. (b) Istilah terakhir itu diterjemahkan ke dalam ba­hasa Indonesia menjadi ‘bahas­an’ atau ‘ulas­an’. (c) Argu­men­­tasi berarti ‘pemberian alasan untuk memper­kuat atau menolak suatu pendapat, pendirian, atan ga­gas­an’. (d) Jadi, suatu ka­rangan disebut argumentasi apa­­bila da­­lam karangan itu dikemukakan alasan, contoh, atau buk­­ti yang kuat dan meyakinkan untuk mendukung atau me­nolak suatu pendapat, pendiri­an, atau gagasan.
         
Contoh (52) tersebut merupakan paragraf yang dikembangkan de­ngan pola definisi. Kalimat (a) berfungsi sebagai kalimat topik yang berisi istilah “argu­mentasi”, sedangkan kalimat (b)-(d) merupakan kalimat pe­ngem­bang yang berisi definisi dari istilah argumentasi yang dimuat da­­lam kalimat (a).

E. Cara Membentuk Kesatuan Hubungan Antarkalimat da­lam Paragraf

         Hubungan antarkalimat dalam paragraf harus bersifat me­nya­tu. Si­­fat menyatu ini dapat terbentuk manakala penafsiran kalimat yang satu bergantung pada kalimat yang lain. Kalimat yang satu mempra­ang­gap­kan atau dipra­anggapkan kalimat yang lain. Kesa­tu­an itu dapat di­­ben­tuk dengan unsur-unsur kebahasaan yang berfungsi menghu­bung­kan kalimat-ka­li­mat di dalam paragraf. Unsur-unsur ke­baha­saan itu disebut pe­nanda hubungan. Istilah teknis untuk penan­da hu­bungan itu ialah kohe­si. Kohesi ini berbeda dengan ko­herensi. Ko­hesi me­ru­juk ke perpaut­an bentuk, sedangkan kohe­ren­si pa­da per­pautan makna (Al­­­wi dkk. 1993:43).
         Fungsi penanda hubungan adalah untuk menyatukan hubung­an an­­­tara kalimat yang sa­tu dengan kalimat yang lain dalam suatu pa­ra­graf (Ram­lan,1993:12). Penanda hubungan itu dapat berwujud pe­­nunjuk­an, penggantian, penghilang­an, penghubung, dan pengulang­­an.
         Penunjukan adalah penanda hubungan antar kalimat yang be­rupa kata tun­juk. Penun­jukan itu terbagi atas dua jenis, yaitu penun­juk­an ke de­­­pan, yaitu menunjuk kalimat sebelumnya, dan ke bela­kang, yaitu me­nunjuk kalimat ber­ikutnya. Penunjukan itu misalnya kata itu yang me­nunjuk eksperimen Stern dalam contoh ber­ikut.

(53)                    (a) Eksperimen Stern jelas memberikan sumbang­an yang pen­­ting bagi perkembangan ilmu fisika. (b) Te­ta­pi, upaya itu sen­diri memperlihatkan sifat penting lain­nya dalam mengkaji eks­perimen yang seringkali tidak te­rumus­kan secara leng­kap ke­tika peralatan itu mula- mu­­­la dikembangkan.

Paragraf (53) tersebut berunsurkan dua kalimat, yaitu kalimat (a) dan (b). Paragraf tersebut bersifat menyatu. Kesatuan itu ditunjukkan lewat penggunaan kata tunjuk itu pada kalimat (b). 

KATA PENGHUBUNG DALAM PARAGRAF

Hubungan Makna
Kata Penghubung dalam Paragraf
1. Penjumlahan
selain itu, di samping itu, kecuali itu
2. Perlawanan
namun, akan tetapi, sebaliknya, namun demikian, namun begitu, walaupun demikian, walaupun begitu, meskipun demikian, meskipun begitu, sekalipun demikian, sekalipun begitu, biarpun demikian, biarpun begitu, kendati(pun) demikian, kendati(pun) begitu, sungguhpun demikian, sungguhpun begitu, padahal
3. Penyebaban
oleh karena itu, oleh sebab itu, maka dari itu, sebabnya
4. Pengakibatan
Akibatnya
5. Cara
dengan demikian, dengan begitu
6. Penyimpulan
jadi, pendek kata, pendeknya, pokoknya
7. Waktu
sementara itu, ketika itu, (pada) waktu itu, sebelum itu, sehabis itu, sesudah itu, setelah itu, sejak itu, semenjak itu, selanjutnya, akhirnya
8. Pelebihan
tambahan lagi, tambahan pula, bahkan, ma­lah­­an, apalagi

         Pengulangan adalah penanda hubungan antarkalimat yang be­rupa penye­butan kemba­li unsur tertentu yang telah disebut pa­da kalimat sebelumnya. Contohnya adalah kata pen­­didikan yang diulang-ulang ber­i­kut ini.

(43)        (a) Pendidikan seringkali dijelaskan melalui sudut pandang masing-masing orang. (b) Ahli sosiologi akan meng­artikan pendidikan sebagai usaha pewarisan dari ge­­nerasi ke generasi. (b) Pa­kar antroplogi mengartikan pendidikan sebagai usaha pemindah­an pengetahuan dan ni­lai-nilai ke­pa­da generasi berikutnya. (c) Ahli eko­­nomi akan mengartikan pendidikan sebagai suatu usaha pe­na­nam­an mo­dal sum­ber daya manusia untuk membentuk tenaga kerja dalam pembangun­an bangsa. (d) Penjelasan pendidik­an yang beraneka ragam berda­sarkan sudut pan­dang yang khusus da­ri masing-masing ilmu tersebut di­se­but sebagai penjelas­an yang fragmented and disconnec­ted.
ULASAN:

Paragraf adalah alinea. Paragraf adalah ba­gian terkecil karangan yang terdiri atas kalimat-kalimat. Bisa dinamakan paragraf karena kalimat-ka­­li­mat pembentuk­nya, yaitu kalimat (a)-(g) ber­hubungan satu sama lain untuk men­­­dukung satu ide po­kok. Untuk bisa disebut paragraf mempunyai beberapa syarat. Persyaratannya adalah hanya mengan­dung satu ide pokok, ada ke­paduan (cohesion) dan kesa­­­­tu­­an (coherence) antar­kali­mat pem­ben­tuknya, dan berunsur ka­li­mat topik dan kalimat pe­ngem­­­­bang. Kemudian ada beberapa cara penyusunan paragraf antara lain. Lang­­kah per­­­tama adalah menentukan ide pokok. Ide pokok itu dapat pula disebut pi­kir­an pokok atau gagasan utama. Penentuan ide pokok itu di­lakukan pa­da langkah pertama karena dalam penyu­sunan pa­ra­­graf ide po­­kok ber­peranan se­bagai pengen­dali (Ramlan, 1993:9). Langkah kedua adalah membuat kalimat dengan ide pokok yang telah ditentukan. Kalimat yang dimaksud disebut ka­limat to­pik. Is­­tilah lain untuk kalimat topik itu adalah ka­limat tum­­puan (Pa­­­rera, 1982:14) dan kalimat utama (Liang Gie, 1992:75; Soe­dji­to dan Hasan, 1986:12). Langkah ketiga adalah mengembangkan kalimat to­pik men­­­ja­di paragraf.
Sebuah paragraf harus mempunyai maksud atau arti sambung-menyambung antara topik atau gagasan suatu kalimat dengan kalimat pengembangnya, dan itu baru bisa dinamakan kalimat yang baik. Jadi, sebuah paragraf yang baik mengandung kalimat topik dan ka­limat pengembang yang berhubungan satu sama lain. Didalam kalimat biasanya topik kalimat terletak diawal kalimat (paragraf deduktif), adapun itu bukan menjadi sebuah acuan atau syarat pokok dari sebuah paragraf karena ada juga kalimat yang topik kalimatnya terletak ditengah dan diakhir kalimat (paragraf induktif). Terkait dengan cara penyusunan paragraf, sebenar­nya tidak ada aturan mutlak yang mengikat (Liang Gie, 2002:69).
Hubungan antarkalimat dalam paragraf harus bersifat me­nya­tu. Si­­fat menyatu ini dapat terbentuk manakala penafsiran kalimat yang satu bergantung pada kalimat yang lain. Kalimat yang satu mempra­ang­gap­kan atau dipra­anggapkan kalimat yang lain. Kesa­tu­an itu dapat di­­ben­tuk dengan unsur-unsur kebahasaan yang berfungsi menghu­bung­kan kalimat-ka­li­mat di dalam paragraf. Unsur-unsur ke­baha­saan itu disebut pe­nanda hubungan. Istilah teknis untuk penan­da hu­bungan itu ialah kohe­si. Kohesi ini berbeda dengan ko­herensi. Ko­hesi me­ru­juk ke perpaut­an bentuk, sedangkan kohe­ren­si pa­da per­pautan makna (Al­­­wi dkk. 1993:43).

No comments:

Post a Comment