PARAGRAF DALAM KARANGAN
A. Pengertian Paragraf
Iatilah lain untuk paragraf adalah alinea. Paragraf adalah bagian terkecil karangan yang terdiri atas kalimat-kalimat. Namun, yang perlu diperhatikan adalah tidak setiap kumpulan kalimat pasti merupakan paragraf
Berkebalikan halnya dengan contoh (29) berikut ini.
(29) (a) Dalam kehidupan sehari-hari, manusia akan bergaul dengan sesamanya. (b) Dalam kedudukannya sebagai karyawan suatu instansi, ia akan bergaul dengan karyawan yang lain dan dengan pimpinannya. (c) Dalam kedudukannya sebagai anggota masyarakat, ia akan bergaul dengan tetangganya, dengan ketua RT-nya, dengan ketua RW-nya, dengan kepala desanya, dan seterusnya. (d) Dalam kedudukannya sebagai anggota suatu keluarga, ia akan bergaul dengan saudara-saudaranya dan dengan kedua orang tuanya. (e) Demikian pula, dalam rangka menjamin lancarnya suatu pemerintahan, suatu instansi atau suatu departemen akan berkomunikasi dengan departemen yang lain karena kedua belah pihak saling memerlukan. (f) Dalam dunia bisnis dan dunia ekonomi terjadi peristiwa yang sama. (g) Berbagai perusahaan akan saling mengisi dan saling memesan barang yang diproduksi perusahaan lain, dan sebagainya.
Contoh (29) tersebut merupakan paragraf karena kalimat-kalimat pembentuknya, yaitu kalimat (a)-(g) berhubungan satu sama lain untuk mendukung satu ide pokok. Ide pokok yang dimaksud adalah pergaulan antarmanusia yang tertuang dalam kalimat
B. Syarat Paragraf yang Baik
Bagian terkecil karangan yang terdiri atas kalimat-kalimat dapat disebut paragraf yang baik apabila memenuhi persyaratan paragraf. Persyaratannya adalah hanya mengandung satu ide pokok, ada kepaduan (cohesion) dan kesatuan (coherence) antarkalimat pembentuknya, dan berunsur kalimat topik dan kalimat pengembang. Keempat syarat itu bersifat saling melengkapi.
Paragraf yang baik hanya mengandung satu ide pokok. Oleh karena itu, bila dalam satu paragraf terdapat lebih dari satu ide pokok, paragraf itu bukan merupakan paragraf yang baik, dan untuk menjadi paragraf yang baik, paragraf itu harus dipecah ke dalam beberapa paragraf. Perhatikanlah contoh yang berikut.
Suatu paragraf dinyatakan padu (cohesive) bila kalimat-kalimat pembentuknya berhubungan satu sama lain. Sifat padu itu dapat ditampakkan dengan cara menyusun kalimat-kalimat dalam paragraf ke dalam satu urutan yang logis dan menyusun kalimat-kalimat dalam paragraf yang mempunyai urutan pola dan kaidah kebahasaan yang teratur (Parera, 1982:17).
Paragraf (34) yang terdiri atas empat kalimat, yaitu kalimat (a)-(d), itu bersifat padu. Kalimat (a) berisi “paragraf sebagai satuan informasi”. Satuan informasi itu dijabarkan lebih terinci pada kalimat (b)-(c). Paragraf tersebut kemudian ditutup dengan kalimat (d) yang sesungguhnya merupakan penegasan dari kalimat (a)-(c).
Syarat lain untuk paragraf yang baik adalah memiliki kalimat topik dan kalimat pengembang. Kalimat topik adalah kalimat yang berisi ide pokok, sedangkan kalimat pengembang adalah kalimat-kalimat yang berisi rincian ide pokok yang terbentang dalam kalimat topik. Perhatikanlah contoh yang berikut.
(36) Indonesia pernah mengalami sejumlah kemajuan dalam bidang ekonomi walaupun masih ada beberapa masalah di sana-sini, di antaranya adalah masalah kemiskinan, masalah pengangguran, dan masalah ledakan penduduk.
C. Cara Penyusunan Paragraf
Bagaimanakah paragraf yang baik dapat disusun? Paragraf yang baik disusun dengan melewati tiga langkah. Langkah pertama adalah menentukan ide pokok. Ide pokok itu dapat pula disebut pikiran pokok atau gagasan utama. Penentuan ide pokok itu dilakukan pada langkah pertama karena dalam penyusunan paragraf ide pokok berperanan sebagai pengendali (Ramlan, 1993:9). Ide pokok itu dapat diambil contoh “kartun”.
Langkah kedua adalah membuat kalimat dengan ide pokok yang telah ditentukan. Kalimat yang dimaksud disebut kalimat topik. Istilah lain untuk kalimat topik itu adalah kalimat tumpuan (Parera, 1982:14) dan kalimat utama (Liang Gie, 1992:75; Soedjito dan Hasan, 1986:12). Kalimat topik itu dijadikan tumpuan dalam penyusunan paragraf. Dengan ide pokok “kartun”, misalnya, dapat disusun kalimat topik Kartun adalah gambar interpretatif yang simbolis mengenai sikap orang, situasi, atau kejadian tertentu.
Langkah ketiga adalah mengembangkan kalimat topik menjadi paragraf. Caranya adalah dengan menyusun kalimat lain yang isinya berhubungan dengan, mendukung, menguraikan, dan atau menjelaskan ide pokok yang tertuang dalam kalimat topik. Kalimat lain itu berfungsi sebagai pengembang atau penjelas kalimat topik. Kalimat yang berfungsi sebagai pengembang atau penjelas kalimat topik itu dapat disebut kalimat pengembang atau kalimat penjelas.
Dalam kenyataannya, ada banyak pola pengembangan kalimat topik menjadi paragraf. Salah satu di antaranya adalah dengan kalimat topik (a) Kartun adalah gambar interpretatif yang simbolis mengenai sikap orang, situasi, atau kejadian tertentu yang ditempatkan pada awal paragraf, misalnya, dapat disusun kalimat-kalimat pengembang dengan mengulang ide pokok “kartun” menjadi (b) Kartun sering digunakan untuk menyampaikan pesan secara cepat dan ringkas kepada masyarakat sebab kartun mempunyai kemampuan yang sangat besar untuk menarik perhatian dan mempengaruhi sikap atau perilaku, (c) Kartun biasanya menonjolkan isi pesan serta karakter yang mudah dikenal dan dimengerti, bukan pada detailnya, sehingga biasanya berbentuk sangat sederhana, dan (d) Meskipun sederhana, kartun yang baik dan mengena akan berkesan dalam ingatan dalam jangka waktu lama, sehingga terbentuk paragraf berikut.
(38) (a) Kartun adalah gambar interpretatif yang simbolis mengenai sikap orang, situasi, atau kejadian tertentu. (b) Kartun sering digunakan untuk menyampaikan pesan secara cepat dan ringkas kepada masyarakat sebab kartun mempunyai kemampuan yang sangat besar untuk menarik perhatian dan mempengaruhi sikap atau perilaku, (c) Kartun biasanya menonjolkan isi pesan serta karakter yang mudah dikenal dan dimengerti, bukan pada detailnya, sehingga biasanya berbentuk sangat sederhana. (d) Meskipun sederhana, kartun yang baik dan mengena akan berkesan dalam ingatan dalam jangka waktu lama.
Paragraf dapat disusun dengan memperhatikan kemungkinan penempatan kalimat topik. Paragraf dapat disusun dengan cara meletakkan kalimat topik pada awal paragraf. Penyusunan paragraf dengan cara ini disebut penyusunan secara deduktif sehingga paragrafnya pun disebut paragraf deduktif. Jadi, bentuk susunan paragraf deduktif ini adalah kalimat topik diikuti oleh kalimat(-kalimat) pengembang. Contohnya sebagai berikut.
(40) (a) Hutang Amerika Serikat sekarang ini berjumlah sekitar empat trilyun dolar. (b) Bunga hutang yang harus dibayarnya tiap tahunnya melampaui anggaran militernya, bahkan mencapai rekor dalam senjata AS, yakni sekitar 270 milyar dolar. (c) Hutang AS sekarang ini lebih besar dari hutang tahun 1980 ketika Presiden Ronald Reagan memangku jabatannya. (d) Ini menjadi tugas Bill Cinton sekarang untuk memperkecil hutang tersebut.
Contoh (40) tersebut merupakan paragraf yang disusun dengan menempatkan kalimat topik pada awal paragraf, yaitu pada kalimat (a), diikuti oleh kalimat(-kalimat) pengembang. Kalimat topik pada paragraf (40) adalah Hutang Amerika Serikat sekarang ini berjumlah sekitar 4 trilyun dolar. Sementara itu, kalimat (b), (c), dan (d) untuk paragraf (40), merupakan kalimat pengembang.
Paragraf dapat disusun dengan cara menempatkan kalimat topik pada akhir paragraf. Paragraf yang disusun dengan cara seperti itu dinamai paragraf induktif. Bentuk susunan paragraf induktif ini adalah kalimat(-kalimat) pengembang ditempatkan mendahului kalimat topik. Contohnya sebagai berikut.
(41) (a) Para ilmuwan sosial, dengan berbagai teori mereka, tidak kurang merupakan ikatan-budaya manusia lain. (b) Sistem pendidikan Barat memberi kita semua cara-cara menginterpretasikan pengalaman. (c) Berbagai asumsi implisit mengenai dunia muncul dalam berbagai teori dari setiap disiplin akademik, kritik sastra, ilmu alam, sejarah, dan semua ilmu sosial. (d) Etnografi sendiri berupaya untuk mendokumentasikan berbagai realitas alternatif dan mendeskripsikan realitas itu dalam batasan realitas itu sendiri. (e) Dengan demikian, etnografi dapat berfungsi korektif terhadap teori-teori yang muncul dalam ilmu sosial Barat.
Contoh (41) tersebut merupakan paragraf yang disusun dengan cara meletakkan kalimat topik pada akhir paragraf. Kalimat topik kedua paragraf tersebut adalah kalimat (e), sedangkan kalimat-kalimat lainnya, yaitu kalimat (a)-(d), merupakan kalimat pengembang.
Paragraf dapat pula disusun dengan cara menempatkan kalimat topik di awal dan diulang pada akhir paragraf. Dalam hal ini, ide pokok yang diletakkan pada awal paragraf biasanya berisi pernyataan yang bersifat umum, sedangkan yang terletak di akhir paragraf sebenarnya merupakan ulangan dari ide pokok yang terletak pada bagian awal paragraf (Ramlan, 1993:6). Kalimat topik ulangan itu tentu saja tidak harus sama persis dengan kalimat topik yang diletakkan pada awal paragraf. Kalimat topik ulangan itu boleh diubah bentuk kata-katanya, susunan kalimatnya, tetapi ide pokok tetap sama (Soedjito dan Hasan, 1986:14). Paragraf yang kalimat topiknya terletak di awal dan akhir paragraf itu biasanya disebut paragraf campuran. Contohnya sebagai berikut.
(43) (a) Sebuah karangan tidak mungkin baik jika paragrafnya tidak tersusun dengan baik. (b) Paragraf merupakan satuan terkecil sebuah karangan. (c) Isinya membentuk satuan pikiran sebagai bagian dari pesan yang disampaikan oleh penulis dalam karangannya. (d) Paragraf yang tidak jelas susunannya akan menyulitkan pembaca untuk menangkap pikiran penulis. (e) Oleh sebab itu, sebuah karangan tidak akan baik jika paragrafnya tidak disusun dengan baik.
Contoh (43) tersebut merupakan paragraf yang disusun dengan cara mengulang kalimat topik, yaitu kalimat (a) dan (e). Kalimat (e) merupakan ulangan dari kalimat (a). Ulangan itu dimaksudkan untuk memberi tekanan pada pikiran atau ide pokok yang tertuang dalam kalimat (a).
Ada pula paragraf yang disusun dengan cara menempatkan kalimat topiknya seperti dalam contoh (45) berikut ini.
(45) (a) Kesadaran masyarakat untuk menyertifikatkan tanah pada masa sekarang cukup tinggi. (b) Hal ini dibuktikan dari jumlah permohonan sertifikat ke kantor pertahanan yang meningkat pada setiap bulannya. (c) Dengan demikian, masyarakat mulai mengerti pentingnya sertifikat tanah. (d) Pemilik tanah hanya mempunyai hak sepenuhnya yang berkekuatan hukum kalau tanah yang dimilikinya sudah bersertifikat. (e) Kalau belum bersertifikat, pemilik tanah belum sepenuhnya dijamin hak kepemilikannya.
Paragraf (45) tersebut disusun dengan meletakkan kalimat topik di tengah paragraf. Kalimat topik dalam paragraf (45), kalimat (c), yaitu Dengan demikian, masyarakat mulai mengerti pentingnya sertifikat tanah, merupakan kalimat topik, sedangkan kalimat (a) dan (b) serta kalimat (d) dan (e) merupakan kalimat pengembang. Paragraf yang kalimat topiknya ada di tengah paragraf itu disebut paragraf tengah (lih. Liang Gie dan Widyamartaya, 1983:17).
Terkait dengan cara penyusunan paragraf, sebenarnya tidak ada aturan mutlak yang mengikat (Liang Gie, 2002:69).
D. Pola Pengembangan Paragraf
Sebuah paragraf yang baik mengandung kalimat topik dan kalimat pengembang yang berhubungan satu sama lain. Hubungan itu menyangkut sesuatu yang diungkapkan dalam kalimat pengembang. Maksudnya, sesuatu yang diungkapkan dalam kalimat pengembang senantiasa berhubungan dengan dan tidak boleh terlepas dari ide pokok yang diketengahkan dalam kalimat topik. Wujud sesuatu dalam kalimat pengembang itu ada bermacam-macam sehingga lahirlah bermacam- macam pola pengembangan paragraf. Paragraf itu antara lain dapat dikembangkan dengan pola contoh, alasan, perbandingan, perlawanan, dan definisi.
Sesuatu yang diungkapkan dalam kalimat pengembang dapat berupa “contoh”. Contohnya sebagai berikut.
(45) (a) Khusus untuk jenis mainan yang memerlukan gerak tubuh yang leluasa dan banyak hingga memerlukan ruangan yang luas, dengan sendirinya yang paling dulu harus dipertimbangkan adalah kondisi rumah dan sekitarnya apakah cukup memenuhi syarat. (b) Mainan seperti itu, misalnya, adalah bola, layang-layang, sepeda, mobil- mobilan untuk dikendarai, raket dan cock untuk bermain bulutangkis, dan sebagainya.
Contoh (45) tersebut merupakan paragraf yang terdiri atas dua kalimat, yaitu kalimat (a) dan (b). Kalimat (a) merupakan kalimat topik, sedangkan kalimat (b) merupakan kalimat pengembang. Sesuatu yang disampaikan dalam kalimat (b) itu adalah “contoh” untuk ide pokok yang dituangkan dalam kalimat (a).
Sesuatu yang diungkapkan dalam kalimat pengembang dapat pula berupa “alasan”. Contohnya sebagai berikut.
(47) (a) Sering kali, untuk memainkan suatu mainan anak masih memerlukan bantuan orang tua. (b) Alasannya adalah anak memang belum tahu bagaimana caranya memperoleh kegembiraan semaksimal mungkin dari mainan barunya.
Paragraf (47) tersebut terdiri atas dua kalimat, yaitu kalimat (a) dan kalimat (b). Kalimat (a) adalah kalimat topik, sedangkan kalimat (b) merupakan kalimat pengembang. Kalimat pengembang teersebut berisi “alasan” untuk ide pokok yang diungkapkan dalam kalimat topik.
Alasan yang tertuang dalam kalimat pengembang dapat merupakan “akibat” dari ide pokok dalam kalimat topik. Amatilah contoh berikut.
(48) (a) Sebelum awal abad XX, banyak kritikus mengakui bahwa struktur plot yang rapi, yang diajukan oleh Aristoteles dan pengikutnya, tidak dapat dikenakan pada novel. (b) Akibatnya, meskipun tetap relevan untuk cerita pendek, pembicaraan tentang struktur menjadi berkurang.
Kalimat topik dalam paragraf (48) tersebut adalah kalimat (a), sedangkan kalimat (b) merupakan kalimat pengembang. Kalimat (b) merupakan akibat dari ide pokok yang dinyatakan dalam kalimat (a) sehingga antara kalimat topik dan kalimat pengembang tersebut terbentuk hubungan “sebab-akibat”. Sebaliknya, pada contoh berikut ini, kalimat pengembang, yaitu kalimat (b), merupakan “sebab” dari ide dalam kalimat topik, yaitu kalimat (a).
(49) (a) Saran dan kritik yang ditujukan untuk memperbaiki usaha penyempurnaan program Applied Approach ini akan kami terima dengan senang hati. (b) Hal ini karena usaha penyempurnaan program itu baru merupakan satu langkah dari langkah-langkah yang harus dilalui dalam peningkatan kualitas dosen di perguruan tinggi.
Kalimat pengembang dapat pula berupa “perbandingan” dari ide pokok yang dituangkan dalam kalimat topik. Contohnya sebagai berikut.
(50) (a) Perbedaan antara eksposisi dan argumentasi terletak pada tujuan masing-masing. (b) Eksposisi hanya berusaha untuk menjelaskan atau menerangkan suatu pokok persoalan, sedangkan argumentasi berusaha untuk membuktikan kebenaran dari suatu pokok persoalan. (c) Dalam eksposisi, penulis menyerahkan keputusannya kepada pembaca, sedangkan dalam argumentasi penulis ingin mengubah pandangan pembaca.
Ide pokok dalam contoh (50) tersebut adalah ‘perbedaan tujuan antara eksposisi dan argumentasi’. Ide pokok itu diungkapkan dalam kalimat topik, yaitu kalimat (a). Perbedaan tujuan itu kemudian dibandingkan dalam kalimat, yaitu dalam kalimat (b) dan (c).
Yang disajikan dalam kalimat pengembang dimungkinkan berupa “definisi” dari sesuatu yang diungkapkan dalam kalimat topik. Contohnya sebagai berikut.
(52) (a) Istilah argumentasi diserap dari bahasa Inggris argumentation. (b) Istilah terakhir itu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi ‘bahasan’ atau ‘ulasan’. (c) Argumentasi berarti ‘pemberian alasan untuk memperkuat atau menolak suatu pendapat, pendirian, atan gagasan’. (d) Jadi, suatu karangan disebut argumentasi apabila dalam karangan itu dikemukakan alasan, contoh, atau bukti yang kuat dan meyakinkan untuk mendukung atau menolak suatu pendapat, pendirian, atau gagasan.
Contoh (52) tersebut merupakan paragraf yang dikembangkan dengan pola definisi. Kalimat (a) berfungsi sebagai kalimat topik yang berisi istilah “argumentasi”, sedangkan kalimat (b)-(d) merupakan kalimat pengembang yang berisi definisi dari istilah argumentasi yang dimuat dalam kalimat (a).
E. Cara Membentuk Kesatuan Hubungan Antarkalimat dalam Paragraf
Hubungan antarkalimat dalam paragraf harus bersifat menyatu. Sifat menyatu ini dapat terbentuk manakala penafsiran kalimat yang satu bergantung pada kalimat yang lain. Kalimat yang satu mempraanggapkan atau dipraanggapkan kalimat yang lain. Kesatuan itu dapat dibentuk dengan unsur-unsur kebahasaan yang berfungsi menghubungkan kalimat-kalimat di dalam paragraf. Unsur-unsur kebahasaan itu disebut penanda hubungan. Istilah teknis untuk penanda hubungan itu ialah kohesi. Kohesi ini berbeda dengan koherensi. Kohesi merujuk ke perpautan bentuk, sedangkan koherensi pada perpautan makna (Alwi dkk. 1993:43).
Fungsi penanda hubungan adalah untuk menyatukan hubungan antara kalimat yang satu dengan kalimat yang lain dalam suatu paragraf (Ramlan,1993:12). Penanda hubungan itu dapat berwujud penunjukan, penggantian, penghilangan, penghubung, dan pengulangan.
Penunjukan adalah penanda hubungan antar kalimat yang berupa kata tunjuk. Penunjukan itu terbagi atas dua jenis, yaitu penunjukan ke depan, yaitu menunjuk kalimat sebelumnya, dan ke belakang, yaitu menunjuk kalimat berikutnya. Penunjukan itu misalnya kata itu yang menunjuk eksperimen Stern dalam contoh berikut.
(53) (a) Eksperimen Stern jelas memberikan sumbangan yang penting bagi perkembangan ilmu fisika. (b) Tetapi, upaya itu sendiri memperlihatkan sifat penting lainnya dalam mengkaji eksperimen yang seringkali tidak terumuskan secara lengkap ketika peralatan itu mula- mula dikembangkan.
Paragraf (53) tersebut berunsurkan dua kalimat, yaitu kalimat (a) dan (b). Paragraf tersebut bersifat menyatu. Kesatuan itu ditunjukkan lewat penggunaan kata tunjuk itu pada kalimat (b).
KATA PENGHUBUNG DALAM PARAGRAF
Hubungan Makna
|
Kata Penghubung dalam Paragraf
|
1. Penjumlahan
|
selain itu, di samping itu, kecuali itu
|
2. Perlawanan
|
namun, akan tetapi, sebaliknya, namun demikian, namun begitu, walaupun demikian, walaupun begitu, meskipun demikian, meskipun begitu, sekalipun demikian, sekalipun begitu, biarpun demikian, biarpun begitu, kendati(pun) demikian, kendati(pun) begitu, sungguhpun demikian, sungguhpun begitu, padahal
|
3. Penyebaban
|
oleh karena itu, oleh sebab itu, maka dari itu, sebabnya
|
4. Pengakibatan
|
Akibatnya
|
5. Cara
|
dengan demikian, dengan begitu
|
6. Penyimpulan
|
jadi, pendek kata, pendeknya, pokoknya
|
7. Waktu
|
sementara itu, ketika itu, (pada) waktu itu, sebelum itu, sehabis itu, sesudah itu, setelah itu, sejak itu, semenjak itu, selanjutnya, akhirnya
|
8. Pelebihan
|
tambahan lagi, tambahan pula, bahkan, malahan, apalagi
|
Pengulangan adalah penanda hubungan antarkalimat yang berupa penyebutan kembali unsur tertentu yang telah disebut pada kalimat sebelumnya. Contohnya adalah kata pendidikan yang diulang-ulang berikut ini.
(43) (a) Pendidikan seringkali dijelaskan melalui sudut pandang masing-masing orang. (b) Ahli sosiologi akan mengartikan pendidikan sebagai usaha pewarisan dari generasi ke generasi. (b) Pakar antroplogi mengartikan pendidikan sebagai usaha pemindahan pengetahuan dan nilai-nilai kepada generasi berikutnya. (c) Ahli ekonomi akan mengartikan pendidikan sebagai suatu usaha penanaman modal sumber daya manusia untuk membentuk tenaga kerja dalam pembangunan bangsa. (d) Penjelasan pendidikan yang beraneka ragam berdasarkan sudut pandang yang khusus dari masing-masing ilmu tersebut disebut sebagai penjelasan yang fragmented and disconnected.
ULASAN:
Paragraf adalah alinea. Paragraf adalah bagian terkecil karangan yang terdiri atas kalimat-kalimat. Bisa dinamakan paragraf karena kalimat-kalimat pembentuknya, yaitu kalimat (a)-(g) berhubungan satu sama lain untuk mendukung satu ide pokok. Untuk bisa disebut paragraf mempunyai beberapa syarat. Persyaratannya adalah hanya mengandung satu ide pokok, ada kepaduan (cohesion) dan kesatuan (coherence) antarkalimat pembentuknya, dan berunsur kalimat topik dan kalimat pengembang. Kemudian ada beberapa cara penyusunan paragraf antara lain. Langkah pertama adalah menentukan ide pokok. Ide pokok itu dapat pula disebut pikiran pokok atau gagasan utama. Penentuan ide pokok itu dilakukan pada langkah pertama karena dalam penyusunan paragraf ide pokok berperanan sebagai pengendali (Ramlan, 1993:9). Langkah kedua adalah membuat kalimat dengan ide pokok yang telah ditentukan. Kalimat yang dimaksud disebut kalimat topik. Istilah lain untuk kalimat topik itu adalah kalimat tumpuan (Parera, 1982:14) dan kalimat utama (Liang Gie, 1992:75; Soedjito dan Hasan, 1986:12). Langkah ketiga adalah mengembangkan kalimat topik menjadi paragraf.
Sebuah paragraf harus mempunyai maksud atau arti sambung-menyambung antara topik atau gagasan suatu kalimat dengan kalimat pengembangnya, dan itu baru bisa dinamakan kalimat yang baik. Jadi, sebuah paragraf yang baik mengandung kalimat topik dan kalimat pengembang yang berhubungan satu sama lain. Didalam kalimat biasanya topik kalimat terletak diawal kalimat (paragraf deduktif), adapun itu bukan menjadi sebuah acuan atau syarat pokok dari sebuah paragraf karena ada juga kalimat yang topik kalimatnya terletak ditengah dan diakhir kalimat (paragraf induktif). Terkait dengan cara penyusunan paragraf, sebenarnya tidak ada aturan mutlak yang mengikat (Liang Gie, 2002:69).
Hubungan antarkalimat dalam paragraf harus bersifat menyatu. Sifat menyatu ini dapat terbentuk manakala penafsiran kalimat yang satu bergantung pada kalimat yang lain. Kalimat yang satu mempraanggapkan atau dipraanggapkan kalimat yang lain. Kesatuan itu dapat dibentuk dengan unsur-unsur kebahasaan yang berfungsi menghubungkan kalimat-kalimat di dalam paragraf. Unsur-unsur kebahasaan itu disebut penanda hubungan. Istilah teknis untuk penanda hubungan itu ialah kohesi. Kohesi ini berbeda dengan koherensi. Kohesi merujuk ke perpautan bentuk, sedangkan koherensi pada perpautan makna (Alwi dkk. 1993:43).
No comments:
Post a Comment