Thursday, 17 November 2011

PROSES REPRODUKSI MANUSIA NENURUT AL-QUR’AN DAN SAINS (Kajian Surat al –Mu’minun Ayat 12-14 dan Surat al-Isra’ Ayat 70)


PROSES REPRODUKSI
MANUSIA NENURUT AL-QUR’AN DAN SAINS
(Kajian Surat al –Mu’minun Ayat 12-14 dan Surat al-Isra’ Ayat 70)

Artikel ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Tafsir
Dosen Pengampu : Dr. H. Muhammad Anis, M.A.




­
Disusun Oleh :


Abdul Latif                 09470101





JURUSAN KEPENDIDIKAN ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNUVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2011
PENDAHULUAN

Salah satu karakteristik Islam yang membedakan dengan yang lainnya adalah penekanannya terhadap sains. Al-Qur’an dan al-Sunnah mengajak kaum muslimin untuk mencari dan mendapatkan ilmu dan kearifan, serta menempatkan orang-orang yang berpengatahuan pada derajat yang tinggi[1]. Allah SWT juga menyuruh umat manusia untuk menyelidiki dan merenungkan penciptaan langit, bumi, gunung-gunung, bintang-bintang, tumbuh-tumbuhan, benih, binatang, pergantian siang dan malam, manusia, hujan dan berbagai ciptaan lainnya. Dengan mencermati semua ini, manusia akan semakin menyadari cita seni ciptaan Allah SWT di dunia sekelilingnya, dan pada akhirnya dapat mengenali Penciptanya, yang telah menciptakan seluruh alam semesta beserta segala isinya dari ketiadaan.
Sains menawarkan cara untuk menemukan cita rasa seni ciptaan Allah SWT, yaitu dengan mengamati alam semesta beserta seluruh makhluk di dalamnya, dan menyampaikan hasilnya kepada umat manusia. Oleh karena itu agama mendorong sains untuk menjadikannya alat mempelajari keagungan ciptaan Allah SWT. Sains yang diikuti oleh para ilmuwan materialis yang tidak mampu melihat kebenaran, terutama dalam dua ratus tahun terakhir, ternyata telah menimbulkan pemborosan waktu, kesia-siaan banyak riset dan penghamburan jutaan dolar tanpa hasil apa-apa.
Ada satu fakta yang harus disadari benar: sains dapat mencapai hasil yang dapat diandalkan hanya jika tujuan utamanya adalah penyelidikan tanda-tanda penciptaan di alam semesta, dan bekerja keras semata-mata untuk mencapai tujuan ini. Sains dapat mencapai tujuan akhirnya dalam waktu sesingkat mungkin hanya bila ia tunjukan kearah yang benar, dengan kata lain jika dipandu dengan benar[2].
Perlu disadari benar bahwa, Allah SWT adalah Tuhan yang tidak takut dengan akal manusia. Artinya, bahwa sebenarnya Allah SWT mengajak umat Islam untuk berfikir lebih jauh mengenai segala ciptaan-Nya dan menegaskan bahwa, tidak ada yang tercipta secara kebetulan dan bukan pula tercipta sekaligus yang tanpa melalui proses penalaran manusia, melainkan melalui beberapa fase atau tahapan (proses).
Misalnya, mengenai proses penciptaan manusia; sebelum ditemukannya fakta ilmiah mengenai tulang dan otot, banyak orang yang berpendapat bahwa, tulang dan otot dalam embrio terbentuk secara bersamaan, padahal tidak. Hal ini telah diinformasikan al-Qur’an empat belas abad yang lalu dan akhirnya para pakar embriologi sepakat bahwa, tulang-tulang terbentuk lebih dahulu, kemudian membentuklah otot yang membungkus tulang-tulang itu. Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa, agama (Islam) dan sains selalu sejalan.
Oleh karena itu, inilah yang melatar belakangi mengapa perlu dikaji lebih dalam mengenai proses reproduksi manusia. Kemudian timbul pertanyaan, bagaiman proses reproduksi manusia menurut al-Qur’an dan sains? Dan potensi apa yang diberikan Allah SWT untuk manusia? Apakah antara agama (Islam) dan sains sudah sejalan dalam hal ini atau mungkin sebaliknya?
























A.    Proses Reproduksi Manusia Menurut al-Qur’an
Banyak sekali ayat-ayat al-Qur’an yang menjelaskan mengenai asal-usul manusia. Manusia bukan jenis makhluk Allah SWT yang tercipta secara kebetulan dan bukan pula tercipta sekaligus, melainkan tercipta dalam beberapa fase atau tahapan (proses). Mengenai asal-usul bagaimana manusia itu diciptakan dapat diklasifikasikan menjadi dua sudut pandang, yaitu:
a.      Produksi: hanya berlaku bagi proses penciptaan Adam dan Hawa, yakni asal-usul penciptaan manusia pertama kali.
b.     Reproduksi: aspek asal manusia dari segi keturunan kedua sejoli manusia tersebut (Adam dan Hawa), disebut pula sebagai aspek pembiakan selanjutnya.
Dalam uraian berikut bertolak dari sudut pandang kedua, yakni asal-usul keturunan dua sejoli; Adam dan Hawa[3].
Dari sudut pandang reproduksi, manusia berkembang secara bertahap. Tahapan-tahapan tersebut kemudian dijelaskan oleh beberapa surat dalam al-Qur’an, diantaranya adalah suarat al-Mu’minun ayat 12-14:
(12)وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ مِنْ سُلالَةٍ مِنْ طِينٍ
(13)ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ
ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ
(14)
Artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu sari pati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan sari pati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kukuh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, pencipta yang paling baik[4]” (QS. Al-Mu’minun: 12-14).
B.    Proses Reproduksi Manusia Dari Spermazoa
Setelah diuraikan beberapa kosa kata yang ada di dalam al-Qur’an mengenai reproduksi manusia menurut al-Qur’an dengan menggunakan pisaunya Ibnu Katsir, maka timbul pertanyaan, bagaimana sains memandang proses ini?
Setetes mani sebelum proses fertilisasi (pembuahan) terjadi, 250 juta sperma terpancar dari laki-laki pada satu waktu  dan menuju sel telur wanita yang jumlahnya hanya satu dari setiap siklusnya. Sperma melakukan perjalanan yang sulit di tubuh wanita sampai menuju sel telur wanita, Hal ini dikarenakan saluran reproduksi wanita yang berbelok-belok, kadar keasaman yang tidak sesuai dengan sperma, gerakan menyapu dari dalam saluran reproduksi wanita dan juga gaya gravitasi yang berlawanan.
Kemudian, hanya seribu dari 250 juta sperma yang berhasil mencapai sel telur wanita. Sel telur wanita hanya akan membolehkan masuk satu sperma saja. Setelah masuk dan terjadi fertilisasi pun belum tentu zigot (dalam biologi namanya konseptus) menempel di tempat yang tepat pada rahim[5].
Jika dicermati pada uraian di atas, maka bahan manusia bukan air mani seluruhnya, melainkan hanya sebagian kecil darinya (spermazoa). Hal ini ditegaskan dalam al-Qur’an surat al-Qiyamah ayat 36-37.
(36)أَيَحْسَبُ الإنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى
(37)أَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِنْ مَنِيٍّ يُمْنَى
 Artinya: “Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)? Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim)[6]” (QS. al-Qiyamah: 36-37).

C.    Gumpalan Daging Yang Melekat Pada Rahim
Jika kita terus mempelajari fakta-fakta yang telah diinformasikan al-Qur’an empat belas abad yang silam; mengenai proses reproduksi manusia, maka kita akan menjumpai keajaiban ilmiah yang sungguh penting. Misalnya, ketika sperma pria bergabung dengan sel telur wanita, maka inti sari bayi yang akan lahir itu terbentuk. sel tunggal yang dikenal sebagai “zigot” dalam ilmu biologi ini akan segera berkembang biak dengan membelah diri hingga akhirnya menjadi “segumpal daging”. Tentu saja, hal ini hanya dapat dilihat oleh manusia dengan bantuan mikroskop.
Namun, zigot tersebut tidak melewatkan tahap pertumbuhannya begitu saja. Ia melekat pada dinding rahim seperti akar yang kokoh menancap di bumi dengan serabutnya. Melalui hubungan ini, zigot mampu mendapatkan zat-zat penting dari sang ibu bagi pertumbuhannya[7]. Pada tahap ini, satu keajaiban penting dari al-Qur’an terungkap. Ketika merujuk pada zigot yang sedang tumbuh dalam rahim ibu, Allah SWT menggunakan kata “’alaq” dalam al-Qur’an:
 (1)اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
(2)خَلَقَ الإنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ
 (3)اقْرَأْ وَرَبُّكَ الأكْرَمُ

Artinya: “Bacalah dengan menyebut nama Tuhan-mu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhan-mulah Yang Maha Pemurah[8]” (QS. al-‘Alaq: 1-3).

Arti kata “’alaq” dalam bahasa Arab adalah “sesuatu yang menempel pada suatu tempat”. Kata ini secara harfiah digunakan untuk menggambarkan lintah yang menempel pada tubuh untuk menghisap darah[9]. Tentunya, penggunaan kata yang demikian tepat untuk zigot yang sedang tumbuh dalam rahim ibu, membuktikan bahwa al-Qur’an merupakan wahyu dari Allah SWT; Tuhan Semesta Alam.

D.    Otot Yang Membungkus Tulang
Aspek lain tentang informasi yang disebutkan dalam ayat-ayat al-Qur’an adalah tahap-tahap pembentukan manusia dalam rahim ibu. Disebutkan dalam ayat tersebut bahwa dalam rahim ibu, tulang-tulang terbentuk lebih dahulu, kemudian terbentuklah otot yang membungkus tulang-tukang tersebut. Misalnya, dalam al-Qur’an surat al-Mu’minun ayat 14:
ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ
(14)
Artinya: ”Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan di makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, pencipta yang paling baik” (QS. Al-Mu’minun: 14).

Embriologi adalah cabang ilmu yang mempelajari perkembangan embrio dalam rahim ibu. Hingga akhir-akhir ini, para ahli embrio beranggapan bahwa, tulang dan otot dalam embrio terbentuk secara bersamaan. Karenanya, sejak lama, banyak orang yang menyatakan bahwa, ayat ini bertentangan atau tidak sejalan dengan sains. Namun, penelitian canggih yang dengan mikroskop yang dilakukan dengan bantuan teknologi baru telah mengungkap bahwa, pernyataan al-Qur’an adalah benar.
Penelitian di tingkat mikrokopis ini menunjukan bahwa, perkembangan dalam rahim ibu terjadi dengan cara persis seperti yang digambarkan dalam ayat tersebut. Pertama, jaringan tulang rawan embrio mulai mengeras. Kemudian sel-sel otot yang terpilih dari jaringan di sekitar tulang-tulang bergabung dan membungkus tulang-tulang tersebut. Peristiwa ini digambarkan dalam sebuah terbitan ilmiah yang berjudul Developing Human yang dikutip oleh Harun Yahya dengan kalimat berikut:
Dalam minggu ketujuh, rangka mulai tersebar ke seluruh tubuh dan tulang-tulang mencapai bentuk uang kita kenal. Pada akhir minggu ketujuh dan selama minggu kedelapan, otot-otot menempati posisinya di sekeliling bentukan tulang.

E.    Tiga Fase Perkembangan Bayi Dalam Rahim
Dalam al-Qur’an surat al-Zumar ayat 6 menyebutkan bahwa, proses reproduksi manusia melalui tiga fase atau tahapan.


خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَأَنْزَلَ لَكُمْ مِنَ الأنْعَامِ ثَمَانِيَةَ أَزْوَاجٍ يَخْلُقُكُمْ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ خَلْقًا مِنْ بَعْدِ خَلْقٍ فِي ظُلُمَاتٍ ثَلاثٍ ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ فَأَنَّى تُصْرَفُونَ
(6)

Artinya: “…Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan...[10]” (QS. Al-Zumar: 6).

Ayat di atas menunjukan bahwa, seorang manusia diciptakan dalam tubuh ibunya melalui tiga tahapan yang berbeda. Benar sekali, ilmu biologi modern telah mengungkapkan bahwa, pembentukan embrio pada terjadi pada tiga daerah yang berbeda dalam rahim ibu.
Dewasa ini, di semua buku pelajaran embriologi yang dipakai fakultas-fakultas kedokteran, hal ini dijadikan sebagai pengetahuan dasar. Misalnya, dalam buku Basic Human Embryologi yang dikutip oleh Harun Yahya; sebuah buku refrensi utama dalam bidang embriologi. Fakta tersebut menyebutkan bahwa, kehidupan dalam rahim memiliki tiga tahapan, yaitu: pertama, pre-embrionik selama dua setengah minggu pertama. Kedua, embrionik hingga akhir minggu kedelapan. Ketiga, fetus atau janin dari minggu kedelapan sampai kelahiran. Adapu fase-fase tersebut dapat diuraikan sebagai beikut[11]:
a.     Fase Pre-embrionik
Pada fase pertama, zigot tumbuh membesar melalui pembuahan sel, dan terbentuklah segumpalan sel yang kemudian membenamkan diri pada dinding rahim. Seiring pertumbuhan zigot yang semakin besar, sel-sel penyusunnya pun mengatur diri sendiri guna membentuk tiga lapisan.



b.     Fase Embrionik
Fase kedua ini berlangsung selama lima setengah minggu. Pada masa ini, bayi disebut sebagai ”embrio”. Pada fase ini organ dan sistem tubuh bayi mulai terbentuk dari lapisan-lapisan sel tersebut.
c.      Fase Fetus Atau Janin
Dimulai dari fase ini dan seterusnya, bayi disebut sebagai fetus atau janin. Fase ini dimulai sejak kehamilan minggu kedelapan hingga masa kelahiran. Ciri khusus fase ini adalah bahwa fetus atau janin sudah menyerupai manusia, dengan wajah, kedua tangan dan kakinya. Meskipun pada awalnya hanya memilik panjang 3 cm, kesemua organnya sudah jelas. Fase ini berlangsung kurang lebih 30 minggu, dan perkembangan berlanjut hingga minggu kelahiran.
Informasi mengenai perkembangan bayi dalam rahim ibu, baru didapatkan setelah serangkaian pengamatan dengan peralatan modern. Namun, sebagaimana fakta ilmiah lainnya, informasi ini disampaaikan dalam ayat-ayat al-Qur’an dengan cara yang luar biasa. Fakta bahwa, informasi yang begitu terperinci dan akurat diberikan dalam al-Qur’an pada saat bidang kedokteran masih primitif. Hai ini merupakan bahwa, al-Qur’an bukanlah ucapan manusia, melainkan firman Allah SWT.

F.     Potensi  Dasar Manusia
Jika diurut dari awal, kita semua lahir dalam keadaan sebagai pemenang (the winner); artinya bahwa kita semua memiliki potensi yang sangat tinggi. Dari sekian ribu sel sperma yang ingin menjadi manusia tetapi akhirnya kitalah yang terpilih, karena itu sangat pantas disebut sebagai pemenang[12].
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ (70)وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلا
Artinya: ”Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang lebih sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan[13]” (QS. Al-Isra’: 70).

Jika dipahami lebih jauh dengan disiplin ilmu gramatika Arab mengenai penggunaan lam ibtida’ (bermakna taukid) dan ”qad” yang masuk pada fiil madhi (bermakna tahqiq) bahwa, pernyataan pemuliaan manusia oleh Allah SWT itu memang sangat-sangat dimuliakan, artinya pemuliaan ini tidak mungkin dilontarkan Allah SWT kepada setiap makhluknya. Pemuliaan yang diberikan Allah SWT kepada manusia diantaranya dengan diberikannya rupa dan bentuk organ tubuh yang terakomodir sehingga ketika dipandang itu sangat mempesona dari pada makhluk Allah SWT yang lain. Kemudian dengan diberikannya kekuasaan di muka bumi, artinya bahwa makhluk Allah SWT yang bernama manusia itu ditugaskan untuk menjadi khalifah di muka bumi yang disertai tanggung jawab. Tanggung jawab bagaimana manusia bisa melayani sesama dan alam dengan pantas, tanpa membuat kerusakan dan eksploitasi di muka bumi yang disebabkan oleh ulah tangannya. Melihat konteks ini, maka maka manusia diberikan Allah SWT dua tanggung jawab, yaitu tanggung jawab sebagai hamba (ibadat vertikal) dan tanggung jawab sebagai khalifah di muka bumi (ibadat horizontal).
Begitu besarnya upaya Allah SWT dalam memuliakan manusia. Dia menyediakan daratan dan lautan hanya untuk manusia agar dapat mencari penghidupan secara layak dan pantas karena Allah SWT telah memberikan rezeki yang baik-baik untuk manusia, tinggal bagaimana manusia tersebut apakah ia akan mencari rezeki dengan cara yang halal atau sebaliknya. Tentunya, hal tersebut dibutuhkan ilmu dan ketrampilan, tanpa itu kedua hal itu adalah nonsens.
 Adapun nikmat Allah SWT yang paling besar setelah itu semua bagi manusia adalah diberikannya akal, indera dan perasaan untuk membedakan antara sesuatu yang haq dengan sesuatu yang bathil karena ini tidak dimiliki makhluk Allah SWT selain manusia. Maka dari itu sudah menjadi suatu keharusan bagi manusia untuk bersyukur kepada Allah SWT atas apa yang telah diberikan-Nya dengan cara melayani sesama dan alam dengan layak dan pantas, tanpa membuat kerusakan dan eksploitasi yang disebabkan oleh ulahnya sendiri.





PENUTUP

Empat belas abad yang silam al-Qur’an diturunkan; suatu kitab yang merupakan wahyu Tuhan yang di dalamnya terdapat informasi tentang sains. Padahal waktu al-Qur’an diturunkan kondisi sosial masyarakat dapat dikatakan masih primitif tentang sains. Misalnya, tentang kajian dalam bidang embriologi mengenai apakah tulang dan otot dalam embrio secara bersamaan atau tidak? Pertanyaan ini pun baru terjawab pada abad kedua puluh setelah diadakan penelitian canggih dengan mikroskop yang dilakukan dengan bantuan teknologi baru. Padahal hal ini telah diinformasikan oleh al-Qur’an jauh sebelum teknologi menjadi berkembang sangat pesat dan canggih.
Adapun mengenai proses reproduksi manusia yang diinformasikan al-Qur’an dan kemudian dibuktikan oleh sains melalui fakta-fakta ilmiah, yaitu
  1. Spermazoa
  2. Gumpalan darah
  3. Gumpalan daging
  4. Tulang
  5. Otot
Kemudian mengenai tahapan atau fase bayi dalam rahim ibu, yaitu:
  1. Fase Pre-embrionik
  2. Fase Embrionik
  3. Fase Fetus atau janin
Setelah manusia dilahirkan di muka bumi, Allah SWT memuliakannya. Upaya pemuliaan Allah SWT kepada manusia dapat dilihat mulai dari rupa dan bentuk organ manusia yang sangat mempesona dari pada makhluk-Nya yang lain. Mejadikannya khalifah di muka bumi agar mampu melayani sesama dan alam secara pantas, tanpa membuat kerusakan dan eksploitasi. Kemudian endingnya adalah pemberian yang berupa akal, indera dan perasaan untuk membedakan sesuatu yang haq dan bathil karena itu merupakan pemberian yang sangat fundamental untuk membedakan antara manusia dan makhluk lainnya. Kerena itu, bersyukur kepada Allah SWT merupakan harga mati bagi mereka yang berhasrat memikirkan ini semua; dengan cara ibadat kepada-Nya (ibadat vertikal) dan mampu melayani sesama dan alam dengan layak dan pantas (ibadat horizontal).
Oleh karena itu, inilah potensi yang diberikan Allah SWT kepada manusia, maka sangat naif bagi mereka yang berasumsi tidak memiliki potensi. Karena sama saja ini melawan fitrah manusia yang diberikan oleh-Nya.

DAFTAR PUSTAKA

Katsir, Abil Fida Ismail bin Umar bin, 2005, Tafsir al-Qur’an al-‘Adhim Jilid 3 Juz 5. Riyadh: Dar Thoyyibah lil Nasyri wat Tanzi’.

Nawawy, Muhammad al-Jawy, tt, Marakhu Lubayhi Tafsiri al-Nawawy Juz 1. Semarang: Toha Putera.

Yahya, Harun, 2007, al-Qur’an dan Sains; Memahami Metodologi Bimbingan al-Qur’an bagi Sains. Bandung: Dzikra.

Departemen Agama RI, 2005, al-Qur’an dan Terjemahnya. Bandung: J-ART.

Yunus, Mahmud, 1990, Kamus Arab-Indonesia.Jakarta: PR. Hidakarya Agung.

Artikel Internet, Ahliana Afifati, Proses Penciptaan Manusia Menurut Islam dan Iptek. www.al-hayaatwordpress.com. Dalam Google. 2009.


Soebahar, Abd. Halim, 2002, Wawasan Baru Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia.

Ghulsyani, Mahdi, 1993, Filsafat-Sains Menurut al-Qur’an. Bandung: Penerbit Mizan.

Ubaedy, AN, 2006, Menyingkirkan Belenggu Diri; You Can Do More, You Can Be More and You Can Have More. Jakarta: Khalifa.



[1] Mahdi Ghulsyani, Filsafat-Sains Menurut al-Qur’an, (Bandung: Penerbit Mizan, 1993) hlm.39.
[2] Harun Yahya, al-Qur’an dan Sains; Memahami Metodologi Bimbingan al-Qur’an bagi Sains, (Bandung: Dzikra, 2007) hlm. 2.
[3] Abd. Halim Soebahar, Wawasan Baru Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2002) hlm.36.
[4] Departemen Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung: J-ART, 2005) hlm. 343.
[5] Artikel Internet. Ahliana Afifati, Proses Penciptaan Manusia Menurut Islam dan Iptek. www.al-hayaatwordpress.com. Dalam Google. 2009.
[6] Departemen Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung: J-ART, 2005) hlm. 579.
[7] Harun Yahya, al-Qur’an dan Sains; Memahami Metodologi Bimbingan al-Qur’an bagi Sains, (Bandung: Dzikra, 2007) hlm. 106.
[8] Departemen Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung: J-ART, 2005) hlm. 598.
[9] Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia, (Jakarta: PR. Hidakarya Agung, 1990) hlm. 277.
[10] Departemen Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung: J-ART, 2005) hlm. 460.
[11] Harun Yahya, al-Qur’an dan Sains; Memahami Metodologi Bimbingan al-Qur’an bagi Sains, (Bandung: Dzikra, 2007) hlm. 108-109.


[12] AN. Ubaedy, Menyingkirkan Belenggu Diri; You Can Do More, You Can Be More and You Can Have More, (Jakarta: Khalifa, 2006) hlm. ix.
[13] Departemen Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung: J-ART, 2005) hlm. 290.

No comments:

Post a Comment