Monday, 9 January 2012

KEPEMIMPINAN SEKOLAH TRANSFORMATIF


KEPEMIMPINAN SEKOLAH TRANSFORMATIF

Judul Buku      : Kepemimpinan Sekolah Transformatif
Penulis            : Dr. Raihani
Cetakan           : Juni 2011
Penertbit         : LKiS Yogyakarta
Tebal Buku     : 358 halaman; 14,5 x 21 cm

A.    Resensi
Berbicara mengenai pendidikan di Indonesia tidak bisa lepas dari yang namanya sejarah pendidikan itu sendiri, artinya pendidikan di Indonesia mengalami perubahan yang dramatis dan radikal dalam berbagai aspek yang mana khususnya sejak reformasi politik tahun 1998. Pertama, pada aspek manajemen, perubahan tersebut dimulai dengan terbitnya Undang – Undang Otonomi Daerah (Otda) No. 22 Tahun 1999. Dari Undang – Undang tersebut muncullah gagasan yang berbasis masyarakat atau community based education yang kemudian dienjewantahkan lebih jauh dalam level sekolah dengan program Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang kemudian melahirkan salah satu elemen yang disebut dengan Komite Sekolah. Adapun MBS  itu sendiri memberikan kewenangan dan tanggung jawab lebih besar untuk mengelola aspek –aspek pendidikan, termasuk keuangan, kepegawaian dan tenaga pengajar kurikulum dan sebagainya. Adapun perkembang posotif atas gagasan tersebut bisa dilihat dari beberapa hal, diantaranya: keikutsertaan masyarakat dalam proses pendidikan, pemahaman dan pengetahuan akan peran masing – masing stakeholder pendidikan dan peningkatan kualitas pembelajaran dan hasil  belajar siswa.
Kedua, pada aspek program pendidikan dan pengajaran atau kurikulum, upaya yang dilakukan untuk meningkatkan proses dan produk pengembangan kurikulum dilakukan dan ditandai dengan terbitnya Kurikulum 2004 yang berbasis pendekatan kompetensi yang mana merupakan cikal – bakal dari Kurikulum Tingkatan Satuan Pendidikan (KTSP) yang secara resmi dipergunakan di sekolah – sekolah tahun 2006. Secara konseptual, kurikulum baru ini menggunakan pendekatan yang lebih humanis, berorientasi pada siswa (student-oriented) dan berbasis pada kompetensi – kompetensi yang ingin dicapai. Tantangan yang sering dijumpai ketika konsep ini akan dilaksanakan di lapangan adalah sumber daya manusia, budaya serta sarana dan prasarana. Selain faktor darai dalam, tantangan datangnya dari luar juga diantaranya pendidikan global. Perkembangan pengetahuan dan teknologi dunia juga gerakan marketisasi pendidikan menambah berat tantangan dunia pendidikan Indonesia.

RESUME SURAT AL-BAQARAH 31, AT-TAUBAH 122, AN-NAHL 125, AL-IMRAN 137, AL-AHZAB 21 DAN AL-IMRAN 159


RESUME TUGAS MAKALAH KE-7, 8 DAN 9
(SURAT AL-BAQARAH 31, AT-TAUBAH 122, AN-NAHL 125, AL-IMRAN 137, AL-AHZAB 21 DAN AL-IMRAN 159.)

A.    Surat al-Baqarah ayat 31 dan at-Taubah ayat 122
1.     Surat al-Baqarah ayat 31
وَ عَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلاَئِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُوْنِيْ بِأَسْمَاءِ هَؤُلاَءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِيْنَ
Dan telah diajarkanNya kepada Adam nama-nama semuanya, kemudian Dia kemukakan semua kepada Malaikat, lalu Dia berfirman : Beritakanlah kepadaKu nama-nama itu semua, jika adalah kamu makhluk-makhluk yang benar.
وَ عَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا
"Dan telah diajarkanNya kepada Adam nama-namanya semuanya. " (pangkal ayat 31).
Artinya diberilah oleh Allah kepada Adam itu semua ilmu:


ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلاَئِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُوْنِيْ بِأَسْمَاءِ هَؤُلاَءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِيْنَ

“Kemudian Dia kemukakan semuanya kepada Malaikat. lalu Dia berfirman : Beritakanlah kepadaKu nama-nama itu semua, jika adalah kamu makhluk­makhluk yang benar.'-“
Sesudah Adam dijadikan, kepadanya telah diajarkan oleh Tuhan nama-nama yang dapat dicapai oleh kekuatan manusia, baik dengan pancaindra ataupun dengan akal semata-mata, semuanya diajarkan kepadanya.
Kemudian 'I'uhan panggillah Malaikat-malaikat itu dan Tuhan tanyakan adakah mereka tahu nama-nama itu ? Jika benar pendapat mereka selama ini bahwa jika khalifah itu terjadi akan timbul bahaya kerusakan dan pertumpahan darah, sekarang cobalah jawab pertanyaan Tuhan : Dapatkah mereka menunjukkan nama-nama itu?
Di ayat berikutnya nampak penjawaban Malaikat yang mengakui kekurangan mereka.Tidak ada pada mereka pengetahuan, kecuali apa yang diajarkan Tuhan juga. Mereka memohon ampun dan karunia., menjunjung kesucian Allah bahwasanya pengetahuan mereka tidak lebih daripada apa yang diajarkan juga, lain tidak. Yang mengetahui akan semua hanya Allah. Yang bijaksana membagi-bagikan ilmu kepada barangsiapa yang Dia kehendaki, hanyalah Dia juga.
Dari ayat ini menginformasikan bahwa manusia dianugrahi potensi oleh Allah untuk mengetahui nama-nama atau fungsi karakteristik benda-benda dan untuk selalu mengembangkan potensi yang telah dimilikinya. Adapun untuk mengembangkan potensi ialah dengan cara belajar. Di dalam ayat ini pula terlihatbahwa aktifitas pertama dan utama adalah proses belajar mengajar yang mana Allah menempatkan diri-Nya sebagai Guru dan Adam sebagai murid-Nya. Allah mengajarkan kepada Nabi Adam berupa nama-nama benda beserta sifat-sifatnya yang ada di bumi, namun Allah mengajarkan tidak secara keseluruhan melainkan hanya sebatas kunci karena dengan itu manusia akan selalu berkembang atas potensi yang dimilikinya.
2.     Surat an-Nahl ayat 122
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”
Dari ayat di atas dijelaskan bahwa oaring-orang Mukmin tidak dituntut supaya seluruhnya berangkat menyertai setiap utusan perang dan menuju kemedan perjuangan, melainkan sebagian saja dikarenakan anjuran untuk pergi ke medan peperangan merupakan fardhu kifayah, yang artinya jika itu telah dilaksanakan oleh sebagaian orang maka gugurlah yang lain. Adapun yang tidak pergi perang melainkan dianjurkan untuk menuntut ilmu agama maupun yang lainnya yang mana suapaya dapat memahami ilmu agama baik itu yang sifatnya wahyu maupun hadits Nabi secara mendalam. Di samping itu, bagi mereka yang tidak inkut ke medan perang juga dapat membantu para pejuang yang pulang setelah berperang untuk memulihkan psikologi dari para pejuang yang secara tidak langsung pasti mendapatkan tekanan jiwa dan bahkan trauma setelah mengikuti peperangan.
B.    Surat An-nahl Ayat 125 dan Al-imran Ayat 137
1.     Surat An-nahl Ayat 125
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”
           
Gunakanlah metode terbaik di dalam berdakwah dan berdebat, yaitu berdakwah dengan cara terbaik, itulah kewajibanmu. Adapun pemberian petunjuk dan penyesatan, serta pembalasan pada keduanya, diserahkan kepada-NYA semata, bukan kepada selain- NYA. Sebab, Dia lebih mengetahui tentang keadaan orang yang tidak mau meninggalkan kesesatannya karena ikhtiarnya yang buruk, dan tentang orang yang mengikuti petunjuk karena dia mempunyai kesiapan yang baik. Apa yang telah digariskan Allah untukmu di dalam berdakwah, itulah yang dituntut oleh hikmah, dan itu telah cukup untuk memberikan petunjuk kepada orang-orang yang mengikuti petunjuk, serta menghilangkan uzur orang- orang yang sesat.
Maksud ayat di atas adalah, Allah berfirman kepada Nabi Muhammad SAW,”Serulah, wahai Muhammad, orang yang kepada mereka Tuhanmu mengutusmu, untuk mengajaknya menaati Allah.  إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ”Kepada jalan Tuhanmu,” adalah kepada syariat Tuhanmu yang di tetapkan-Nya bagi makhluk-Maksud ayat di atas adalah, Allah berfirman kepada Nabi Muhammad SAW, ”Serulah, wahai Muhammad, orang yang kepada mereka Tuhanmu mengutusmu, untuk mengajaknya menaati Allah dan mengajak meeka ke jalan yang lurus yaitu jalan Allah. إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ “Kepada jalan Tuhanmu,” adalah kepada syariat Tuhanmu yang di tetapkan-Nya bagi makhluk-Nya, yaitu Islam. بِالْحِكْمَةِ dengan hikmah,’ adalah, dengan wahyu allah yang disampaikan-Nya kepadamu, dan dengan kitab-Nya yang di turunkan-Nya kepadamu. وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ dan pelajaran yang baik,” adalah, dengan pelajaran yang baik, yang dijadikan Allah sebagai argument terhadap mereka di dalam kitab-Nya, dan peringatan bagi mereka di dalam wahyu-Nya seperti argument yang di sebutkan Allah kepada mereka dalam surah ini, serta nikmat-nikmat yang diingatkan Allah kepada mereka di dalamnya. Makna بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ  “dan bantahlah mereka dengan cara yang baik” adalah, bantahlah dengan bantahan yang lebih baik dengan selainnya, yaitu pembantahan yang dapat meningkatkan pengetahuan, memaafkan tindakan mereka yang menodai kehormatanmu, dan janganlah menentang Allah dalam menjalankan kewajibanmu untuk menyampaikan risalah Tuhanmu kepada mereka.
2.     Al-imran Ayat 137
قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ سُنَنٌ فَسِيرُوا فِي الأرْضِ فَانْظُروا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ
“Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunah Allah; karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).”
قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ سُنَن bahwa perkara manusia yang mencangkup kehidupan masyarakat dan hal – hal yang terjadi di dalamnya, seperti pertaraungan antara kebenaran dan kebatilan, dan akhibat dari peperangan tersebut, yaitu perperangan, duel, saling menyerang, saling menguasai, adalah berjalan pada rel – rel yang lurus dan kaidah – kaidah yang tetap, sesuai dengan hikmah dan maslahat umum.
Dalam beberapa tempat ayat Al-Qur’an telah disebutkan sunnatu ‘i-lah seperti dalam firmanNya.
قُلْ لِلَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ يَنْتَهُوا يُغْفَرْ لَهُمْ مَا قَدْ سَلَفَ وَإِنْ يَعُودُوا فَقَدْ مَضَتْ سُنَّةُ الأوَّلِينَ
 “Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu "Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi Sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah tenhadap) orang-orang dahulu." (Q.S. Al-Anfal :38).
Dan firmannya sehubungan dengan penuturan dakwah Islam:
وَمَا مَنَعَ النَّاسَ أَنْ يُؤْمِنُوا إِذْ جَاءَهُمُ الْهُدَى وَيَسْتَغْفِرُوا رَبَّهُمْ إِلا أَنْ تَأْتِيَهُمْ سُنَّةُ الأوَّلِينَ أَوْ يَأْتِيَهُمُ الْعَذَابُ قُبُلا
Dan tidak ada sesuatupun yang menghalangi manusia dari beriman, ketika petunjuk Telah datang kepada mereka, dan dari memohon ampun kepada Tuhannya, kecuali (keinginan menanti) datangnya hukum (Allah yang Telah berlalu pada) umat-umat yang dahulu atau datangnya azab atas mereka dengan nyata. ( Q.S. Al-Kahfi : 55)

Yang dimaksud dengan pengertian ayat diatas adalah bahwa kehendak Allah pada makluknya berjalan sesuai dengan sunatullah yang maha bijak sana. Barang siapa berjalan pada sunnah tersebut akan berhasil, sekalipun ia seorang mulhid atau watsani. Dan, siapa yang menyimpang darinya akan rugi meskipun ia seorang nabi atau sidik.
Berdasarkan pengertian ini, tidak mengherankan jika kaum muslimin mengalami kekalahan pada perang uhud, dan kaum musrikin bisa mendekati nabi SAW. Bahwa sempat melukai beliau dan merontokan giginya, serta menjerumuskannya ke dalam lubang.
Orang – orang muslim sejati, sudah seharusnya lebih utama mengetahui sunnah – sunnah tersebut, dan lebih pantas berjalan sesui dengan petunjuk sunah itu. Oleh karena itu, tidak lama kemudian para sahabat nabi SAW. Suatu perang uhud menyadari kekeliruan mereka. Lalu, segera mereka membela diri dan nabi SAW. Sampai kaum musrikin bubar tanpa memperoleh hasil yang mereka harapkan.
C.    Surat al-Ahzab Ayat 21 dan al-Imran Ayat 159
1.     Surat al-Ahzab Ayat 21
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya adalah bagi kamu pada Rasulullah itu teladan yang baik; Bagi barangsiapa yang mengharapkan Allah dan Hari Kemudian dan yang banyak ingat kepada Allah. (Ayat 21)