RESUME TUGAS MAKALAH KE-7, 8 DAN 9
(SURAT AL-BAQARAH 31, AT-TAUBAH 122,
AN-NAHL 125, AL-IMRAN 137, AL-AHZAB 21 DAN AL-IMRAN 159.)
A.
Surat al-Baqarah ayat 31 dan at-Taubah ayat 122
1.
Surat al-Baqarah ayat 31
وَ عَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلاَئِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُوْنِيْ
بِأَسْمَاءِ هَؤُلاَءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِيْنَ
Dan telah diajarkanNya kepada Adam nama-nama
semuanya, kemudian Dia kemukakan semua kepada Malaikat, lalu Dia berfirman :
Beritakanlah kepadaKu nama-nama itu semua, jika adalah kamu makhluk-makhluk
yang benar.
وَ عَلَّمَ آدَمَ
الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا
"Dan telah diajarkanNya
kepada Adam nama-namanya semuanya. " (pangkal ayat 31).
Artinya
diberilah oleh Allah kepada Adam itu semua ilmu:
ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى
الْمَلاَئِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُوْنِيْ بِأَسْمَاءِ هَؤُلاَءِ إِنْ كُنْتُمْ
صَادِقِيْنَ
“Kemudian Dia kemukakan semuanya kepada Malaikat. lalu Dia
berfirman : Beritakanlah kepadaKu nama-nama itu semua, jika adalah kamu makhlukmakhluk
yang benar.'-“
Sesudah Adam dijadikan, kepadanya telah diajarkan oleh Tuhan nama-nama
yang dapat dicapai oleh kekuatan manusia, baik dengan pancaindra ataupun dengan
akal semata-mata, semuanya diajarkan kepadanya.
Kemudian 'I'uhan panggillah Malaikat-malaikat itu dan Tuhan tanyakan
adakah mereka tahu nama-nama itu ? Jika benar pendapat mereka selama ini bahwa
jika khalifah itu terjadi akan timbul bahaya kerusakan dan pertumpahan darah,
sekarang cobalah jawab pertanyaan Tuhan : Dapatkah mereka menunjukkan nama-nama
itu?
Di ayat berikutnya nampak penjawaban Malaikat yang mengakui kekurangan
mereka.Tidak ada pada mereka pengetahuan, kecuali apa yang diajarkan Tuhan
juga. Mereka memohon ampun dan karunia., menjunjung kesucian Allah bahwasanya
pengetahuan mereka tidak lebih daripada apa yang diajarkan juga, lain tidak.
Yang mengetahui akan semua hanya Allah. Yang bijaksana membagi-bagikan ilmu
kepada barangsiapa yang Dia kehendaki, hanyalah Dia juga.
Dari ayat ini menginformasikan bahwa manusia dianugrahi potensi oleh
Allah untuk mengetahui nama-nama atau fungsi karakteristik benda-benda dan
untuk selalu mengembangkan potensi yang telah dimilikinya. Adapun untuk
mengembangkan potensi ialah dengan cara belajar. Di dalam ayat ini pula
terlihatbahwa aktifitas pertama dan utama adalah proses belajar mengajar yang
mana Allah menempatkan diri-Nya sebagai Guru dan Adam sebagai murid-Nya. Allah
mengajarkan kepada Nabi Adam berupa nama-nama benda beserta sifat-sifatnya yang
ada di bumi, namun Allah mengajarkan tidak secara keseluruhan melainkan hanya
sebatas kunci karena dengan itu manusia akan selalu berkembang atas potensi
yang dimilikinya.
2. Surat an-Nahl ayat 122
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ
لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ
لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا
إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
“Tidak sepatutnya bagi
orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak
pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam
pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya
apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga
dirinya.”
Dari
ayat di atas dijelaskan bahwa oaring-orang Mukmin tidak dituntut supaya
seluruhnya berangkat menyertai setiap utusan perang dan menuju kemedan
perjuangan, melainkan sebagian saja dikarenakan anjuran untuk pergi ke medan
peperangan merupakan fardhu kifayah, yang artinya jika itu telah dilaksanakan
oleh sebagaian orang maka gugurlah yang lain. Adapun yang tidak pergi perang
melainkan dianjurkan untuk menuntut ilmu agama maupun yang lainnya yang mana
suapaya dapat memahami ilmu agama baik itu yang sifatnya wahyu maupun hadits Nabi
secara mendalam. Di samping itu, bagi mereka yang tidak inkut ke medan perang
juga dapat membantu para pejuang yang pulang setelah berperang untuk memulihkan
psikologi dari para pejuang yang secara tidak langsung pasti mendapatkan
tekanan jiwa dan bahkan trauma setelah mengikuti peperangan.
B.
Surat
An-nahl Ayat 125 dan Al-imran Ayat 137
1.
Surat
An-nahl Ayat 125
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ
الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ
بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
“Serulah
(manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan
bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih
mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih
mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”
Gunakanlah metode terbaik di dalam berdakwah dan
berdebat, yaitu berdakwah dengan cara terbaik, itulah kewajibanmu. Adapun
pemberian petunjuk dan penyesatan, serta pembalasan pada keduanya, diserahkan
kepada-NYA semata, bukan kepada selain- NYA. Sebab, Dia lebih mengetahui
tentang keadaan orang yang tidak mau meninggalkan kesesatannya karena
ikhtiarnya yang buruk, dan tentang orang yang mengikuti petunjuk karena dia
mempunyai kesiapan yang baik. Apa yang telah digariskan Allah untukmu di dalam
berdakwah, itulah yang dituntut oleh hikmah, dan itu telah cukup untuk
memberikan petunjuk kepada orang-orang yang mengikuti petunjuk, serta
menghilangkan uzur orang- orang yang sesat.
Maksud ayat di atas adalah, Allah berfirman kepada
Nabi Muhammad SAW,”Serulah, wahai Muhammad, orang yang kepada mereka Tuhanmu
mengutusmu, untuk mengajaknya menaati Allah. إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ”Kepada jalan Tuhanmu,” adalah kepada syariat
Tuhanmu yang di tetapkan-Nya bagi makhluk-Maksud ayat di atas adalah, Allah
berfirman kepada Nabi Muhammad SAW, ”Serulah, wahai Muhammad, orang yang kepada
mereka Tuhanmu mengutusmu, untuk mengajaknya menaati Allah dan mengajak meeka
ke jalan yang lurus yaitu jalan Allah. إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ “Kepada jalan
Tuhanmu,” adalah kepada syariat Tuhanmu yang di tetapkan-Nya
bagi makhluk-Nya, yaitu Islam. بِالْحِكْمَةِ ’dengan
hikmah,’ adalah, dengan wahyu allah yang disampaikan-Nya kepadamu, dan
dengan kitab-Nya yang di turunkan-Nya kepadamu. وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ “dan
pelajaran yang baik,” adalah, dengan pelajaran yang baik, yang
dijadikan Allah sebagai argument terhadap mereka di dalam kitab-Nya, dan
peringatan bagi mereka di dalam wahyu-Nya seperti argument yang di sebutkan
Allah kepada mereka dalam surah ini, serta nikmat-nikmat yang diingatkan Allah
kepada mereka di dalamnya. Makna بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ “dan bantahlah mereka
dengan cara yang baik” adalah, bantahlah dengan bantahan
yang lebih baik dengan selainnya, yaitu pembantahan yang dapat meningkatkan
pengetahuan, memaafkan tindakan mereka yang menodai kehormatanmu, dan janganlah
menentang Allah dalam menjalankan kewajibanmu untuk menyampaikan risalah
Tuhanmu kepada mereka.
2.
Al-imran
Ayat 137
قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ سُنَنٌ
فَسِيرُوا فِي الأرْضِ فَانْظُروا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ
“Sesungguhnya telah
berlalu sebelum kamu sunnah-sunah Allah; karena itu berjalanlah kamu di muka
bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan
(rasul-rasul).”
قَدْ
خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ سُنَن bahwa perkara
manusia yang mencangkup kehidupan masyarakat dan hal – hal yang terjadi di
dalamnya, seperti pertaraungan antara kebenaran dan kebatilan, dan akhibat dari
peperangan tersebut, yaitu perperangan, duel, saling menyerang, saling
menguasai, adalah berjalan pada rel – rel yang lurus dan kaidah – kaidah yang
tetap, sesuai dengan hikmah dan maslahat umum.
Dalam beberapa tempat ayat Al-Qur’an telah
disebutkan sunnatu ‘i-lah seperti dalam firmanNya.
قُلْ لِلَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ يَنْتَهُوا يُغْفَرْ
لَهُمْ مَا قَدْ سَلَفَ وَإِنْ يَعُودُوا فَقَدْ مَضَتْ سُنَّةُ الأوَّلِينَ
“Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu
"Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni
mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi
Sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah tenhadap) orang-orang
dahulu." (Q.S. Al-Anfal :38).
Dan
firmannya sehubungan dengan penuturan dakwah Islam:
وَمَا مَنَعَ النَّاسَ أَنْ يُؤْمِنُوا إِذْ جَاءَهُمُ الْهُدَى
وَيَسْتَغْفِرُوا رَبَّهُمْ إِلا أَنْ تَأْتِيَهُمْ سُنَّةُ الأوَّلِينَ أَوْ
يَأْتِيَهُمُ الْعَذَابُ قُبُلا
Dan tidak ada
sesuatupun yang menghalangi manusia dari beriman, ketika petunjuk Telah datang
kepada mereka, dan dari memohon ampun kepada Tuhannya, kecuali (keinginan
menanti) datangnya hukum (Allah yang Telah berlalu pada) umat-umat yang dahulu
atau datangnya azab atas mereka dengan nyata. ( Q.S. Al-Kahfi : 55)
Yang dimaksud dengan pengertian ayat diatas adalah
bahwa kehendak Allah pada makluknya berjalan sesuai dengan sunatullah yang maha
bijak sana. Barang siapa berjalan pada sunnah tersebut akan berhasil, sekalipun
ia seorang mulhid atau watsani. Dan, siapa yang menyimpang
darinya akan rugi meskipun ia seorang nabi atau sidik.
Berdasarkan pengertian ini, tidak mengherankan jika
kaum muslimin mengalami kekalahan pada perang uhud, dan kaum musrikin bisa
mendekati nabi SAW. Bahwa sempat melukai beliau dan merontokan giginya, serta
menjerumuskannya ke dalam lubang.
Orang – orang muslim sejati, sudah seharusnya lebih
utama mengetahui sunnah – sunnah tersebut, dan lebih pantas berjalan sesui
dengan petunjuk sunah itu. Oleh karena itu, tidak lama kemudian para sahabat
nabi SAW. Suatu perang uhud menyadari kekeliruan mereka. Lalu, segera mereka
membela diri dan nabi SAW. Sampai kaum musrikin bubar tanpa memperoleh hasil
yang mereka harapkan.
C. Surat al-Ahzab Ayat 21 dan al-Imran Ayat 159
1.
Surat
al-Ahzab Ayat 21
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ
اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ
وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya adalah bagi
kamu pada Rasulullah itu teladan yang baik; Bagi barangsiapa yang mengharapkan
Allah dan Hari Kemudian dan yang banyak ingat kepada Allah. (Ayat 21)”