Sunday, 6 May 2012

PRINSIP-PRINSIP POKOK METODOLOGI ISLAM


Untuk menghilangkan duaslisme dalam kehidupan, perlu adanya pengetahuan yang diislamisasikan. Dalam hal itu untuk menuangkannya harus kembali kepada disiplin-disiplin di bawah kerangka Isalam, berarti membuat teori-teori, metode, prinsip-prinsip dan tujuan-tujuan tunduk kepadanya:
1.      Keesaan Allah merupakan prinsip dasar dari agama Islam dan setiap sesuatu yang Islamiah. Allah itu sesuatu yang tunggal dan transenden secara mutak, dan secara metafisis dan axiologis tertinggi. Selain itu pula sebagai sumber nilai-nilai kebenaran dan keindahan.
2.      Kesatuan alam semesta; alam semesta tidak dapat dipahami hanya sebatas tata, melainkan lebih dari pada itu, yaitu sebuah keutuhan yang integral karena merupakan karya Penciptaan Tunggal dan aturan dan disain-Nya telah memasuki setiap bagian alam semesta tersebut. Tata kosmis terdiri dari hukum-hukum alam dan itu berlaku di alam semesta dan meresapi setiap bagian atau aspek alam semesta. Semua hukum ini adalah sunan (pola-pola) Allah Ta’ala di dalam penciptaan-Nya terhadap alam semesta. Allah tidak hanya sebagai sumber hukum-hukum dan juga tidak mengundurkan diri ciptaan-Nya tapi Dia tetap menjalankan dan mengontrol kosmos ini dan selama-lamanya hidup dan aktif sebagai bentuk eksistensi-Nya. Jadi, setiap kehidupan sesuatu di dalam kosmos dan setiap peristiwa yang terjadi adalah sesuai dengan perintah-Nya. Selanjutnya, dengan diciptakan-Nya segala sesuatu memiliki sebuah tujuan-tujuan akhir (ends) sebagai sebuah raison d’etre untuk mana sesuatu itu berbakti. Tujuan ini bukan sifatnya final, tetapi selalu tunduk kepada tujuan-tujuan lain di mana ia merupakan nexus final yang hanya bertujuan akhir (ends) di dalam Tuhan. Karena hanya Dialah tujuan akhir yang tertinggi dan yang pasti segala sesuatu akan kembali kepada-Nya. Diciptakannya alam semesta ini merupakan sebuah anugrah dari Tuhan untuk umat manusia sebagai panggung sementara dan juga sebagai ketertundukkannya kepada manusia untuk dikelola atau digunakan secara baik maupun buruk.
3.      Kesatuan kebenaran dan kesatuan pengetahuan; merumuskan, bahwa berdasarkan wahyu kita tidak boleh membuat klaim yang bertentangan dengan realitas, tidak ada kontradiksi, perbedaan atau variasi di antara nalar dan wahyu, merupakan prinsip yang bersifat mutlak, dan tidak ada pengamatan ke dalam hakikat alam semesta yang dapat dipecahkan.

Monday, 30 April 2012

"Andai Aku Jadi Pengusaha Sukses"


“Andai Aku Jadi Pengusaha Sukses”
Sebelum berbicara mengenai kewirausahaan, setidaknya perlu diketahui arti dari wirausaha itu sendiri. Kewirausahaan terdiri dari kata "wira" : sendiri, disiplin, dan bertanggung jawab. Sedangkan "usaha" : aktivitas yang dilakukan berdasarkan pengetahuan, kemampuan dan kreativitas. Kewirausahaan adalah kemampuan kreatif dan inovatif yang dijadikan dasar, kiat dan sumber daya untuk mencapai peluang menuju sukses. Adapun menurut Drucker (1959), wirausaha yaitu kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru yang berbeda dari yang lain melalui pemikiran kreatif dan inovatif sehingga menciptakan peluang atau lapangan pekerjaan.
Proses kewirausahaan diawali dengan adanya aksioma yaitu adanya tantangan. Dari tantangan tersebut munculah gagasan, dan dorongan berinisiatif, yang tidak lain adalah berfikir kreatif dan inovatif. Setiap tantangan pasti memiliki resiko baik itu berhasil maupun tidak berhasil. Di sisi lain tantangan menjadi wirausaha tidak hanya bersifat personal, melainkan juga bersifat sosial.
Tantangan yang pertama, yaitu masih sedikitnya entrepreneur atau pengusaha di Indonesia jika dibandingkan negara-negara lain khususnya di Asia, seperti India, Malaysia dan yang lainnya. Idealnya, jika dikatakan oleh David McClelland, bahwa suatu bangsa atau negara bisa disebut makmur bila jumlah entreprenuer atau pengusaha paling sedikit 2 persen dari total jumlah penduduknya. Adapun jumlah pengusaha atau entrepreneur di Indonesia pada tahun 2009 baru 0,18% dari total penduduk Indonesia. Artinya baru sekitar 450.000 (data majalah Kesra-Menko Kesra menyebutkan 400.000 orang) penduduk Indonesia yang membuka usaha sendiri dan tidak tergantung bekerja pada pemerintah atau orang lain. Dari data statistik tersebut menandakan, bahwa masih sangat jauh dari kata ideal suatu bangsa atau negara. Oleh karena itu, setidaknya Indonesia dibutuhkan lebih dari 4 juta wirausahawan untuk membangun sektor perekonomian masa depan yang tangguh.
Tantangan yang kedua, sebagian besar lulusan perguruan tinggi atau sarjana masih berorientasi mencari pekerjaan, terutama menjadi pegawai negeri sipil. Ditambah lagi para pencari kerja dari strata pendidikan lainnya yang sama-sama mencari kerja. Akibatnya, semakin banyak tingkat pengangguran, terutama pengannguran terdidik. Selain itu, para terdidik masih berparadigma, bahwa seorang yang mempunyai gelar haruslah bekerja di kantoran atau di posisi nyaman, sehingga enggan berprofesi dalam bidang yang bertolok belakang dari paradigma mereka. Akibatnya lagi-lagi pengangguran semakin menumpuk. Maka dari itu, tidak salah jika ada yang berpendapat, sekolah tinggi tidak menjamin pekerjaan dan bahkan seorang yang tidak berpendidikan tinggi dapat lebih sukses jika dibandingkan dengan yang berpendidikan tinggi. Dari sekian permasalahan yang menyangkut mengenai pendidikan kita, tidak lain disebabkan pendidikan kita yang anti realita antara teori yang diajarkan dalam pendidikan dengan realita dalam masyarakat.
Ketidaksesuaian atau ketidakrealitanya pendidikan kita (Indonesia) dapat dilihat dari masih banyaknya para sarjana atau para kaum terdidik yang tidak terserap oleh dunia kerja. Hal itu dikarenakan masih sedikitnya lapangan pekerjaan yang tersedia. Selain itu, teori-teori yang diajarkan dalam pendidikan bersifat statis, yang mana berbanding lurus dengan realita sosial masyarakat yang dinamis. Akibatnya, ketika sarjana-sarjana atau para terdidik di turunkan ke masyarakat, mereka sangatlah terkejut bahkan sampai hilangnya idealis dan menjadikan mereka down.
Kemudian ketidakmampuan dan ketidaksesuaian pendidikan kita antara teori dan realita sosial yang ada dapat dilihat dari kurangnya keseriusan dalam pendayagunaan secara maksimal pada bidang pertanian dan perkebunan. Padahal Indonesia notabenenya merupakan negara yang begitu kaya akan sumber daya alamnya, dan negara yang agraris. Namun, dengan melimpah ruahnya SDA, ternyata kita belum mampu mengelolanya secara baik demi kemakmuran bersama.
Dari sekian banyaknya permasalahan yang sangat komleks, maka seandainya “saya menjadi wirausahawan sukses” di luar pulau Jawa dan khususnya pulau Sumatera, ada beberapa hal yang akan saya lakukan. Pertama, memerdekakan orang tua dari yang namanya bekerja ataupun sejenisnya. Kedua, akan membuat lapangan pekerjaan yang sekiranya dapat mengurangi pengangguran, dengan cara salah satunya mengajak sahabat-sahabat yang bisa dikatakan kurang beruntung dalam hidupnya atau dengan kata lain tidak mampu mengenyam pendidikan lebih tinggi. Di sisi lain, akan memberikan pembelajaran atau pengarahan untuk bagaimana supaya para kariyawan atau pekerja untuk dapat mandiri atau mengembangkan usahanya sendiri. Dengan kemandirian itu sekiranya akan menimbulkan efek domino yang positif, karena pada prinsipnya seorang pengusaha bisa dikatakan suksek yaitu bagaimana ia mampu mengsukseskan orang lain, bahkan melebihi dari dirinya sendiri.
Ketiga, membuat atau memiliki lembaga pendidikan yang kompeten yang khususnya diperuntukkan bagi mereka yang kurang mampu. Di dalam pendidikan itu nantinya juga akan dikembangkannya jiwa-jiwa kewirausahaan, di situ peserta didik diajarkan untuk bagaimana kreatif, inovatis dan produktif sehingga dapat menghasilkan karya. Dari hasil karyanya akan dipasarkan, kemudian hasil tersebut akan dikembalikan ke lembaga sekolah sebagai biaya oprasinal pendidikan.
Keempat, akan memberikan tempat usaha atau lapangan pekerjaan untuk organisasi sebagai penghasilan dalam rangka menunjang produktifitas dalam pengkaderan. Dengan seperti itu setidaknya jika organisasi mengadakan acara atau kegiatan yang membutuhkan dana bisa mengambil dari hasil usaha tersebut. Di sisi lain, hasil dari usaha tersebut akan diberikan kepada pengurus organisasi sebagai bentuk apresiasi dan sebagai dorongan untuk berorganisasi lebih maksimal sehingga akan lebih produktif dalam bekerja.
Kelima, ingin menjadi pemimpin baik itu di daerah seperti kabupaten maupun di tingkat yang lebih tinggi. Pertanyaannya, kenapa harus menjadi pengusaha terlebih dahulu? Karena bagiku untuk menjadi pemimpin yang tidak korup, yang kemudian mendedikasikan sebagai pemimpin yang benar-benar sebuah pengapdian secara totalitas, salah satunya cara yaitu haruslah kaya atau memiliki finansial yang cukup. Meskipun cara ini tidak sepenuhnya benar atau cara satu-satunya untuk menjadi pemimpin yang tidak korup, tapi setidaknya bisa masuk akal. Selain itu pada dasarnya untuk menjadi seorang pemimpin bukan cara untuk memperkaya diri, melainkan memang bentuk sebuah pengabdian dalam masyarakat.
Bagi saya berwirausaha tidak semata-mata untuk kepentingan dunia bisnis ataupun kekayaan pribadi, melainkan bagaimana dapat menciptakan lapangan pekerjaan dan merubah mindset seseorang khususnya mahasiswa atau sarjana yang masih berpandangan jika sudah sarjana harus menjadi pegawai negeri. Kemudian, orang yang sukses adalah orang itu mampu menyukseskan orang lain, bahkan lebih sukses dari sendiri. Dengan kata lain, bukan seberapa harta yang dapat kita kumpulkan, melainkan sebarapa banyak orang yang sukses karena kita. Secara tidak langsung, jika orang lain sukses maka kita pun akan lebih sukses.

Tapi ingat boy,..!!!!!
Bukan seberapa besar mimpi Anda, melainkan seberapa besar Anda untuk mimpi itu”.




By: Sang Pemimpi.

Saturday, 14 April 2012

KONSEP PESERTA DIDIK


KONSEP PESERTA DIDIK

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Pembahasan
Peserta didik secara etimologi adalah anak didik yang mendapat pengajaran ilmu. Secara terminologi peserta didik adalah anak didik atau individu yang mengalami perubahan, perkembangan sehingga masih memerlukan bimbingan dan arahan dalam membentuk kepribadian serta sebagai bagian dari struktural proses pendidikan. Dengan kata lain peserta didik adalah seorang individu yang tengah mengalami fase perkembangan atau pertumbuhan baik dari segi fisik dan mental maupun fikiran.
Sebagai individu yang tengah mengalami fase perkembangan, tentu peserta didik tersebut masih banyak memerlukan bantuan, bimbingan dan arahan untuk menuju kesempurnaan. Hal ini dapat dicontohkan ketika seorang peserta didik berada pada usia balita seorang selalu banyak mendapat bantuan dari orang tua ataupun saudara yang lebih tua. Dengan demikina dapat di simpulkan bahwa peserta didik merupakan barang mentah (raw material) yang harus diolah dan bentuk sehingga menjadi suatu produk pendidikan.
Berdasarkan hal tersebut secara singkat dapat dikatakan bahwa setiap peserta didik memiliki eksistensi atau kehadiran dalam sebuah lingkungan, seperti halnya sekolah, keluarga, pesantren bahkan dalam lingkungan masyarakat. Dalam proses ini peserta didik akan banyak sekali menerima bantuan yang mungkin tidak disadarinya, sebagai contoh seorang peserta didik mendapatkan buku pelajaran tertentu yang ia beli dari sebuah took buku. Dapat anda bayangkan betapa banyak hal yang telah dilakukan orang lain dalam proses pembuatan dan pendistribusian buku tersebut, mulai dari pengetikan, penyetakan, hingga penjualan.
Dengan diakuinya keberadaan seorang peserta didik dalam konteks kehadiran dan keindividuannya, maka tugas dari seorang pendidik adalah memberikan bantuan, arahan dan bimbingan kepada peserta didik menuju kesempurnaan atau kedewasaannya sesuai dengan kedewasaannya. Dalam konteks ini seorang pendidik harus mengetahuai ciri-ciri dari peserta didik tersebut.
1.      Ciri – ciri peserta didik :
a.       Kelemahan dan ketak berdayaannya
b.      Berkemauan keras untuk berkembang
c.       Ingin menjadi diri sendiri (memperoleh kemampuan).[1]
2.      Kriteria peserta didik :
Syamsul nizar mendeskripsikan beberapa kriteria peserta didik, yaitu :
a.       Peserta didik bukanlah miniatur orang dewasa tetapi memiliki dunianya sendiri
b.      Peserta didik memiliki periodasi perkembangan dan pertumbuhan
c.       Peserta didik adalah makhluk Allah yang memiliki perbedaan individu baik disebabkan oleh faktor bawaan maupun lingkungan dimana ia berada
d.      Peserta didik merupakan dua unsur utama jasmani dan rohani, unsur jasmani memiliki daya fisik, dan unsur rohani memiliki daya akal hati nurani dan nafsu
e.       Peserta didik adalah manusia yang memiliki potensi atau fitrah yang dapat dikembangkan dan berkembang secara dinamis.[2]
Didalam proses pendidikan seorang peserta didik yang berpotensi adalah objek atau tujuan dari sebuah sistem pendidikan yang secara langsung berperan sebagai subjek atau individu yang perlu mendapat pengakuan dari lingkungan sesuai dengan keberadaan individu itu sendiri. Sehingga dengan pengakuan tersebut seorang peserta didik akan mengenal lingkungan dan mampu berkembang dan membentuk kepribadian sesuai dengan lingkungan yang dipilihnya dan mampu mempertanggung jawabkan perbuatannya pada lingkungan tersebut.
B.     Ruang Lingkup Pembahasan
Agar seorang pendidik mampu membentuk peserta didik yang berkepribadian dan dapat mempertanggungjawabkan sikapnya, maka seorang pendidik harus mampu memahami peserta didik beserta segala karakteristiknya. Adapun hal-hal yang harus dipahami dan akan menjadi ruang lingkup pembahasan ini adalah : 1) Pengertian Peserta Didik, 2) Kebutuhan Peserta Didik, 2) Dimensi-dimensi Peserta Didik, 3) Intelegensi Peserta Didik, 4) Etika Peserta Didik.



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Peserta Didik
Dalam pengertian umum, peserta didik adalah setiap orang yang menerima pengaruh dari seseorang atau kelompok orang yang menjalankan kegiatan pendidikan. Sedangkan dalam arti sempit peserta didik adalah (pribadi yang belum dewasa) yang diserahkan kepada tanggung jawab pendidik.[3]
Pengertian peserta didik dalam perspektif pedagogis, manusia diartikan sebagai sejenis makhluk (homo educantum) makhluk yang harus dididik (Madyo Ekosusilo, 1993: 20). Menurut aspek ini manusia di kategorikan sebagai “animal educabile”. peserta didik dipandang sebagai manusia yang memiliki potensi yang bersifat laten, sehingga dibutuhkan binaan dan bimbingan untuk mengatualisasikannya agar ia dapat menjadi manusia susila yang cakap.
Dalam perspektif psikologis, peserta didik adalah individu yang sedang berada dalam proses pertumbuhan dan perkembangan, baik fisik maupun psikis menurut fitrahnya masing-masing (Madyo Ekosusilo, 1993: 20). Sebagai individu yang tengah tumbuh dan berkembang, peserta didik memerlukan bimbingan dan pengarahan yang konsisten menuju ke arah titk optimal kemampuan fitrahnya. Dalam perspektif Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat 4, peserta didik diartikan sebagai anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan dirinya melalui proses pendidikan pada jalur jenjang dan jenis pendidikan tertentu.
Berdasarkan beberapa definisi tentang peserta didik yang disebutkan di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik individu yang memiliki sejumlah karakteristik, diantaranya: 1) Peserta didik adalah individu yang memiliki potensi fisik dan psikis yang khas, sehingga ia meruoakan insane yang unik. 2) Belum memiliki pribadi yang dewasa sehingga masih menjadi tanggung jawab pendidik. 3) Masih menyempurnakan aspek tertentu dasi kedewasaanya. 4) Peserta didik adalah individu yang sedang berkembang. Artinya peserta didik tengah mengalami perubahan-perubahan dalam dirinya secara wajar, baik itu kebutuhan biologis, rohani, sosial, intelegensi, emosi, kemampuan berbicara, perbedaan individu dan sebagainya.
B.     Kebutuhan-Kebutuhan Peserta Didik
Kebutuhan peserta didik adalah sesuatu kebutuhan yang harus didapatkan oleh peserta didik untuk mendapat kedewasaan ilmu. Kebutuhan peserta didik tersebut wajib dipenuhi atau diberikan oleh pendidik kepada peserta didiknya. Menurut buku yang ditulis oleh Ramayulis yang berjudul “Ilmu Pendidikan Islam”, ada delapan kebutuhan peserta didik yang harus dipenuhi, yaitu:
1.      Kebutuhan fisik
Kebutuhan fisik merupakan kebutuhan yang selalu menagalami pertumbuhan yang cukup pesat. Proses pertumbuhan fisik ini dapat diidentifikasi menjadi tiga tahapan:
a.       Peserta didik pada usia 0 – 7 tahun, pada masa ini peserta didik masih mengalami masa kanak-kanak.
b.      Peserta didik pada usia 7 – 14 tahun, pada usia ini biasanya peserta didik tengah mengalami masa sekolah yang didukung dengan peraihan pendidikan formal
c.       Peserta didik pada 14 – 21 tahun, pada masa ini peserta didik mulai mengalami masa pubertas yang akan membawa kepada kedewasaan.[4]
Pada masa perkembangan inilah seorang pendidik perlu memperhatikan perubahan dan perkembangan seorang peserta didik. Selain itu pendidik harus memberikan perhatian, bimbingan, arahan dan lain sebagainya. Karena pada usia ini seorang peserta didik mengalami masa yang penuh dengan pengalaman (terutama pada masa pubertas) yang secara tidak langsung akan membentuk kepribadian peserta didik itu sendiri.
2.      Kebutuhan sosial (lingkaran hidup)
Pada hakekatnya kata sosial selalu dikaitkan dengan lingkungan yang akan dilampaui oleh seorang peserta didik dalam proses pendidikan. Dengan demikian kebutuhan sosial adalah kebutuhan yang berhubungan lansung dengan masyarakat agar peserta didik dapat berinteraksi dan diterima di masyarakat lingkungannya, baik itu teman, orang tua, guru, dan pemimpinya.[5]
Secara singkat dapat disimpulkan bahwa kebutuhan sosial adalah digunakan untuk memberi pengakuan pada seorang peserta didik yang pada hakekatnya adalah seorang individu yang ingin diterima eksistensi atau keberadaannya dalam lingkungan masyarakat.
3.      Kebutuhan untuk mendapatkan status
Suatu kebutuhan seorang peserta didik untuk mendapatkan tempat dalam suatu lingkungan. Hal ini biasanya ditandai dengan adanya perasaan seorang peserta didik merasa untuk dihargai atau dipandang berguna, bahkan dibanggakan di dalam lingkungan masyarakat.
4.      Kebutuhan mandiri
Kebutuhan mandiri merupakan kebutuhan disaat seorang peserta didik telah melewati masa anak dan memasuki masa keremajaan, maka seorang peserta perlu mendapat sikap pendidik yang memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk membentuk kepribadian berdasarkan pengalaman. Hal ini disebabkan karena ketika peserta telah menjadi seorang remaja, dia akan memiliki ambisi atau cita-cita yang mulai ditampakkan dan terfikir oleh peserta didik, inilah yang akan menuntun peserta didik untuk dapat memilih langkah yang dipilihnya.
5.      Kebutuhan untuk berprestasi
Kebutuhan ini merupakan tindak lanjut dari kebutuhan sebelumnya yaitu kebutuhan mendapat status dan kebutuhan mandiri. Kebutuhan ini akan dapat terpenuhi jika kebutuhan sebelumnya terpenuhi, maka secara langsung kebutuhan untuk berprestasi akan terpenuhi pula dikarenakan sudah adanya rasa kepercayaan diri dan kemandirian.
6.      Kebutuhan ingin disayangi dan dicintai
Kebutuhan ini tergolong sangat penting bagi peserta didik, karena kebutuhan ini sangatlah berpengaruh akan pembentukan mental dan prestasi dari seorang peserta didik.
7.      Kebutuhan untuk curhat
Kebutuhan ini merupakan pendekatan seorang pendidik terhadap peserta didik untuk membantu menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada di masa remaja/pubertas.
8.      Kebutuhan untuk memiliki filsafat hidup
Pada hakekatnya seetiap manusia telah memiliki filsafat walaupun terkadang ia tidak menyadarinya. Begitu juga dengan peserta didik ia memiliki ide, keindahan, pemikiran, kehidupan, Tuhan, rasa benar, salah, berani, takut. Perasaan itulah yang dimaksud dengan filsafat hidup yang dimiliki manusia. Filsafat hidup sangat erat kaitannya dengan agama, karena agama lah yang akan membimbing manusia untuk mendapatkan dan mengetahui apa sebenarnya tujuan dari filsafat hidup. Sehingga tidak seorangpun yang tidak membutuhkan agama.
Pendidikan agama disamping memperhatikan kebutuhan-kebutuhan biologis dan psikologis ataupun kebutuhan primer maupun skunder, maka penekanannya adalah pemenuhan kebutuhan anak didik terhadap agama karena ajaran agama yang sudah dihayati, diyakini, dan diamalkan oleh anak didik, akan dapat mewarnai seluruh aspek kehidupannya.[6] Allah SWT, berfirman dalam surat Saba’ 34:6 yang artinya “Dan orang-orang yang diberi ilmu (ahli Kitab) berpendapat bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu Itulah yang benar dan menunjuki (manusia) kepada jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.”

C.    Dimensi-Dimensi Peserta Didik
Pada hakekatnya dimensi adalah salah satu media yang dibutuhkan oleh peserta didik untuk membentuk diri, sikap, mental, sosial, budaya, dan kepribadian di masa yang akan datang (kedewasaan). Widodo Supriyono, dalam bukunya yang berjudul Filsafat manusia dalam Islam, secara garis besar membagi dimensi menjadi dua, yaitu dimensi fisik dan rohani. Dalam bukunya ia menyatakan bahwa secara rohani manusia mempunyai potensi kerohanian yang tak terhingga banyaknya. Potensi-potensi tersebut nampak dalam bentuk memahami sesuatu (Ulil Albab), dapat berfikir atau merenung, memepergunakan akal, dapat beriman, bertaqwa, mengingat, atau mengambil pelajaran, mendengar firman Tuhan, dapat berilmu, berkesenian, dapat menguasai tekhnologi tepat guna dan terakhir manusia lahir keduania dengan membawa fitrah.[7]
Adapun dalam sub bab ini setidaknya akan membahas 7 dimensi peserta didik, diantaranya: dimensi fisik, dimensi akal, dimensi keberagamaannya, dimensi akhlak, dimensi rohani, dimensi seni, dan dimensi sosial.


1.      Dimensi fisik (Jasmani)
Fisik manusia terdiri dari dua unsur, yaitu unsur biotik dan unsur abaiotik. Manusia sebagai peserta didik memiliki proses penciptaan yang sama dengan makhluk lain seperti hewan. Namun yang membedakan adalah manusia lebih sempurna dari hewan, hal ini dikarenakan manuasia memiliki nafsu yang dibentengi oleh akal sedangkan hewan hanya memiliki nafsu dan insthink bukannya akal.
2.      Dimensi Akal
Ramayulis dalam bukunya ia mengambil pendapat al – Ishfahami yang membagi akal menjadi dua macam yaitu :
a.       Aql Al-Mathhu’ : yaitu akal yang merupakan pancaran dari Allah SWT sebagai fitrah Illahi.
b.      Aql al-masmu : yaitu akal yang merupakan kemampuan menerima yang dapat dikembangkan oleh manusia.[8] Akal ini tidak dapat dilepaskan dari diri manusia, karena digunakan untuk menggerakkan akal mathhu untuk tetap berada di jalan Allah.
Akal memiliki fungsi sebagai berikut:
1.      Akal adalah penahan nafsu.
2.      Akal adalah pengertian dan pemikiran yang berubah-ubah dalam menghadapi. sesuatu baik yang nampak jelas maupun yang tidak jelas.
3.      Akal adalah petunjuk yang membedakan hidayah dan kesesatan.
4.      Akal adalah kesadaran batin dan pengaturan.
5.      Adalah pandangan batin yang berpandangan tembus melebihi penglihatan mata
6.      Akal adalah daya ingat mengambil dari masa lampau untuk masa yang akan dihadapi.[9]
3.      Dimensi Keberagamaan
Manusia sejak lahir kedunia telah menerima kodrat sebagai homodivinous atau homo religius yaitu makhluk yang percaya akan adanya Tuhan atau makhluk yang beragama. Dalam agama islam diyakini bahwa pada saat janin manusia berada dalam kandungan seorang ibu, dan ketika ditiupkan nyawa kedalam janin tersebut oleh sang Kholiq, maka janin mengatakan bahwa aku akan beriman kepada-Mu (Allah). Dari sinilah manusia mempunyai fitrah sebagai makhluk yang memiliki kepercayaan akan adanya tuhan sejak lahir.
4.      Dimensi Akhlak
Kata akhlak dalam pendidikan Islam adalah sesuatu yang sangat diutamakan. Dalam Islam akhlak sangat erat kaitannya dengan pendidikan agama sehingga dikatakan bahwa akhlak tidak dapat lepas dari pendidikan agama. Akhlak menurut pengertian Islam adalah salah satu hasil dari iman dan ibadat, karena iman dan ibadat manusia tidak sempurna kecuali kalau dari situ muncul akhlak yang mulia. Maka akhlak dalam Islam bersumber pada iman dan taqwa dan mempunyai tujuan langsung yaitu keridhoan dari Allah SWT
5.      Dimensi Rohani (Kejiwaan)
Tidak jauh berbeda dengan dimensi akhlak, dimensi rohani dalah adalah dimensi yang sangat penting dan harus ada pada peserta didik. Hal ini dikarenakan rohani (kejiwaan) harus dapat mengendalikan keadaan manusia untuk hidu bahagia, sehat, merasa aman dan tenteram. Penciptaan manusia tidak akan sempurna debelum ditiupkan oleh Allah sebagian ruh baginya. Allah SWT berfirman yang artinya : “Maka apabila aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, Maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud (Al – hijr : 29).”
Menurut Al- Ghazali ruh terbagi menjadi dua bentuk, yaitu al – ruh dan al- nafs. Alruh adalah daya manusia untuk mengenal dirinya sendiri, tuhan, dan mencapai ilmu pengetahuan, sehingga dapat menentukan manusia berkepribadian, berakhlak mulia serta menjadi motivator sekaligus penggerak bagi manusia untuk menjalankan perintah Allah. Alnafs adalah pembeda dengan makhluk lainnya dengan kata lain pembeda tingkatan manusia dengan makhluk lain yang sama-sama memiliki al-nafs seperti halnya hewan dan tumbuhan.[10]
6.      Dimensi Seni (Keindahan)
Seni merupakan salah satu potensi rohani yang terdapat pada diri manusia. Sehingga senia dalam diri manusia harus lah dikembangkan. seni dalam diri manusia merupakan sarana untuk mencapai tujuan hidup. Namun tujuan utama seni pada diri manusia adalah untuk beribadah kepada Allah dan menajalankan fungsi kekhalifahannya serta mendapatkan kebahagiaan spiritual yang menjadi rahmat bagi sebagian alam dan keridhoan Allah SWT.
Allah SWT berfirman yang artinya: “Dan kamu memperoleh pandangan yang indah padanya, ketika kamu membawanya kembali ke kandang dan ketika kamu melepaskannya ke tempat penggembalaan (QS. An-nahl : 6).”
7.      Dimensi Sosial
Dimensi sosial bagi manusia sangat erat kaitannya dengan sebuah golongan, kelompok, maupun lingkungan masyarakat. Lingkungan terkecil dalam dimensi sosial adalah keluarga, yang berperan sebagai sumber utama peserta didik untuk membentuk kedewasaan. Didalam Islam dimensi sosial dimaksudkan agar manusia mengetahui bahwa tanggung jawab tidak hanya diperuntukkan pada perbuatan yang bersifat pribadi namun perbuatan yang bersifat umum.
Dalam dimensi sosial seorang peserta didik harus mampu menjalin ikatan yang dinamis antara kepentingan pribadi dengan kepentingan sosial. Ikatan sosial yang kuat akan mendorong setiap manusia untuk peduli akan orang lain, menolong sesama serta menunjukkan cermin keimanan kepada Allah SWT.

D.    Tingkat Intelegensi Peserta Didik
Secara bahasa integensi dapat diartikan dengan kecerdasan, pemahaman, kecepatan, kesempurnaan sesuatu atau kemampuan. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indoneseia (KBBI) intelegensi adalah daya menyesuaikan diri dengan keadaan baru dengan mempergunakan alat-alat berpikir menurut tujuan dan kecerdasannya.
Berdasarkan pengertian diatas jelaslah bahwa intelegensi peserta didik adalah kecerdasan yang dimiliki peserta didik yang digunakan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru ataupun memahami sesuatu yang baru berdasarkan tingkat kecerdasan dan tujuan. Sehingga intelegensi atau kecerdasan dalam pendidikan islam dikelompokkan menjadi empat golongan, yaitu :
1.      Kecerdasan intelektual
2.      Kecerdasan emosional
3.      Kecerdasan spiritual
4.      Kecerdasan Qalbiyah.
1.      Kecerdasan Intelektual
Kecerdasan intelektual adalah kecerdasan yang berhubungan dengan pengambangan tingkat kemampuan dan kecerdasan otak, logika atau IQ. Ramayulis dalam bukunya menyatakan, kecerdasan intelektual adalah kecerdasan yang menuntut pemberdayaan otak, hati, jasmani, dan pengaktifan manusia untuk berinteraksi secara fungsional dengan yang lain.[11]
Menurut pengantar pendidikan anak luar biasa yang disusun oleh Sam Isbani, mengatakan bahwa tingkat intelegensi peserta didik dapat diklasifikasikan menjadi : anak berkelainan social, berkelainan jasmani, berkelainan mental, anak nakal/ delinquent, anak yang menyendiri, menjauhkan diri dari masyarakat, anak timpang, anak berkelainan penglihatan, anak berkelainan pendengaran, anak berkelainan bicara, anak kerdil, tingkat kecerdasan rendah dan tingkat kecerdasan tinggi.[12]
2.      Kecerdasan Emosional
Menurut Daniel Gomelen, kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk memotovasi diri sendiri, bertahan menghadapi frustasi, mengendalikan dorongan hati, tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati, menjaga akan beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berfikir, berempati dan berdo’a.[13]
Secara umum kecerdasan emosional dan kecerdasan intelektual saling berkaitan satu sama lain. Jika kecerdasan intelektual yang dihasilkan otak kiri digunakan untuk berfikir atau memecahkan suatu masalah, maka kecerdasan emosional yang dihasilkan oleh otak kanan digunakan untuk memberikan motivasi, mendorong kemauan dan mengendalikan dorongan hati. Sehingga dengan adanya kecerdasan dalam diri peserta didik, peserta didik akan mampu memotivasi dirinya sendiri untuk melakukan sesuatu hal yang bersifat positif, bahkan diharapakan dengan adanya kecerdasan ini seorang peserta didik mampu untuk menghilangkan rasa malas yang timbul pada dirinya.
Ari Ginanjar mengemukakan aspek-aspek yang berhubungan dengan kecerdasan emosional, meliputi : konsistensi (istiqamah), kerendahan hati (tawadhu’), berusaha dan berserah diri (tawakkal), ketulusan (ikhlas), totalitas (kaffah), keseimbangan (tawazun) dan integritas dan penyempurnaan (ihsan).
3.      Kecerdasan Spiritual
Secara etimologi spritual berarti yang berkehidupan atau sifat hidup. Kecerdasan spiritula pada diri manusia berorientasi pada dua hal, yakni berorientasi kepada hal yang bersifat duniawi dan agama. Ketika seseorang mengorirntasikan kecerdasan spiritual kedalam sesuatu yang bersifat duniawai, maka yang hadir dalam dirinya adalah bagaimana ia dapat memaknai hidup dan mengelola nilai-nilai kehidupan. Bukan untuk menentukan atau memilih keyakinan dan kepercayaan akan suatu agama.
Disisi keagamaan, Ari Ginanjar menyatakan bahwa inti dari kecerdasan spiritual adalah pemahaman tentang kehadiran manusia itu sendiri yang muaranya menjadi ma’rifat kepada Allah SWT. Ketika manusia mendapatkan ma’rifat tersebut, maka manusia secara langsung akan dapat mengenali dirinya sendiri sekaligus mengenal Tuhannya. Dalam prespeksi Islam hal ini merupakan tingkat kecerdasan yang paling tinggi. Kecerdasan spiritual memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a.       Bersikap asertif, memiliki keyakinan yang tinggi dan pemahaman yang sempurna tentang ke-Esaan Tuhan, sehingga seorang tersebut tidak akan takut akan makhluk.
b.      Berusaha mengadakan inovasi, selalu berusaha mencari hal baru untuk kemajuan hidup dan menghasilkan sesuatu yang lebih baik dari sesuatu yang telah ada.
c.       Berfikit lateral, berfikir akan adanya sesuatu yang lebih tinggi dari semua keunggulan manusia. Hal ini ditandai dengan adanya perenungan dan pemikiran akan adanya sifat maha yang dimiliki oleh sang pencipta alam sehingga membuat manusia tersentuh perasaan dan mampu menanamkan sikap tunduk dan patuh yang mebuat hati bergetar ketika dapat merasakan sifat kemahaan tersebut.
4.      Kecerdasan Qalbiyah
Secara etimologi qalbiah berasal dari kata qalbu yang berarti hati. Dalam pengertian istilah kecerdasan qalbiyah berarti kemampuan manusia untuk memahami kalbu dengan sempurna dan mengungkapkan isi hati dengan sempurna sehingga dapat menjalin hubungan moralitas yang sempurna antara manusia dan ubudiyah.
Kecerdasan kalbu pada diri manusia yang sempurna akan menghandirkan kecerdasan agama dalam dirinya. Kecerdasan agama adalah tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dari kecerdasan qalbiyah. Ketika seseorang telah mencapai kecerdasan agama maka secara langsung seorang tersebut akan memiliki kecerdasan yang melampaui kecerdasan intelktula, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual.
Ramayulis dalam bukunya menyatakah bahwa ciri utama kecerdasan qalbiyah adalah :
a.       Respon yang intuitif ilabiah
b.      Lebih mendahulukan nilai-nilai Ketuhanan dari pada nilai-nilai kemanusiaan
c.       Realitas subyektif diposiskan sama kuatnya posisinya, atau lebih tinggi dengan realitas obyektif
d.      Didapat dengan pendekatan penerapan spiritual keagamaan dan pensucian diri.[14]
E.     Etika Peserta Didik
Etika peserta didik adalah seuatu yang harus dipenuhi dalam proses pendidikan. Dalam etika peserta didik, peserta didik memiliki kewajiban yang harus dilaksanakan oleh peserta didik. Dalam buku yang ditulis oleh Rama yulis, menurut Al-Ghozali ada sebelas kewajiban peserta didik, yaitu :
1.      Belajar dengan niat ibadah dalam rangka taqoruh kepada Allah SWT, sehingga dalam kehidupan sehari-hari anak didik dituntut untuk mensucikan jiwanya dari akhlak yang rendah dan watak yang tercela. Allah SWT berfirman, artinya : “Tiada sekutu bagiNya; dan demikian Itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (Al- An’am :163)
2.      Bengurangi kecenderungan pada duniawi dibandingkan masalah ukhrowi. Allah SWT berfir`man, artinya : Dan Sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (Adh Dhuha : 4)
3.      Bersikap tawadhu’ (rendah hati) dengan cara meninggalkan kepentingan pribadi untuk kepentingan pendidikannya. Menjaga pikiran dan pertantangan yang timbul dari berbagai aliran
4.      Mempelajari ilmu – ilmu yang terpuji, baik untuk ukhrowi maupun untuk duniawi.
5.      Belajar dengan bertahap dengan cara memulai pelajaran yang mudah menuju pelajaran yang sukar
6.      Belajar ilmu sampai tuntas untuk kemudian hari beralih pada ilmu yang lainnya, sehingga anak didik memiliki spesifikasi ilmu pengetahuan secara mendalam.
7.      Mengenal nilai-nilai ilmiah atas ilmu pengetahuan yang dipelajari.
8.      Memprioritaskan ilmu diniyah sebelum memasuki ilmu duniawi.
9.      Mengenal nilai-nilai pragmatis bagi suatu ilmu pengetahuan, yaitu ilmu yang dapat bermanfaat dalam kehidupan dinia akherat.
10.  Anak didik harus tunduk pada nasehat pendidik.[15]
Agar peserta didik mendapatkan keridhoan dari Allah SWT dalam menuntut ilmu, maka peserta didik harus mampu memahami etika yang harus dimilikinya, yaitu :
1.      Peserta didik hendaknya senantiasa membersihkan hatinya sebelum menuntut ilmu.
2.      Tujuan belajar hendaknya ditujukan untuk menghiasi roh dengan berbagai sifat keutamaan.
3.      Memiliki kemauan yang kuat untuk mencari dan menuntut ilmu di berbagai tempat.
4.      Setiap peserta didik wajib menghormati pendidiknya.
5.      Peserta didik hendaknya belajar secara sungguh-sungguh dan tabah.[16]
Namun etika peserta didik tersebut perlu disempurnakan dengan empat akhlak peserta didik dalam menuntut ilmu, yaitu :
1.      Peserta didik harus membersihkan hatinya dari kotoran dan penyakit jiwa sebelum ia menuntut ilmu, sebab belajar merupakan ibadah yang harus dikerjakan dengan hati yang bersih.
2.      Peserta didik harus mempunyai tujuan menuntut ilmu dalam rangka menghiasi jiwa dengan sifat keimanan, mendekatkan diri kepada Allah.
3.      Seorang peserta didik harus tabah dalam memperoleh ilmu pengetahuan dan sabar dalam menghadapi tantangan dan cobaan yang datang.
4.      Seorang harus ikhlas dalam menuntut ilmu dengan menghormati guru atau pendidik, berusaha memperoleh kerelaan dari guru dengan mempergunakan beberapa cara yang baik.[17]


BAB III
KESIMPULAN

Berdasarkan uraian tentang peserta didik bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.      Peserta didik adalah individu yang mengalami perkembangan dan perubahan, sehingga ia harus mendapatkan bimbingan dan arahan untuk membentuk sikap moral dan kepribadian
2.      Kebutuhan peserta didik yang berupa kebutuhan fisik, sosial, mendapatkan status, mandiri, berprestasi, ingin disayangi dan dicintai, curhat, dan mendapatkan filsafat hidup harus dipenuhi oleh pendidik untuk menunjang perkembangan dan pembentukan sikap moral peserta didik sebagai insan kamil.
3.      Peserta didik memiliki beberapa dimensi penting yang mempengaruhi akan perkembangan peserta didik, dimensi ini harus diperhatikan secara baik oleh pendidik dalam rangka mencetak peserta didik yang berakhlak mulia dan dapat disebut sebagai insan kamil.
4.      Peserta didik akan melampaui kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual ketika ia telah mencapai tingkatan ilmu yang melibihi tingkatan kecerdasan qalbiyah, yaitu kecerdasan agama.
5.      Etika peserta didik dalam proses pendidikan islam sangatlah berperan

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu dkk. 2006. Ilmu Pendidikan Cetakan ke II. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Hasbullah. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Yogyakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
Ramayulis. 2006. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia.
Supriono,Widodo. 1996. Filsafat Manusia dalam Islam. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Vandha. 2008. Pendidikan Islam dan Sumber Daya Manusia. Jakarta.


[1] Drs. Abu Ahmadi dan Dra. Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan, Cetakan ke II, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2006), hlm. 40
[2] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia , 2006), hlm.77
[3] Hasbullah, Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2009), hal. 23
[4] Drs. Abu Ahmadi dan Dra. Nur Uhbiyati, Ilmu, hlm. 42
[5] Ramayulis, Ilmu, hlm. 78
[6] Ibid., hal. 81
[7] Widodo Supriono, Filsafat Manusia dalam Islam, Reformasi Filsafat Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 1996), hlm. 171
[8] Ramayulis, Ilmu, hlm 85.
[9] Ibid., hlm 86
[10] Al-Ghazali, Mi’raj As-Salikhin, Al-Saqafat Al-Islamiyat, (Kairo, 1994), hlm. 16
[11] Ibid., hal 97
[12] Drs. Abu Ahmadi dan Dra. Nur Uhbiyati, Ilmu, hlm. 46
[13] Daniel Golmen, Kecerdasan Emosional Edisi Terjemahan Cetakan Ke 9 (Jakarta: Gramediya, 1999), hlm. 45
[14] Ramayulis, Ilmu, hlm. 110
[15] Abd. Mujid dalam Ramayulis, Psikologi Agama, (Jakarta: Kalam Mulia, 2004), hlm. 98
[16] Ramayulis, Ilmu, hlm. 119
[17] Ibid., hal 120