KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Menejemen Lembaga Pendidikan Islam
Dosen Pengampu: Hendro Widodo, M. Pd
Disusun oleh kelompok 6:
Abdul Latif 09470101
Akhmad Ridwan 09470102
Edwar Hadi 09470103
Hendra Syaputra 09470104
Tanjung Lihayati 09470106
JURUSAN KEPENDIDIKAN ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2011
BAB I
PENDAHULUAN
Menurut kodrat serta irodatnya bahwa manusia dilahirkan untuk menjadi pemimpin. Sejak Adam diciptakan sebagai manusia pertama dan diturunkan ke bumi, Ia ditugasi sebagai Khalifah fil ardhi. Sebagaimana termaktub dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 30 yang berbunyi : “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat”; “Sesungguhnya Aku akan mengangkat Adam menjadi Khalifah di muka Bumi”. Hal tersebut juga dikuatkan dalam sabda Rasulullah SAW.
كلكم راع وكلكم مسعول عن رعيته
"Artinya : Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawaban pada orang yang dipimpinnya.”
Menurut Bachtiar Surin yang dikutif oleh Maman Ukas bahwa “Perkataan Khalifah berarti penghubung atau pemimpin yang diserahi untuk menyampaikan atau memimpin sesuatu”.
Dari uraian tersebut jelas bahwa manusia telah dikaruniai sifat dan sekaligus tugas sebagai seorang pemimpin. Pada masa sekarang ini setiap individu sadar akan pentingnya ilmu sebagai petunjuk/alat/panduan untuk memimpin umat manusia yang semakin besar jumlahnya serta komplek persoalannya. Atas dasar kesadaran itulah dan relevan dengan upaya proses pembelajaran yang mewajibkan kepada setiap umat manusia untuk mencari ilmu. Dengan demikian upaya tersebut tidak lepas dengan pendidikan, dan tujuan pendidikan tidak akan tercapai secara optimal tanpa adanya manajemen atau pengelolaan pendidikan yang baik, yang selanjutnya dalam kegiatan manajemen pendidikan diperlukan adanya pemimpin yang memiliki kemampuan untuk menjadi seorang pemimpin.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Kepemimpinan Kepala Sekolah
Pemimpin adalah orang yang dapat mempengaruhi orang lain agar dapat berbuat sesuai dengan kemauan yang dikehendakinya. Dengan kata lain pemimpin adalah orang yang sanggup membawa orang lain menuju kepada tujuan yang dikehendakinya. Banyak teori tentang pemimpin dan kepemimpinan (leadership). Namun, teori tersebut pada intinya adalah sebagai seni mempengaruhi orang lain.
Adapun kepemimpinan menurut Wahab Abdul Kadir adalah orang yang memiliki kesanggupan mempengaruhi, memberi contoh, mengarahkan orang lain atau suatu kelompok untuk mencapai tujuan baik formal maupun non formal.[1]
Leadership atau kepemimpinan adalah “proses pengaruh-mempengaruhi antar pribadi atau antar orang dalam situasi tertentu, melalui proses komunikasi terarah untuk mencapai suatu tujuan tertentu”. Hal ini ditegaskan oleh McFarland (1978) kepemimpinan adalah suatu proses dimana pimpinan dilukiskan akan memberikan perintah atau pengaruh, bimbingan atau proses mempengaruhi pekerjaan orang lain dalam memilih dan mencapai tujuan. Di sini diperlukan kemampuan membina kerja sama dan membangun komunikasi, meningkatkan rasa aman dan kesejahteraan bawahan serta mampu menformulasikan dan mendifinisikan tujuan dan sasaran akhir organisasi.
Selanjutnya, kepemimpinan merupakan kemampuan mempengaruhi orang lain sehingga mau melakukan suatu tindakan dengan sukarela untuk mencapai tujuan tertentu. Menurut Mondy dan Premeaux (1995:345), bahwa “Leadership or leading involves influencing others to do what the leader want them to do”. Hal ini berarti menekankan adanya pengaruh yang signifikan yang diberikan pemimpin terhadap bawahannya.
Dengan demikian kepemimpinan dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam menggerakan, mengarahkan, memberi perintah atau pengaruh, sekaligus mempengaruhi pola pikir, cara bekerja setiap anggota agar bersikap mandiri dalam bekerja sehingga tercapainya sebuah tujuan yang telah ditetapkan.
Sedangkan kepemimpinan kepala sekolah adalah cara atau kepala sekolah dalam mempengaruhi, mendorong, membimbing, mengarahkan dan menggerakkan guru, staf, peserta didik, atau orang tua peserta didik dan pihak terkait untuk bekerja atau berperan guna mencapai tujuan yang ditetapkan. Meminjam term Thomp (1993:40) kepala sekolah merupakan orang yang sangat penting dalam sistem sekolah yang mana mengusahakan, memelihara aturan dan disiplin, menyediakan barang-barang yang diperlukan, melaksanakan dan meningkatkan program sekolah, serta memilih dan mengembangkan pegawai/personil.
Selanjutnya menurut Sutisna (1993) merumuskan kepemimpinan sebagai “proses mempengaruhi kegiatan seseorang atau kelompok dalam usaha kearah pencapaian tujuan dalam situasi tertentu”. Sementara Soepardi (1988) mendifinisikan kepemimpinan, bahwa “kemampuan untuk menggerakkan, mempengaruhi, menasihati, membimbing, menyuruh, memerintah, melarang, dan bahkan menghukum (kalau perlu), serta membina dalam rangka mencapai tujuan administrasi secara efektif dan efesien.
Unsur-unsur dalam situasi kepemimpinan adalah: 1) orang yang dapat mempengaruhi orang lain disatu pihak, 2) orang yang dapat pengaruh dilain pihak, 3) adanya maksud-maksud atau tujuan-tujuan tertentu yang hendak dicapai, 4) adanya serangkaian tindakan untuk mempengaaruhi dan untuk mencapai maksud atau tujuan tertentu[2].
Berdasarkan penjelaskan yang dikemukakan oleh para ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan sekolah adalah kemampuan yang dimiliki oleh kepala sekolah unuk memberikan pengaruh kepada orang lain melalu interaksi individu dan kelompok sebagai wujud kerja sama dalam organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
B. Konsep Dasar Kepemimpinan
Pemimpin dalam organisasi harus menjalankan fungsi-fungsi manajemen sejak dalam perencanaan (planning), pengorganisasian (organiszing), penggerakan (actuating) dan pengawasan (controlling) dalam rangka mencapai tujuan organisasi yang efektif dan efesien. Soetopo dan Soemanto (1982) menjelaskan, bahwa kepemimpinan pendidikan ialah kemampuan untuk mempengaruhi dan menggerakan orang lain untuk mencapai tujuan pendidikan secara bebas dan sukarela. Adapun karakteriistik kepemimpinan pendidikan yang efektif menurut Adair yang dikutip Law dan Glover (2000:20) yaitu: 1) Memberikan pengarahan, 2) Menciptakan inspirasi, 3) Membangun tim kerja, 4) Menjadi teladan/model, dan 5) Menciptakan penerimaan dikalangan personil.
C. Pendekatan Studi Kepemimpinan
Kepemimpinan dihadapkan oleh banyak persoalan dan tantangan yang harus dihadapi. Adapun persoalan utama kepemimpinan yang dikemukakan oleh Fred E. Fiedler dan Martin M. Chamers, dalam pengantar bukunya yang berjudul Leadership and Effetive Management, yaitu:
1. Bagaimana seseorang dapat menjadi pemimpin (how one become a leader),
2. Bagaimana para pemimpin itu berperilaku (how leader behave), dan
3. Apa yang membuat pemimpin itu berhasil (what makes the leader effective).
Ada empat pendekatan dalam kepemimpinan, keempat pendekatan itu diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Pendekatan Menurut Pengaruh Kewibawaan (Power Influence Approach)
Menurut pendekatan ini, dikatakan bahwa keberhasilan pemimpin dipandang dari segi sumber dan terjadinya sejumlah kewibawaan yang ada pada para pemimpin. Pendekatan ini menekankan sifat timbal balik, proses saling mempengaruhi dan pentingnya pertukaran hubungan kerja sama antara para pemimpin dan bawahan.
2. Pendekatan Sifat (The Trait Appoach)
Pendekatan ini menekankan pada kualitas pemimpin. Adapun keberhasilan itu ditandai kecakapan yang luar biasa yang dimilki oleh pemimpin seperti:
a. Tidak kenal lelah atau penuh energi;
b. Intuisi yang tajam;
c. Tinjauan ke masa depan yang tidak sempit;
d. Kecakapan menyakinkan yang sangat menarik.
3. Pendekatan Prilaku (The Behavior Approach)
Pendekatan prilaku menekankan pentingnya perilaku yang dapat diamati atau yang dilakukan oleh para pemimpin dari sifat-sifat pribadi atau sumber kewibawaan yang dimilikinya.
4. Pendekatan Situasional (Situational Approach)
Pendekatan situasional menekankan pada pentingnya faktor-faktor kontekstual seperti sifat pekerjaan yang dilaksanakan oleh unit pemimpin, sifat lingkungan eksternal, dan karakteristik para pengikut.
5. Disamping empat macam pokok pendekatan studi kepemimpinan tersebut, erat berkaitan dengan kewibawaan seorang pemimpin ada yang disebut pendekatan karismatik atau Charismatic approach atau “Teori Kepemimpinan Karismatik” (Theory of Charismatic Leadership). Teori ini dikemukakan oleh R.J. House.[3]
Ada indikasi sebagai ciri kepemimpinan karismatik antara lain:
a. bawahan/pengikut menaruh kepercayaan terhadap kebenaran dan keyakinan pemimpin;
b. ada kesamaan keyakinan antara bawahan dan pimpinan;
c. penerimaan tanpa perlu persoalan atau bulat-bulat dari bawahan terhadap pimpinan;
d. terdapat kasih sayang (affection) pengikut kepada pemimpin;
e. kemauan untuk patuh dari bawahan terhadap pemimpin;
f. keterlibatan secara emosional dari para bawahan dalam melaksanakan misi organisasi;
g. mempertinggi penampilan dalam mencapai tugas dari para bawahan; dan
h. ada keyakinan bawahan, bahwa pemimpin karismatik akan memberi bantuan demi keberhasilan misi kelompok.
D. Peran dan Tanggung Jawab Kepala Sekolah
Meminjam term Smith dan Andrews (1989), bahwa kepala sekolah atau pemimpin pendidikan dituntut untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya yang berkaitan dengan kepemimpinan pendidikan dengan sebaik mungkin. Sedangkan menurut Robins (1984), Wagner dan Hollenbeck (1992), menegaskan pemimpin pendidikan mempunyai tugas dalam menjalankan fungsi-fungsi manajemen, yaitu perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengkoordinasian, pengawasan dan evaluasi.
Berdasarkan uraian-uraian yang telah dijelaskan di atas, maka dapat diambil suatu kesimpulan bahwa peran dan tanggung jawab kepala sekolah pada hakikatnya erat dengan administrasi atau menajemen pendidikan, kepemimpinan pendidikan, dan supervise pendidikan.
1. Kepala sekolah sebagai Pemimpin (Leader) Pendidikan
Pada dasarnya istilah kepemimpinan itu dipahami sebagai suatu konsep yang di dalamnya mengandung makna bahwa ada proses kekuatan yang datang dari seseorang (pemimpin) untuk mempengaruhi orang lain, baik secara individual maupun secara kelompok dalam organisasi (Hanson, 1985). Adapun Koontz, O’Donnel dan Weihrich di dalam bukunya yang bejudul Management, cetakan ketujuh, tahun 1980, antara lain dikemukakan, bahwa yang dimaksud pemimpin secara umum, merupakan pengaruh, seni atau proses mempengaruhi orang lain, sehingga mereka dengan penuh kemauan berusaha ke arah tercapainya tujuan organisasi.[4]
2. Kepala Sekolah sebagai Administrator dan Manajer Pendidikan
Peran kepala sekolah sebagai administrator pendidikan pada hakikatnya bahwa seorang kepala sekolah harus mempunyai pengetahuan yang cukup tentang kebutuhan nyata masyarakat, artinya selalu mempeajari secara kontinyu perubahan yang terjadi di masyarakat sehingga sekolah dapat menyajikan program-program pendidikan sesuai kebutuhan masyarakat terkait dengan hal-hal yang sifatnya kebutuhan baru dan kondisi baru.[5]
Adapun kepala sekolah sebagai manejer pendidikan yaitu seorang kepala sekolah harus mampu melaksanakan proses perencanaan, mengorganisasikan, memimpin dan mengendalikan usaha serta mendaya gunakan seluruh sumber daya organisasi dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
3. Kepala Sekolah sebagai Supervisor
Peran dan tanggung jawab kepala sekolah sebagai supervisor yaitu membina bawahannya atau para guru dan pegawai sekolah lainya dalam melakukan pekerjaan mereka secara efektif. Sehubungan dengan itu, maka kepala sekolah hendaknya pandai meneliti, mencari dan menentukan syarat-syarat mana yang diperlukan sekolahnya sehingga tujuan di sekolah itu tercapai dengan maksimal.
4. Kepala Sekolah sebagai Pendidik
Kepala sekolah juga mempunyai tanggung jawab penuh untuk mendidik dalam arti memberikan latihan (ajaran, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pemikiran sehingga pendidikan dapat diartikan proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang dalam usaha mendewasakan manusia melaui pengajaran dan latihan.[6] Adapun sasaran pendidikan atau pelatihan yang dilakukan kepala sekolah yaitu para guru ataupun para fungsional yang lain, tenaga administrative (staf), dan kelompok para siswa atau peserta didik.
5. Kepala Sekolah sebagai Staf
Disini kepala sekolah mempunyai peranan dan tanggung jawab sebagai staf, artinya bahwa keberadaan kepala sekolah di dalam lingkungan organisasi yang lebih luas atau di luar sekolah berada di bawah kepemimpinan pejabat lain, baik langsung maupun tidak langsung (subordinated), yang berperan sebagai atasan kepala sekolah.
E. Fungsi Kepemimpinan Pendidikan
Adapun untuk fungsi kepemimpinan pendidikan dijelaskan oleh Sallis (1993:88) yang mana pemimpin harus bermuara kepada pencapaian visi dan misi organisasi atau lembaga pendidikan yang dilihat dari mutu pembelajaran yang dicapai dengan sungguh oleh semua personil pendidikan.
Fungsi utama pemimpin pendidikan adalah kelompok untuk belajar memutuskan dan bekerja, antara lain :
1. Pemimpin membantu terciptanya suasana persaudaraan, bekerjasama dengan penuh rasa kebebasan.
2. Pemimpin membantu kelompok untuk mengorganisir diri yaitu ikut serta dalam memberikan rangsangan dan bantuan kepada kelompok dalam menetapkan dan menjelaskan tujuan.
3. Pemimpin membantu kelompok dalam menetapkan prosedur kerja, yaitu membantu kelompok dalam menganalisis situasi untuk kemudian menetapkan prosedur mana yang paling praktis dan efektif.
4. Pemimpin bertanggung jawab dalam mengambil keputusan bersama dengan kelompok. Pemimpin memberi kesempatan kepada kelompok untuk belajar dari pengalaman. Pemimpin mempunyai tanggung jawab untuk melatih kelompok menyadari proses dan isi pekerjaan yang dilakukan dan berani menilai hasilnya secara jujur dan objektif,
5. Pemimpin bertanggung jawab dalam mengembangkan dan mempertahankan eksistensi organisasi.
F. Tipe-tipe Kepemimpinan Pendidikan
Keberhasilan kepemimpinan itu sebagian besar ditentukan oleh sifat-sifat kepribadian tertentu, misalnya harga diri, kecerdasan, kelancaran bahasa, kreativitas dan sifat-sifat kepribadian yang baik.
Kepala sekolah harus dapat memahami situasi sekolah secara koprehensif agar dapat menerapkan gaya kepemimpinan sesuai situasi sekolahnya tersebut. Adapun gaya kepemimpinan tersebut yaitu: Otoriter, demokrasi dan laissez-faire. Hal ini dijelaskan oleh Kurt Lewin yang dikutif oleh Maman Ukas mengemukakan tiga tipe kepemimpinan, yaitu :
1. Otokratis, pemimpin yang demikian bekerja keras, sungguh-sungguh, teliti dan tertib. Ia bekerja menurut peraturan yang berlaku dengan ketat dan instruksi-instruksinya harus ditaati.
2. Demokratis, pemimpin yang demokratis menganggap dirinya sebagai bagian dari kelompoknya dan bersama-sama dengan kelompoknya berusaha bertanggung jawab tentang pelaksanaan tujuannya.
3. Laissezfaire, pemimpin yang bertipe demikian, segera setelah tujuan diterangkan pada bawahannya, untuk menyerahkan sepenuhnya pada para bawahannya untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya.[7]
4. Disamping tiga macam gaya kepemimpinan ada gaya kepemimpinan yang biasanya terjadi, yaitu: Kepemimpinan pseudo-demokratis yang mana tipe ini disebut juga demokratis semu atau manipulasi diplomatik. Pemimpin yang bertipe pseudo-demokratis hanya tampaknya saja bersikap demokratis padahal sebenarnya dia bersikap otokratis.
G. Sifat-sifat Kepemimpinan Pendidikan
Kepemimpinan kepala sekolah merupakan faktor penentu efektifitas sekolah. Beberapa sifat penting harus dimiliki oleh seorang pemimpin dapat menentukan keberhasilan seorang pemimpin. Ahli psikologi dan peneliti menegaskan bahwa sifat yang harus dimiliki pemimpin yaitu; intelektualitas, hubungan sosial, kemampuan sosial, keadaan fisik, imajinasi, kekeuatan jasmani, kesabaran, kemauan berkorban dan kemauan bekerja keras (Fatah, 1996). Adapun kepala sekolah yang efektif hendaknya :
1. Memiliki keinginan untuk memimpin dan kemauan untuk bertindak dengan keteguhan hati dan melakukan perundingan dalam situasi yang sulit (Little & Bird, 1987).
2. Memiliki inisiatif dan upaya yang tinggi (Blumberg & Green-field, 1986).
3. Berorientasi kepada tujuan dan memiliki rasa kejelasan yang tajam tentang tujuan intruksional dan organisasional.[8]
4. Menyusun sendiri contoh-contoh yang baik secara sungguh-sungguh.[9]
5. Menyadari keunikan guru dalam gaya, sikap, keterampilan, dan orientasi mereka dan mendukung gaya-gaya mengajar yang berbeda.
H. Syarat-syarat Kepemimpin Pendidikan
Dalam memangku jabatan pemimpin pendidikan, maka pemimpin dituntut beberapa persyaratan jasmani, rohani dan moralitas yang baik, bahkan persyaratan sosial ekonomi yang layak. Selanjutnya untuk persyaratan pemimpin yang baik antara lain :
1. Rendah hati dan sederhana
2. Bersifat suka menolong
No comments:
Post a Comment