Untuk menghilangkan duaslisme dalam kehidupan, perlu
adanya pengetahuan yang diislamisasikan. Dalam hal itu untuk menuangkannya
harus kembali kepada disiplin-disiplin di bawah kerangka Isalam, berarti
membuat teori-teori, metode, prinsip-prinsip dan tujuan-tujuan tunduk
kepadanya:
1.
Keesaan Allah
merupakan prinsip dasar dari agama Islam dan setiap sesuatu yang Islamiah. Allah
itu sesuatu yang tunggal dan transenden secara mutak, dan secara metafisis dan axiologis tertinggi. Selain itu pula sebagai
sumber nilai-nilai kebenaran dan keindahan.
2. Kesatuan alam semesta; alam semesta tidak dapat
dipahami hanya sebatas tata, melainkan lebih dari pada itu, yaitu sebuah
keutuhan yang integral karena merupakan karya Penciptaan Tunggal dan aturan dan
disain-Nya telah memasuki setiap bagian alam semesta tersebut. Tata kosmis terdiri
dari hukum-hukum alam dan itu berlaku di alam semesta dan meresapi setiap
bagian atau aspek alam semesta. Semua hukum ini adalah sunan (pola-pola) Allah Ta’ala di dalam penciptaan-Nya terhadap
alam semesta. Allah tidak hanya sebagai sumber hukum-hukum dan
juga tidak mengundurkan diri ciptaan-Nya tapi Dia tetap menjalankan dan
mengontrol kosmos ini dan selama-lamanya hidup dan aktif sebagai bentuk
eksistensi-Nya. Jadi, setiap kehidupan sesuatu di dalam kosmos dan setiap
peristiwa yang terjadi adalah sesuai dengan perintah-Nya. Selanjutnya, dengan
diciptakan-Nya segala sesuatu memiliki sebuah tujuan-tujuan akhir (ends) sebagai sebuah raison d’etre untuk mana sesuatu itu
berbakti. Tujuan ini bukan sifatnya final, tetapi selalu tunduk kepada
tujuan-tujuan lain di mana ia merupakan nexus
final yang hanya bertujuan akhir (ends)
di dalam Tuhan. Karena hanya Dialah tujuan akhir yang tertinggi dan yang pasti
segala sesuatu akan kembali kepada-Nya. Diciptakannya alam semesta ini
merupakan sebuah anugrah dari Tuhan untuk umat manusia sebagai panggung
sementara dan juga sebagai ketertundukkannya kepada manusia untuk dikelola atau
digunakan secara baik maupun buruk.
3.
Kesatuan
kebenaran dan kesatuan pengetahuan; merumuskan, bahwa berdasarkan wahyu kita
tidak boleh membuat klaim yang bertentangan dengan realitas, tidak ada
kontradiksi, perbedaan atau variasi di antara nalar dan wahyu, merupakan
prinsip yang bersifat mutlak, dan tidak ada pengamatan ke dalam hakikat alam
semesta yang dapat dipecahkan.