Sunday, 6 May 2012

PRINSIP-PRINSIP POKOK METODOLOGI ISLAM


Untuk menghilangkan duaslisme dalam kehidupan, perlu adanya pengetahuan yang diislamisasikan. Dalam hal itu untuk menuangkannya harus kembali kepada disiplin-disiplin di bawah kerangka Isalam, berarti membuat teori-teori, metode, prinsip-prinsip dan tujuan-tujuan tunduk kepadanya:
1.      Keesaan Allah merupakan prinsip dasar dari agama Islam dan setiap sesuatu yang Islamiah. Allah itu sesuatu yang tunggal dan transenden secara mutak, dan secara metafisis dan axiologis tertinggi. Selain itu pula sebagai sumber nilai-nilai kebenaran dan keindahan.
2.      Kesatuan alam semesta; alam semesta tidak dapat dipahami hanya sebatas tata, melainkan lebih dari pada itu, yaitu sebuah keutuhan yang integral karena merupakan karya Penciptaan Tunggal dan aturan dan disain-Nya telah memasuki setiap bagian alam semesta tersebut. Tata kosmis terdiri dari hukum-hukum alam dan itu berlaku di alam semesta dan meresapi setiap bagian atau aspek alam semesta. Semua hukum ini adalah sunan (pola-pola) Allah Ta’ala di dalam penciptaan-Nya terhadap alam semesta. Allah tidak hanya sebagai sumber hukum-hukum dan juga tidak mengundurkan diri ciptaan-Nya tapi Dia tetap menjalankan dan mengontrol kosmos ini dan selama-lamanya hidup dan aktif sebagai bentuk eksistensi-Nya. Jadi, setiap kehidupan sesuatu di dalam kosmos dan setiap peristiwa yang terjadi adalah sesuai dengan perintah-Nya. Selanjutnya, dengan diciptakan-Nya segala sesuatu memiliki sebuah tujuan-tujuan akhir (ends) sebagai sebuah raison d’etre untuk mana sesuatu itu berbakti. Tujuan ini bukan sifatnya final, tetapi selalu tunduk kepada tujuan-tujuan lain di mana ia merupakan nexus final yang hanya bertujuan akhir (ends) di dalam Tuhan. Karena hanya Dialah tujuan akhir yang tertinggi dan yang pasti segala sesuatu akan kembali kepada-Nya. Diciptakannya alam semesta ini merupakan sebuah anugrah dari Tuhan untuk umat manusia sebagai panggung sementara dan juga sebagai ketertundukkannya kepada manusia untuk dikelola atau digunakan secara baik maupun buruk.
3.      Kesatuan kebenaran dan kesatuan pengetahuan; merumuskan, bahwa berdasarkan wahyu kita tidak boleh membuat klaim yang bertentangan dengan realitas, tidak ada kontradiksi, perbedaan atau variasi di antara nalar dan wahyu, merupakan prinsip yang bersifat mutlak, dan tidak ada pengamatan ke dalam hakikat alam semesta yang dapat dipecahkan.