Thursday, 17 November 2011

AL-HUJURAT 11-12 DAN ALI IMRON 159


AL-HUJURAT 11-12 DAN ALI IMRON 159
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Tafsir
Dosen Pengampu:
Drs. H. Muhammad Annis, M.A


Disusun oleh kelompok 4:
                                
Abdul Latif                             09470101
Maryani                                  09470045
Rahma Apriliani                     09470088
Emilia Megasari                     09470077



JURUSAN KEPENDIDIKAN ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2011




BAB I
PENDAHULUAN





















BAB II
PEMBAHASAN

A.    Surat al-Hujurat 11-12
1.       Surat al-Hujurat ayat 11 (Larangan Memperolok, Berprasangka dan lain-lain)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا يَسْخَرْ قَومٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلا تَنَابَزُوا بِالألْقَابِ بِئْسَ الاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الإيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
v  Terjemahan
Artinya : Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang lalim. (QS. al-Hujurat : 11)
v  Mufradat
a.      Jangan mengolok-olok
b.     jangan mencela
c.      jangan panggil memanggil
d.     gelar-gelar yang buruk
v  Tafsir
Dalam ayat-ayat yang lalu, Allah SWT menerangkan bagaimana seharusnya sikap dan akhlak-akhlak orang-orang mukmin terhadap Nabi SAW dan terhadap orang-orang munafik, maka pada ayat berikut ini Allah menjelaskan bagaimana sebaiknya pergaulan orang-orang mukmin ditengah-tengah kaum mukminin sendiri, diantaranya, mereka dilarang memperolok-olokkan saudara-saudara mereka, memanggil-manggil mereka dengan gelar-gelar buruk dan berbagai tindakan yang menjurus kearah permusuhan dan kezaliman.
Dalam ayat ini, Allah SWT memperingatkan kaum mukmin supaya jangan ada suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain karena boleh jadi, mereka yang diolok-olokkan itu pada sisi Allah jauh lebih mulia dan lebih terhormat dari mereka yang mengolok-olokkan, dan demikian pula dikalangan wanita, jangan ada segolongan wanita yang mengolok-olokkan wanita yang lain karena boleh jadi, mereka yang diolok-olokkan itu pada sisi Allah lebih baik dan lebih terhormat dari pada wanita yang mengolok-olokkan itu. Dan Allah SWT melarang pula kaum mukminin mencela kaum mereka sendiri karena kaum mukminin semuanya harus dipandang satu tubuh yang diikat dengan kesatuan dan persatuan, dan dilarang pula panggilan-panggilan dengan gelar-gelar yang buruk seperti panggilan kepada seseorang yang sudah beriman dengan kata-kata : hai fasik, hai kafir, dan sebagainya.
Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah, sabda Rosulullah SAW sebagai berikut :


Artinya :
Sesunggunhnya Allah tidak memandang kepada rupamu dan harta kekayaanmu, akan tetapi Ia memandang kepada hatimu dan perbuatanmu. (247).

Hadis ini mengandung bahea seorang hamba Allah jangan memastikan kebaikkan atau keburukan seseorang semata-mata karena melihat kepada amal perbuatannya saja, sebab kemungkinan seorang tampak mengerjakan amal kebajikan, padahal Allah melihat didalam hatinya ada sifat yang tercela, dan sebaliknya pula mungkin ada seorang yang kelihatan melakukan suatu yang tampak buruk, akan tetapi Allah melihat dalam hatinya ada rasa penyesalan yang besar yang mendorong kepadanya bertaubat dari dosanya. Maka amal perbuatan yan nampak di luar itu, hanya merupakan tanda-tanda saja yang menimbulkan sangkaan yang kuat, tetapi belum sampai ketingkat meyakinkan. Maka Allah melarang kaum mukminin memanggil orang dengan panggilan-panggilan yang buruk setelah mereka beriman.

v  Kesimpulan
a.      Allah SWT melarang kaum mukminin dan mukminat :
Ø Mengolok-olok orang lain
Ø Mencela diri sendiri,
Ø Memanggil-manggil orang lain dengan gelar-gelar yang buruk.
b.     Orang-orang yang tidak mau bertaubat dari kesalahan-kesalahannya dicap oleh Allaj sebagai orang-orang zalim.

2.       Surat al-Hujura ayat 12 (Larangan Berburuk Sangka dan Bergunjing)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا تَجَسَّسُوا وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
v  Terjemah
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. (Q.S al-Hujura : 12).
v  Mufradat
a.      Prangsangka
b.     Mencari-cari
c.      Daging
d.     Jijik kepadanya
v  Tafsir
Dalam ayat-ayat yang lalu, Allah SWT melarang kaum muslimin dan muslimat mengolok-olokkan orang lain, mencela diri sendiri, dan memanggil orang-orang lain dengan gelar-gelar yang buruk, maka dalam ayat berikut ini Allah SWT melarang pula mereka dari berburuk sangka dan bergunjing agar terpelihara persaudaraan dan mengeratkan tali persahabatan dalam Islam.
Dalam ayat ini, Allah SWT memberi peringatan kepada orang-orang beriman, supaya mereka menjauhkan diri dari prasangka terhadap orang-orang yang beriman dan jika mereka mendengar sebuah kalimat yang keluar dari mulut saudaranya mukmin, maka kalimat tersebut harus diberi tanggapan yang baik, ditunjukkan kepada pengertian yang baik, dan jangan sekali-kali timbul salah paham, apa lagi menyelewengkannya sehingga menimbulkan fitnah dan prasangka.
Allah berfirman melarang hamba-hambanya yang beriman berprasangka yang bukan pada tempatnya terhadap keluarganya, familinya dan terhadap orang lain, karena sebagian dari prasangka itu merupakan perbuatan yang membawa dosa dan janganlah kamu mengintai dan mencari-cari kesalahan orang lain. Allah memperumakan orang yang menggunjing sesama saudaranya yang mukmin, seperti orang yang memakan daging saudaranya yang sudah mati. Tentu tidak seorang pun diatara kamu suka berbuat demikian, maka bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Dia Maha penerima taubat lagi Maha penyayang.

v  Kesimpulan
a.      Allah melarang orang-orang yang beriman berburuk sangka, mencari-cari kesalahan orang lain, dan bergunjing.
b.     Allah SWT memberikan perumpamaan, orang yang suka bergunjing itu seperti orang yang memakan daging saudaranya yang sudah mati.
c.      Allah SWT memerintahkan supaya tetap bertakwa karena Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.






B.    Surat ali-Imran 159
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
v  Terjemah
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu[246]. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (Q.S al-Imran : 159)
v  Mufradat

v  Tafsir
Meskipun dalam keadaan genting, seperti terjadinya pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin pada peperangan Uhud sehingga menyebabkan kaum muslimin menderita kekalahan, tetapi beliau masih bersikap lemah lembut dan tidak marah terhadap yang melanggar itu, bahkan memaafkannya, dan memohonkan untuk mereka ampunan kepada Allah SWT. Andaikata Nabi Muhammad bersikap keras, berhati kasar tentulah mereka akan menjauhkan diri dari beliau.
Disamping itu Nabi Muhammad SAW selalu bermusyawarah terhadap mereka dengan segala hal, apalagi dalam urusan peperangan. Oleh karena itu kaum muslimin patuh melaksanakan keputusan-keputusan itu karena keputusan itu merupakan keputusan mereka sendiri bersama Nabi. Mereka tetap berjuang dan berjihad di jalan Allah dengan tekat yang bulat tanpa menghiraukan bahaya dan kesulitan yang mereka hadapi. Mereka bertawakal sepenuhnya kepada Alla, karena tidak ada yang dapat membela kaum muslimin selain Allah.
v  Kesimpulan
a.      Allah SWT, memuji akhlak nabi Muhammad SAW, dan sifat-sifatnya yang selalu bersikap lemah lembut dan tidak besikap keras terhadap para pengikutnya dan memaafkan serta memintakan ampun bagi mereka atas kesalahan-kesalahan mereka.
b.     Allah SWT, memerintahkan Nabi Muhammad SAW, supaya bermusyawarah dengan segala urusan. Didalam melaksanakan hasil-hasil musyawarah, supaya bertakwa kepada Allah SWT.


















DAFTAR ISI



No comments:

Post a Comment