Thursday, 17 November 2011

PENGERTIAN WAHYU DAN AL-QUR’AN SERTA NAMA-NAMA AL-QUR’AN


PENGERTIAN WAHYU DAN AL-QUR’AN SERTA NAMA-NAMA AL-QUR’AN
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Al-Qur’an
Dosen Pengampu:
Drs. H. Suismanto, M.Ag.


Disusun Kelompok 1:
                                
Abdul Latif                 09470101
Ahmad Mushowir       09470086
Noval Anwar              07470068
Anna Priyanti 09470115




JURUSAN KEPENDIDIKAN ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2011
BAB I
PENDAHULUAN

Pada zaman Rasullulah saw maupun pada masa berikutnya yakni zaman kehalifahan Abu  Bakar dan umar, ilmu ilmu al-Qur’an masih diriwayatkan secara lisan belum dibukukan. Karena pada masa nabi Muhammad dan para sahabatnya tidak ada kebutuhan sama sekali untuk menulis atau mengarang buku buku tentang ulumul Qur’an.
Al-Qur’an adalah pegangan utama untuk seluruh insan karena didalamnya tersirah dan tersurat petunjuk, pedoman, aspirasi, dan inspirasi yang menyeluruh. Menyangkut beberapa aspek  kehidupan umat manusia duniawi ukhrawi.
Al-Qur’an adalah petunjuk utama untuk semua umat manusia hudan linnas demikian firman Allah SWT. Al-Qur’an merupakan petunjuk kejalan yang lurus bagi segenap umat manusia guna menggapai kebahagiaan hidup dunia dan akhirat. Didalamnya termuat beberapa dasar atauran hokum yang mengatur segala aspek kehidupan umat manusia. Dalam pada itu Al-Qur’an juga mengandung motivasi dan sugesti untuk meneliti ilmu pengetahuan yang masih cukup banyak dan belum disentuh oleh kalangan cendekiawan secara konstektual.










BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Wahyu dan Al-Qur’an
Al-Wahyu atau wahyu adalah kata masdar (infinitif); dan materi itu menunjukkan dua pengertian dasar, yaitu: tersembunyi dan  cepat. Oleh karena itu, maka dikatakan wahyu ialah pemberitahuan secara tersembunyi dan cepat yang khusus ditunjukan kepada orang yang diberitahu tanpa diketahi orang lain. Menurut ilmu bahasa, wahyu ialah : isyarat yang cepat dengan tangan dan suatu isyarat yang dilakukan bukan dengan tangan, juga bermakna surat, tulisan, sebagaimana bermakna pula segala yang kita sampaikan kepada orang lain untuk diketahuinya.
Wahyu itu ialah: yang dibisikan kedalam sukma, diilhamkan dan isiyarat cepat yang lebih mirip kepada dirahasiakan daripada dilahirkan.
Pengertian wahyu dalam arti bahasa meliputi:
1.     Ilham sebagai bawaan dasar manusia, seperti wahyu terhadap ibu Nabi Musa:
وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيه
“Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa: “Susuilah dia… “ (Al-Qashas [28]:7).
2.     Isyarat yang cepat melalui rumus dan kode, seperti isyarat Zakaria yang diceritakan Al-Qur’an:
فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ مِنَ الْمِحْرَابِ فَأَوْحَى إِلَيْهِمْ أَنْ سَبِّحُوا بُكْرَةً وَعَشِيًّا
“Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka; hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang.”’ (Maryam [19]:11).
3.     Bisikan dan tipu daya setan untuk menjadikan yang buruk kelihatan indah dalam diri manusia.
وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ
“Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu;” (Al-An’am [6]:121).
4.     Apa yang disampaikan Allah kepada para malaikatnya berupa suatu perintah dan harus dikerjakan.
إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلائِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِينَ آمَنُوا
“(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman". (Al-Anfal [8]:12).
Sedangkan menurut istilah, wahyu ialah: sebutan bagi sesuatu yang dituangkan dengan cara yang tepat dari Allah kedalam dada Nabi-nabi-Nya, sebagaimana dipergunakan juga untuk lafadz Al-Qur’an. Dapat diartikan juga bahwa wahyu Allah kepada Nabi-nabi-Nya adalah: pengetahuan-pengetahuan yang Allah tuangkan kedalam jiwa Nabi, untuk mereka sampaikan kepada manusia untuk menunjuki dan memperbaiki mereka didalam dunia serta membahagiakan mereka di akhirat.
            Oleh sebab itu para ulama berpendapat mengenai cara turunnya wahyu Allah yang berupa Al-Qur’an kepada Jibril dengan beberapa pendapat:
1.     Bahwa Jibril menerimanya secara pendengaran dari Allah dengan lafalnya yang khusus.
2.     Bahwa Jibril menghafalnya dari lauhul mahfuz.
3.     Bahwa maknanya disampaikan kepada Jibril, sedang lafalnya adalah lafal Jibril, atau lafal Muhammad S.A.W.

B.    Pengertian Al-Qur’an
Pengertian Al-Qur’an secara etimologis merupakan masdar yang maknanya sinonim dengan kata qira’ah (bacaan). Al-Qur’an dengan arti qira’ah ini terdapat dalam ayat 17, 18 surat Al-Qiyamah.
¨bÎ) $uZøŠn=tã ¼çmyè÷Hsd ¼çmtR#uäöè%ur ÇÊÐÈ
#sŒÎ*sù çm»tRù&ts% ôìÎ7¨?$$sù ¼çmtR#uäöè% ÇÊÑÈ
17.  Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.
18.  Apabila kami Telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu.
Al-Lihyani (wafat 355 H) dan kebanyakan Ulama mengatakan bahwa kata Al-Qur’an  itu adalah lafaz masdar berwazan ghufran yang diambil dari lafaz Qaraa bermakna membaca. Kata Al-Qur’an dari bentuk mengucapkan masdar, tetapi yang dikehendaki maf’ul (yang dibaca) sesuai dengan ayat 17-18 surat Al-Qiyamah.[1]
Dari bermacam-macam pendapat mengenai pengertian Al-Qur’an pendapat diataslah yang dipandang lebih kuat dan lebih rajin sebab,pendapat tersebut relevan dengan kaidah-kaidah bahasa Arab dan ilmu sharaf.
            Pengertian Al-Qur’an secara terminologis mempunyai arti sebagai berikut:
            Pertama, Ulama Mutakallimin (ahli teologi Islam) berpendapat bahwa Al-Qur’an itu kalam Allah yang qadim bukan makhluk terbebas dari sifat-sifat kebendaan. Al-Qur’an adalah sifat yang qadim yang berhubungan dengan kalimat-kalimat azali dari awal surat Al-Fatehah sampai dengan akhir surat An-nas.
            Kedua, Ulama Ushuliyin, Fuqaha dan Ulama ahli bahasa berpendapat, bahwa Al-Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, dari awal surat Al-Fatihah sampai dengan akhir surat An-Nas.[2]
            Diantara Ulama ada yang memberikan definisi Al-Qur’an dengan singkat hanya dengan menyebutkan satu atau dua identitas saja, seperti:
القران هو الكلام المنزل علي النبي
Artinya:  “Al-Qur’an adalah kalam yang diturunkan kepada Nabi”
            DR. A.Yusuf Al-Qasim memberikan definisi Al-Qur’an sacara panjang lebar dengan menyebutkan beberapa identitasnya.
القران هو الكلام ا لمعجز المنز ل على النبي امكتوب فى المصا حف المنقو ل بالتواتر التعبد بتلا وته
Artinya: “Al-Qur’an ialah kalam yang mengandung mu’jizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw yang tertulis dalam mushaf yang diriwayatkan dengan mutawatir, membacanya bernilai ibadah”.
            Definisi Al-Qur’an tersebut mencakup unsure-unsur I’jaz, diturunkan kepada Nabi, tertulis dalam mushaf, diriwayatkan dengan mutawatir dan membacanya bernilai ibadah.[3]
            Adapula Ulama yang memberikan definisi Al-Qur’an secara sedang dengan menyebutkan tiga atau empat identitas Al-Qur’an.
القران هو الكلام ا لمعجز المنز ل على النبي صلى الله علىه وسلم المنقو ل بتلا وته
Artinya: “Al-Qur’an ialah kalam yang mengandung mu’jizat, diturunkan kepada Nabi yang membacanya bernilai ibadah”.
            Ada Ulama yang membuat definisi Al-Qur’an secara maksimal, dengan panjang lebar, menyebutkan semua identitas Al-Qur’an yang meliputi kalam Allah yang mengandung mu’jizat, diturunkan kepada Nabi, diriwayatkan secara mutawatir, tertulis dalam mushaf dan membacanya bernilai ibadah, diawali dari permulaan surat Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat An-Nas.
            Misalnya definisi Al-Qur’an dari Syekh Ali Ash-Shabuni, sebagaimana yang dinukil oleh DR. Abdul Djalal:
القران هو الكلام الله ا لمعجز المنز ل خا تم الا نبياءوالمرسلين بواسطة الامين جبريل المكتوب فى المصاحف المنقول الينابالتواترالمتعبدبتلاوته المبدؤبسورة الفاتحةوالمختوم بسورةالناس
Artinya: “Al-Qur’an ialah kalam Allah yang mengandung mu’jizat, diturunkan kepada pamungkas para nabi dan rasul dengan perantaraan Malaikat terpercaya Jibril, tertulis dalam mushaf yang dinukilkan kepada kita secara mutawatir, membacanya bernilai ibadah, yang dimulai dari surat Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat An-Nas.”
Dengan demikian, dalam mendifinisikan Al-Qur’an itu ada tiga kelompok ulama:
a.      Ulama yang mendifinisikan Al-Qur’an secara singkat. Hanya dengan menyebutkan dua identitasnya saja yaitu kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.
b.     Ulama yang mendifinisikan Al-Qur’an secara sedang. Dengan menyebutkan tiga atau empat identitasnya yaitu kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, diriwayatkan secara mutawatir dan ditulis dalam mushaf.
c.      Ulama yang membuat definisi Al-Qur’an secara maksimal dan panjang lebar. Dengan menyebutkan semua identitas Al-Qur’an yang meliputi kalam Allah yang mengandung mu’jizat, diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, diriwayatkan secara mutawatir, tertulis dalam mushaf dan membacanya bernilai ibadah, diawali dari surat Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat An-Nas.[4]

C.    Nama-nama Al-Qur’an
Al-Qur’an mempunyai beberapa nama yang kesemuanya menunjukkan kedudukannya yang tinggi dan luhur, dan secara mutlak Al-Qur’an adalah kitab samawy yang paling mulia. Karena dinamailah kitab samawy itu dengan: Al-Qur’an, Al-Furqon, Ad-Dzikr, Al-Kitab, Al-Tanzil dan sebagainya. Masing-masing nama tersebut diambil dari ayat-ayat sebagai berikut:
a.      Alasan dinamainya dengan Al-Qur’an ialah karena banyak (kata-kata Al-Qur’an) terdapat dalam ayat, antara lain firman Allah S. W. T.: Qaaf: 1:
ق و القران المجد
b.     Nama al-Furqan diambil dari sirat al-Furqan ayat 1:
تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا
Artinya:
Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al Al-Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.
Al-Furqon artinya pemisah, nama ini member petunjuk bahwa Al-Qur’an berfungsi sebagai pemisah dan pemilah antara kebenaran dan kebatilan.
c.      Nama adz-Dzikr diambil dari surat al-Anbiya ayat 50:
وَهَذَا ذِكْرٌ مُبَارَكٌ أَنْزَلْنَاهُ
Artinya:
“Dan Al Al-Qur’an ini adalah suatu kitab (peringatan) yang mempunyai berkah yang telah Kami turunkan”.
d.     Nama at-Tanzil diambildari surat asy-Syu’ara ayat 192.
وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Artinya:
Dan sesungguhnya Al Al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam”.
Nama at-Tanzil ini memberikan petunjuk bahwa Al-Qur’an itu benar-benar wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.
Demikian Al-Qur’an memiliki banyak nama, Iman Az-Zakarsy dalam kitabnya Al-Burhanfi Ulum Al-Qur’an menyebutkan 55 nama Al-Qur’an bahkan ada sementara ulama yang menyebutkan lebih dari 90 nama. Namun DR. Shubhi Ash-Shaleh mandang terjadi kerancuan pemberian nama-nama Al-Qur’an tersebut. Mereka tidak membedakan antara nama Al-Qur’an dengan sifat dan fungsinya.[5]




DAFTAR PUSTAKA
·       Maragustam, Al-Qur’an.
·       Munawir Fajrul, Majid Abdul, dan Muhammad, Al-Qur’an, Pokja akademik UIN Sunan
Kalijaga, Yogyakarta, 2005.
·       Manna Kholil al-Qattan, Studi Ilmu-Ilmu Al-Qur’an, Litera Anta Nusa, Jakarta
1994
·       Rasihan Anwar, Ulumul Qur’an, Pustaka Setia, Bandung, 2009.


[1] Subhi as-Salih,Mabahis fi Ulum Al-Qur’an. (Bairut: Dar Al-mililmalayin, 1974), hlm 19.
[2]  Az-Zaqani, Manabil Al-Irfan fi Ulama Al-Qur’an, (Beirut: Dar Ihya At-Turas Al-Arabi, t.t.), hlm. 18.
[3] Abdul Djalal, Ulumul Al-Qur’an, (Surabaya: Dunia Ilmu,200), hlm. 9.
[4] Ibid, hlm. 11
[5] Subhi Ash-Shalih, Mababis Fi …, hlm. 21.

No comments:

Post a Comment