Thursday, 17 November 2011

OBSERVASI SISWA SMA UII


OBSERVASI SISWA SMA UII
Observasi ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Guidance and Counseling
Dosen Pengampu:
Drs. H. Suismanto, M.Ag.





Disusun oleh :

 Abdul Latif        09470101





JURUSAN KEPENDIDIKAN ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2011

HASIL WAWANCARA SISWA SMA UII YOGYAKARTA

A.    Tinjauan Awal Tentang Kasus
Sebelum meninjau tentang kasus, perlu diketahui sebelumnya bahwa siswa yang diobservasi ialah:
Nama  : Syaiful Anwar
Usia     :17 Tahun
Kelas   : II IPS
Seorang siswa SMA UII Yogyakarta kelas II-IPS laki-laki menunjukkan gejala jarang masuk sekolah, sering melanggar tata tertib sekolah, dan prestasi belajarnya rendah.
Siswa tersebut sering membolos, terutama pada mata pelajaran yang dia tidak sukai yaitu Akutansi dan guru yang menurut dia kejam atau galak dalam memberikan mata pengajaran. Dirumah, siswa tersebut tidak mempunyai tempat belajar dan bahkan tidak mempunyai teman kelompok untuk belajar. Ia banyak menghabiskan waktu luangnya untuk bermain-main dengan teman-teman sebayanya yang mana ketika bermain sering lupa akan waktu dan bahkan sampai menjelang pagi atau bergadang sehingga itu menyebabkan ia seringkali terlambat masuk sekolah.
Data lain menunjukkan bahwa siswa yang bersangkutan adalah anak terakhir dari empat bersaudara. Tiga saudaranya sudah ada yang bekerja dan ada yang sudah masuk perguruan tinggi swasta di Yoyakarta.
Siswa yang bersangkutan sebenarnya tidak disetujui oleh orang tuanya dikarenakan orang tuanya tidak begitu menginginkan jika anaknya masuk di kelas IPS, sedangkan yang diinginkan orang tuanya yaitu jurusan IPA.


Dilihat dari keempat dimensi kemanusiaan sebagai berikut :
·       Individualitas        : - belajar cenderung rendah
·       Social                    : - suka bergaul yang kurang baik
   -suka bergadang/bermain
·       Moralitas              : -kurang baik
·       Religiusitas           : -

B.    Pemahaman Terhadap Kasus
Kemungkinan Rincian, Sebab, dan Akibat Permasalahan yang Terkadang di dalam Setiap Kasus.
1.     Prestasi belajar rendah
Gambaran yang lebih rinci:
-        Nilai rapor banyak merahnya;
-        Dari waktu ke waktu nilai menurun;
-        Nilai tugas, ulangan dan ujian rendah;
-        Mendapat peringkat di bawah rata-rata untuk keseluruhan murid dalam satu kelas.
Kemungkinan sebab:
-        Tingkat kecerdasannya di bawah rata-rata;
-        Malas belajar;
-        Kekurangan sarana belajar
-        Proses belajar-mengajar disekolah kurang merangsang dan menarik;
-        Kekurangan waktu belajar;
-        Keharmonisan keluarga tidak mendukung;
-        Kurang perhatian yang lebih oleh orang tua terhadap seorang anak;
-        Kekurangan sarana belajar;
-        Kurangnya bergaul kepada teman yang rajid dalam belajar atau tidak mempunyai teman kelompok dalam belajar.

Kemungkinan Akibat
-        Tidak naik kelas;
-        Dikeluarkan dari sekolah;
-        Tidak mampu melanjutkan pelajaran;
-        Kesulitan dalam mencari kerja.

2.     Bentrok dengan guru atau tidak menyukai guru
Gambaran lebih rinci:
-        Tidak mau mengikuti pelajaran dengan guru tersebut;
-        Tidak mau menegur jika bertemu atau berpapasan;
-        Malu dan takut terhadap guru tersebut;
-        Tidak mau bertemu dengan guru tersebut;
-        Mempengaruhi teman-temannya untuk bersikap serupa terhadap guru tersebut;
-        Memakai kata-kata yang tidak baik untuk mengungkapkan ketidak sukaan terhadap guru tersebut, terutama ketika di belakang guru atau ketika bersama teman-temannya;
Kemungkinan sebab:
-        Watak yang keras;
-        Aturan dan sopan santun yang berlaku di lingkungan baik di rumah maupun di lingkungan pertemanan diluar sekolah berbeda dengan apa yang ada di lingkungan sekolah;
-        Tidak begitu dipedulikan oleh kedua orang tuanya;
-        Tidak menyukai mata pelajaran yang diajarkan oleh guru;
-        Tidak menyukai guru tersebut;
-        Kurang dipedulikan oleh guru dan kemungkinan tidak begitu memahami aturan yang berlaku di sekolahan.

3.     Kurang berminat pada mata pelajaran
Gambaran yang lebih rinci:
-        Tidak dapat konsentrasi terhadap mata pelajaran yang sifatnya perhitungan dan menggunakan rumus;
-        Tidak bisa memahami satu-persatu atau bab-perbab tentang mata pelajaran yang dimaksud, sehingga menyebabkan anak atau siswa tersebut mudah putus asa;
-        Tidak mau mengerjakan atau menulis materi yang diberikan oleh guru;
-        Tidak mau mengerjakan contoh soal yang diberikan oleh guru;
-        Tidak maau mengerjakan tugas rumah yang diberikan oleh guru.
Kemungkinan sebab:
-        Tidak memiliki bakat dalam mata pelajaran hitung-menghitung;
-        Mata pelajaran yang dianggap sangat sulit (ribet);
-        Guru tidak teliti terhadap siswa yang mempunyai kekurangan dalam mata pelajaran tersebut;
-        Dengan guru kurang menarik dan menyenangkan;
-        Orang tua kurang memperhatikan;
-        Merasa terpaksa mengikuti mata pelajaran tersebut.
Kemungkinan akibat:
-        Pindah jurusan;
-        Kegiatan belajar untuk mata pelajaran lain terganggu;
-        Terjadinya bentrok terhadap orang tua yang tidak sesuai keinginan orang tua.

4.     Membolos
Gambaran yang lebih rinci:
-        Sering main play station dan bliard;
-        Nongkrong di tempat-tempat warnet;
-        Main dirumah teman yang sudah tidak sekolah;
-        Maian ke rumah teman yang jauh dan kemudian menginap sampai akhirnya tidak masuk berhari-hari;
-        Tidak masuk sekolah tanpa izin;
-        Sering keluar pada jam pelajaran;
-        Tidak masuk kembali setelah minta izin keluar;
-        Memprofokasi teman-teman untuk tidak masuk mata pelajaran yang tidak ia sukai;
-        Berpura-pura sakit ketika proses belajar berlangsung dan kemudian meminta untuk diizinkan pulang;
-        Meminta izin tanpa alasan yang pasti dan dibuat-buat;
-        Tidak masuk kelas lagi setelah jam istirahat ke-dua.
Kemungkinan sebab:
-        Tidak senang dengan mata pelajaran dan guru pengajar;
-        Merasa tidak dianggap atau tidak diperhatikan;
-        Merasa gagal dalam belajar atau putus asa;
-        Terpengaruh oleh teman-teman yang membolos;
-        Takut masuk karena takut disuruh mengerjakan tugas;
-        Takut masuk karena tidak mengerjakan tugas;
-        Tidak membayar SPP;
-        Proses belajar-mengajar membosankan.
Kemungkinan akibat:
-        Dikeluarkan dari sekolahan;
-        Tidak naik kelas;
-        Diperingatkan secara keras dan dipanggil orang tuanya atau walinya;
-        Hasil belajar tidak memuaskan;
-        Tidak paham sama sekali tentang mata pelajran yang dinaksud.

C.    Penanganan Kasus
1.     Penanganan secara khusus
Perlu diketahui terlebih dahulu bahwa pokok permasalahan secara garis besar yaitu “ siswa tersebut sering tidak masuk sekolah atau membolos sekolah dan ketidak inginan orang tuanya yang anaknya masuk dijurusan IPS”. Dalam kaitan itu, pertanyaan pokok yang harus dijawab ialah : upaya apakah yang perlu dilakukan supaya “anak tersebut selalu masuk sekolah dan bagaimana meyakinkan orang tua jika ia mampu atau akan sukses meskipun dijurusan IPS?”. Pertanyaan itulah yang sebenarnya menjadi inti penanganan kasus tersebut.
Dalam menangani inti permasalahan siswa itu, dua hal perlu mendapatkan perhatian utama. Pertama, seringnya tidak masuk sekolah atau membolos sekolah, dan kedua, meyakinkan kepada orang tuanya bahwa ia pasti akan sukses atau berhasil meskipun berada dijurusan IPS. Yang perlu ditekankan atau dijelaskan bahwa bukan berarti kenapa siswa tersebut sering membolos sekolah karena sepenuhnya tekanan dari orang tuanya. Namun demikian, “tekanan orang tua” merupakan suatu motivasi tersendiri supaya siswa tersebut dapat membuktikan bahwa dirinya pasti bisa menjadi orang tua inginkan. Tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya gagal dalam hal apapun akan tetapi terkadang orang tua belum bisa mengerti apa yang menjadi tolak ukur kesuksesan atau keberhasilan seorang siswa. Dan semua itu perlu dijelaskan kepada orang tua supaya paham dan yakin. Untuk menjelaskannya perlu dilakukan pendekatan seorang anak kepada orang tuanya atau pendekatan secara halus dan kemudian meyakinkannya.
Masalahnya sekarang ialah, bagaimana menumbuhkan semangat atau member motivasi supaya anak tersebut semangat dalam belajar sehingga dapat membuktikan bahwa ia pasti akan berhasil?. Dengan kata lain, mematahkan pendapat orang tua bahwa jurusan IPS juga bisa lebih baik daripada jurusan IPA. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, pelayanan konseling menyediakan teknik yang disebut motivator, guru spiritual, atau konselor bahkan ahli psikis sekalipun. Dengan teknik ini siswa akan termotivasi, semangat untuk selalu belajar dan masuk sekolah.
Tidak hanya itu saja dalam penanganan masalah, dalam arti tidak hanya siswa yang diberikan bimbingan melainkan orang-orang yang berpengaruh besar terhadap anak itu, seperti orang tua, guru, serta orang lain yang amat erat hubungannya.orang-orang yang sangat berpengaruh biasanya memiliki sumber daya yang sebesar-besarnya dapat dimanfaatkan dalam penanganan masalah yang dialami itu. Selanjutnya, pihak-pihak dan sumber daya lain yang perlu dikerahkan ialah berbagai unsure yang tedapat di lingkungan orang yang mengalami masalah, baik lingkungan social, fisik maupun lingkungan budaya. Namun pada intinya keterlibatan konselor itu merupakan hal yang paling penting dikarenakan konselor secara menyeluruh menangani kasus dari awal sampai akhir.


D.    Penyikapan Terhadap Kasus
Penyikapan pada umumnya mengandung unsur-unsur kognisi, afeksi dan perlakuan terhadap objek yang disikapinya. Beberapa hal yang dapat dilakukan konselor dalam penyikapan terhadap kasus, antara lain:
1.     Memberikan keyakinan kepada siswa tersebut bahwa siswa tersebut pasti bisa menjadi yang terbaik sehingga dapat membuktikan kepada orang tuanya, dengan kata lain yaitu memberikan motivasi.
2.     Memberikan pemahaman dan penghayatan kepada siswa bahwa dalam perjalanan hidup seseorang dapat mengalami berbagai permasalahan, akan tetapi seorang konselor perlu memberikan pengetahuan bahwa setiap orang pasti bisa mengatasi permasalahannya dan Tuhan pun tidak akan memberikan cobaan atau masalah yang mana manusia itu tidak bisa menyelesaikannya, dalam arti Tuhan pasti memberikan cobaan yang mana manusia pasti bisa mengatasinya dengan banyak cara dan jangan mudah putus asa.
3.     Pemahaman dan penghayatan untuk siswa tersebut bahwa apa yang dilakukan orang tua bukan berarti salah akan tetapi, orang tua sebenarnya sayang terhadap anak tersebut. Meskipun cara yang dilakukannya tidak tepat dan bahkan tidak memberikan pengarahan. Apa yang diinginkan orang tua pastinya yang teerbaik buat anaknya.
Dari segi lain yang perlu dilakukan yaitu sebagai berikut:
1.     Setelah memberikan dukungan atau motivasi kepada siswa tersebut maka langkah selanjutnya yaitu memberikan penghargaan atau hadiah baik itu secara individu maupun kelompok.
2.     Seorang konselor harus bisa merasakan apa yang sedang dirasakan oleh pasien atau siawa tersebut sehingga akan mudah untuk memahami dan mencarikan jalan keluar dalam memecahkan masalah.
3.     Berikan contoh atau berikan sikap-sikap positif terhadap siswa itu.


Sekian Terimakasih

No comments:

Post a Comment