MENEROPONG
SISTEM PENDIDIKAN DI INDIA; IMPOR KESEDERHANAAN DAN SEMANGAT BELAJAR DARI INDIA
BAB I
PENDAHULUAN
Mahasiswa sering dielu-elukan sebagai “agent of
change” , “ agent of modernization” atau bahkan sebagai “agent of
development”. Dan sebagaimana yang diungkapkan Yozan Anwar dalam
“Pergolakan Mahasiswa Abad ke-20″ bahwa ada satu persamaan seluruh
gerakan mahasiswa di dunia yaitu berjuang untuk menegakkan keadilan dan
kebenaran. Namun, beberapa tahun belakangan ini terdapat satu kegerahan
yang sangat mendalam terhadap pola pikir dan tingkah laku mahasiswa di
Indonesia. Bergesernya pola pendidikan yang terjadi di sejumlah
perguruan tinggi di tanah air menyebabkan perhatian mahasiswa mulai beralih
pada persoalan yang sebenarnya jauh dari nuansa akademik. Mahasiswa
menjadi asyik dengan “kesibukan-kesibukan” di organisasinya dan nyaris
menelantarkan waktu perkuliahan dan jam-jam belajar.
Negara bagai kehilangan satu generasi pemimpin yang
cerdas ketika orientasi pemikiran kritis mahasiswa sudah mengarah pada hal-hal
yang pragmatis. Tiada hari tanpa demonstrasi seakan telah menjadi trademark para aktivis kampus. Pola pikir
mahasiswa yang kritis mulai dicemari dengan aksi politik praktis. Padahal menurut
Scott, inti kegiatan dari suatu perguruan tinggi adalah keilmuan dan akademik.
Seyogianya, jika dilakukan dalam porsi yang benar, untuk tujuan mengkader diri,
organisasi tetap penting sepanjang peran organisasi-dengan visi dan misinya
yang membangun-untuk kemajuan mahasiswa, bangsa dan negara di masa yang akan
datang. Organisasi memiliki kemampuan mengubah pola pikir dan budaya mahasiswa
menjadi lebih baik.
Namun, kenyataan berkata lain, hari ini ruh
organisasi mahasiswa telah terinfeksi virus-virus pengganggu sehingga pelaku
organisasi yaitu mahasiswa tidak lagi berfikir dalam nuansa akademis, melainkan
lebih cenderung politis yang mengusung kepentingan-kepentingan sekelompok
orang. Gejolak mahasiswa yang dirasa semakin parah menjadi landasan pola pikir
dalam upaya membangun dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di kalangan
civitas akademika khususnya mahasiswa di Indonesia dan merupakan suatu
kewajiban mutlak yang harus ditunaikan segera. Adapun di dalam tulisan ini
setidaknya dikhususkan pada hal yang berkenaan dengan aktivitas perpustakaan,
sarana pembelajaran dan proses belajar mengajar di universitas University of Delhi dan Jamia Millia Islamia.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Sekilas tentang University of Delhi
dan Jamia Millia Islamia
India dalam perkembangannya telah
menjadi pijakan utama dari masa ke masa dalam hal nilai-nilai pembelajaran, hal
itu dibuktikan dengan adanya universitas terbaik dunia seperti BITS, ISB, IITs, NITs, IISc, IIMs, AIIMS,[1]
selain itu ada juga University of Delhi dan Jamia Millia Islamia.[2] Meskipun
demikian, India masih harus dihadapkan dengan mengatasi
tantangan dalam pemenuhan pendidikan dasar guna mencapai angka 100% melek huruf,
selain itu tantangan untuk menjaga anak-anak
dari keluarga kurang mampu untuk bersekolah, serta menjaga kualitas pendidikan
di daerah pedalaman.
New Delhi merupakan pusat pendidikan di
daerah India Utara. University of Delhi merupakan salah satu kampus terbaik di
India yang terkenal dengan kualitasnya dalam sistem pembelajaran dan penelitian
serta telah menghasilkan sarjana di berbagai bidang keilmuan. University of
Delhi didirikan pada tahun 1922 sebagai pusat pendidikan oleh pemerintah. Pada
masa awal pendiriannya, University of Delhi hanya memiliki dua fakultas yaitu Art Faculty dan Science Faculty yang terdiri dari tiga kampus utama yaitu St. Stephens College (1881), Hindu College (1899), dan Ramjas College (1917), yang dapat
menampung 750 mahasiswa.
Menyadari pentingnya pengembangan aspek
akademis, pada tahun 1933, Sir. Maurice Gwyer yang menjabat sebagai Vice
Chancellor mendatangkan para professor yang kompeten di berbagai bidang
keilmuan untuk mengajar di kampus tersebut. Pengembangan kampus terus dilakukan
dari masa ke masa hingga pada saat ini University of Delhi telah memiliki 14
fakultas, 86 departemen, dan 79 collage
yang tersebar di seluruh kota New Delhi.
Dalam upaya pengembangan kampus pada
tahun 70-an, University of Delhi menerapkan kerangka organisasi baru melalui
konsep multi-kampus. Di daerah Dhaula Kuan didirikan The South Campus pada awal tahun 1973 yang dimulai dengan program Postgraduate di Faculty of Art dan Faculty of Social Sciences. Selanjutnya
didirikan pula The East Campus dan The West Campus yang
masing-masing fokus pada bidang kedokteran dan teknologi.
University of Delhi telah banyak
menerima penghargaan dalam berbagai bidang sejak tahun 60-an antara lain bidang
fisika, kimia, pertanian, peternakan, ekonomi dan sosiologi di mana pada saat
sekarang ini universitas tersebut telah menjadi pusat penelitian dan
pengembangan ilmu pengetahuan. Selain itu, sejumlah award telah diperoleh berbagai departemen di universitas ini.
Tak jauh berbeda dari sisi kualitas, Jamia
Millia Islamia juga merupakan salah satu kampus terbaik yang terdapat di New
Delhi, India. Jamia Millia Islamia yang merupakan kampus bermayoritas Muslim
dikenal dengan kualitasnya dalam sistem pembelajaran dan penelitian serta telah
menghasilkan sarjana di berbagai bidang keilmuan, khususnya yang berkaitan
dengan ilmu-ilmu keislaman. Walaupun mayoritas sivitas akademika di kampus ini
beragama Islam, namun kampus ini tidak membedakan kasta, agama maupun ras.
Jamia Millia Islamia didirikan pada tahun 1920 di New Delhi sebagai pusat
pengembangan ilmu pengetahuan oleh pemerintah.
Sistem
pendidikan India saat ini menggunakan pola dan substansi yang diadopsi dari
negara Barat, di mana pertama kali diperkenalkan oleh negara Inggris pada abad
ke-19 yang merupakan rekomendasi dari Macaulay. Adapun universitas pertama
sejarah mencatat adalah kedokteran di Calicut pada tahun 1942-1943. Struktur
tradisional tidaklah dikenal oleh pemerintahan Inggris dan struktur demikian
telah dihapuskan pada saat itu juga. Mahatma Gandhi menjelaskan bahwa sistem
pendidikan tradisional merupakan suatu pohon ilmu yang sangat indah, namun
telah dihancurkan selama berkuasanya Inggris di negara tersebut.[3]
Jamia Millia Islamia mengadopsi sistem
pendidikan yang sama dengan University of Delhi, yaitu sistem Eropa dan sistem
Amerika. Dengan gabungan sistem ini tingkat keseriusan belajar mahasiswa sangat
tinggi. Strategi yang digunakan dalam proses pembelajaran bagi mahasiswa di
Jamia Millia Islamia adalah “independent learning”. Mereka lebih banyak
meluangkan waktu dengan belajar sendiri dan memperbanyak waktu membaca.
Berbeda dengan University of Delhi,
Jamia Millia Islamia tidak memberlakukan system porsi penilaian sebagaimana
yang terdapat di University of Delhi. Keseluruhan nilai mata kuliah mutlak
diperoleh dari hasil ujian final mahasiswa, tanpa ada komponen kehadiran maupun
tugas-tugas. Jadi tidak ada kewajiban bagi mahasiswa untuk hadir penuh dalam
perkuliahan, hanya saja mahasiswa akan kesulitan untuk mengikuti ujian jika
tidak mengikuti perkuliahan dengan dosen di kelas. Di kampus ini, metode yang
dipakai adalah metode chapter. Artinya, setiap tahun ajaran mahasiswa
diberikan sejumlah chapter (mata kuliah) yang akan ditempuh selama satu
tahun ajaran. Hal ini berbeda dengan University of Delhi yang menggunakan
sistem per semester.
B.
Sarana Perpustakaan sebagai
Motivator Utama
Perpustakaan merupakan jantung perguruan
tinggi. Denyut kehidupan akademis dimulai dari susunan buku-buku. Perguruan
tinggi yang berkualitas baik sejatinya memiliki sarana perpustakaan yang baik
pula. Tidak mengherankan jika banyak perguruan tinggi di luar negeri yang
mencapai puncak keilmuannya dimulai dari perpustakaan yang memiliki koleksi
lengkap dan banyak. Dalam pengamatan kami, baik University of Delhi, maupun Jamia
Millia Islamia, keduanya mengagungkan perpustakaan sebagai pusat ilmu
pengetahuan. Perpustakaan seolah menyedot para pengembara yang haus ilmu untuk
berlama-lama menghabiskan waktu bercinta dengan koleksi perpustakaan.
Central
Library di University of Delhi yang didirikan pada
tahun 1922 pada saat ini telah memiliki lebih dari 1,5 juta judul buku dari
berbagai bidang ilmu. Anggaran tahunan yang dialokasikan untuk perpustakaan ini
sebesar 2% dari anggaran universitas. Pihak perpustakaan juga bekerja sama dengan
penerbit yang mensuplai buku-buku bagi perpustakaan. Tak kalah hebatnya,
perpustakaan DR. Zakir Husein yang terdapat di Jamia Milia Islamia telah
memiliki lebih dari 302.000 buah buku dari berbagai bidang ilmu pengetahuan,
445 buah jurnal, 600 Tesis, 200 Microfilm, 30 Compact Disc, 3000 Manuscript,
dan 17 Special Collection. Koleksi buku-buku maupun jurnal menggunakan lima
bahasa yaitu : buku berbahasa Urdu 25000, Hindi 12000, Persia 2600, Arabic
3000, dan yang lainnya menggunakan bahasa Inggris. Selain bekerja sama dengan
penerbit dalam pengadaan koleksi buku, perpustakaan Dr. Zakir Husein juga
menerima bantuan khusus dari pemerintah India.[4]
Kedua perpustakaan ini juga dilengkapi
dengan fasilitas fotokopi dan internet gratis. Selain memiliki Central Library, baik di University of
Delhi maupun di Jamia Millia Islamia, setiap fakultas dan departemen juga
mempunyai perpustakaan masing-masing. Setiap bulan, kedua perpustakaan ini
membeli sekitar 1000-2000 eksemplar buku baru tergantung dari kebutuhan dan anggaran
dana yang ada. Biasanya pembelian buku ini berdasarkan jumlah permintaan
mahasiswa, rekomendasi dari dosen maupun informasi buku baru dari penerbit.
Mendapati jumlah sirkulasi harian buku di kedua perpustakaan ini yang berkisar
antara 700-1000 buku per hari menggambarkan ramainya aktivitas di tempat ini.
Banyak fasilitas yang disediakan di perpustakaan seperti ruang baca, pelayanan
peminjaman buku, internet searching, interlibrary loan dan juga fasilitas
fotokopi namun dibatasi hanya 1-2 bab dari setiap buku. Dengan adanya fasilitas
internet searching, perpustakaan
dapat diakses melalui internet di luar kampus.
Mekanisme peminjaman buku di
perpustakaan pusat University of Delhi masih menggunakan sistem manual yang
disebut reader ticket. Mahasiswa diberikan 5 buah kartu sirkulasi dengan warna
yang berbeda. Satu kartu berwarna hitam yang disebut reader card digunakan untuk peminjaman buku referensi, artikel
maupun disertasi yang lama peminjaman hanya 3 hari namun dapat diperpanjang,
sedangkan empat buah kartu berwarna biru yang disebut library card digunakan untuk peminjaman text book (buku
biasa), lamanya peminjaman sampai satu tahun ajaran. Jadi, mahasiswa tidak
perlu membeli buku, perpustakaan menyediakan berbagai buku yang dibutuhkan
mahasiswa. Sebelum ujian akhir semester, terdapat sistem clearance yang mewajibkan seluruh mahasiswa mendapatkan surat
clearance dari perpustakaan. Surat ini hanya dapat diperoleh dengan
mengembalikan seluruh buku yang masih berada di tangan mahasiswa. Jika buku
yang dipinjam rusak atau hilang, mahasiswa harus mengganti kerugiannya.
Di perpustakaan ini diberlakukan denda
atas keterlambatan pengembalian buku referensi sebesar Rs. 10 per hari (Rs. 1,-
= Rp. 200,-). Selain mahasiswa dan dosen, pengguna perpustakaan hanya
diperbolehkan membaca buku di ruangan dan tidak diperbolehkan meminjam buku.
Jika buku yang dibutuhkan mahasiswa tidak tersedia di perpustakaan, maka pihak
perpustakaan akan mencarikannya di perpustakaan lain, atau mengkopikan buku
yang diperlukan atau menghubungi penerbit. Namun, hal ini jarang terjadi sebab
jumlah eksemplar buku yang terdapat di perpustakaan ini dapat memenuhi
kebutuhan mahasiswa. Perpustakaan ini buka setiap hari kecuali hari kemerdekaan,
hari republik, hari raya dan hari Gandhi Jayanthi. Jadwal resmi pelayanan
perpustakaan yaitu hari senin-jumat mulai pukul 9.00- 17.00, hari Sabtu-Minggu
mulai pukul 10.00-16.30. Akan tetapi pada nyatanya perpustakaan ini dapat buka
hingga pukul 22.00 dan pada waktu ujian dapat melayani selama 24 jam nonstop.
Tak jauh berbeda dengan yang diterapkan
di perpustakaan sentral University of Delhi, mekanisme peminjaman buku di
perpustakaan DR. Zakir Husein juga masih menggunakan sistem manual yang disebut
reader ticket. Bedanya, mahasiswa
diberikan 6 buah kartu sirkulasi dengan warna yang berbeda. Satu kartu berwarna
putih yang disebut kartu induk perpustakaan sebagai tanda bahwa mahasiswa sudah
terdaftar menjadi anggota perpustakaan. Dan 5 kartu berwarna hitam digunakan
untuk meminjam buku-buku panduan perkuliahan, artikel, maupun disertasi yang
lama peminjaman selama satu minggu, akan tetapi dapat diperpanjang. Jadi,
mahasiswa tidak perlu membeli buku, perpustakaan menyediakan berbagai buku yang
dibutuhkan mahasiswa. Sebagaimana berlaku di University of Delhi, sebelum ujian
akhir semester, terdapat sistem clearance
yang mewajibkan seluruh mahasiswa mendapatkan surat clearance dari perpustakaan.
Di central
perpustakaan di Jamia Milia Islamia tidak diberlakukan denda atas keterlambatan
pengembalian buku atau yang lainnya seperti artikel maupun disertasi. Selain
mahasiswa dan dosen, pengguna perpustakaan hanya diperbolehkan membaca buku di
ruangan dan tidak diperbolehkan meminjam buku. Jika buku yang dibutuhkan
mahasiswa tidak tersedia diperpustakaan, maka pihak perpustakaan akan meminta
mahasiswa atau dosen yang meminjam untuk menuliskan judul buku, pengarang, dan
penerbit baru kemudian pihak perpustakaan akan mencarikan bukunya. Perpustakaan
di Jamia Millia Islamia ini buka setiap hari kecuali hari kemerdekaan, hari
republik dan hari raya.
C.
Dahsyatnya Pola Perkuliahan dan
Sistem Ujian Akhir
Baik University of Delhi maupun Jamia
Millia Islamia, keduanya mengadopsi sistem pendidikan campuran, yaitu European system dan American system. Sistem pembelajaran yang diterapkan merupakan
gabungan dari keduanya, misalnya, dosen memberikan perkuliahan di ruang kelas
dan memberikan sejumlah tugas-tugas bagi mahasiswa.
Tingginya tingkat konsentrasi dan
keseriusan belajar mahasiswa yang berujung pada stres dan kejenuhan disiasati
dengan cara belajar di luar ruangan seperti di taman sambil menikmati udara
segar. Strategi yang diutamakan dalam proses pembelajaran bagi mahasiswa di
University of Delhi adalah independent
learning. Mereka lebih banyak meluangkan waktu dengan belajar sendiri dan
memperbanyak waktu membaca. Durasi waktu belajar mereka rata-rata 12-20 jam
perhari. Biasanya sebelum melaksanakan perkuliahan di ruang kelas, dosen
mewajibkan kepada mahasiswa untuk membaca sejumlah buku wajib yang berkenaan
dengan mata kuliah dan saat perkuliahan berlangsung, dosen menguji mahasiswa
dengan mengajukan pertanyaan atau kasus yang berkenaan dengan bahan bacaan yang
telah ditugaskan.
Hebatnya lagi, proses pembelajaran di
kedua kampus ini menggunakan bahasa Inggris. Pada umumnya kampus-kampus yang
terdapat di India menggunakan sistem pembelajaran dan penilaian ujian yang
berbeda dengan sistem yang diterapkan di Indonesia. Dosen sebagai tenaga
pengajar hanya memberikan kuliah di kelas berdasarkan silabus yang telah
ditetapkan departemen masing-masing. Jauh berbeda dengan apa yang selama ini
diterapkan di Indonesia, mekanisme pelaksanaan ujian di kedua kampus ini
memiliki 3 komponen pelaksana yang berbeda antara pembuat soal, pemeriksa dan
tim pembuat nilai. Di University of Delhi, sistem penilaian berdasarkan porsi
sebagai berikut: Kehadiran di kelas: 5 %, Ujian Internal: 10 %, Assigments: 10 % dan Ujian Final: 75 %.
Hal ini berbeda dengan apa yang berlaku di Jamia Millia Islamia dimana 100%
nilai mata kuliah berdasarkan ujian akhir tanpa komponen kehadiran, kuis maupun
tugas-tugas.
Di seluruh Universitas di India,
terdapat kesamaan sistem ujian yang diterapkan, dimana misalnya mahasiswa harus
menjawab 5 dari 7 pertanyaan yang diujikan dalam durasi 3 jam. Dari satu
pertanyaan, mahasiswa dituntut untuk menjawabnya dengan penalaran yang baik.
Dalam menjawab satu soal, mahasiswa harus mengemukakan introduction, teori dan pendapat para ahli mengenai masalah yang
diujikan, kritik terhadap teori, penalaran dan analisis mahasiswa serta penutup
dan kesimpulan. Dengan diterapkannya sistem ujian seperti ini, mahasiswa sangat
dituntut untuk banyak membaca dan meresume
buku serta menghabiskan waktunya untuk belajar. Terbatasnya waktu yang
diberikan serta tuntutan ujian yang “menggila” mengharuskan mahasiswa untuk
menjawab dan menuliskannya dengan tepat dan cepat, sebab dengan model soal
ujian seperti itu, mahasiswa disediakan kurang lebih 25 lembar kertas double folio untuk menuliskan jawaban.
Dan pastinya seluruh kegiatan ini menggunakan bahasa Inggris. Tak heran jika
kualitas lulusan perguruan tinggi di India setara dengan lulusan perguruan
tinggi di Barat.
Dengan pola pembelajaran yang begitu
ketat ditambah pola ujian yang sangat berat yang diterapkan di kedua kampus
ini, jika dibandingkan dengan model skripsi mahasiswa di kampus-kampus di
Indonesia, dapat dikatakan bahwa mahasiswa S1 dan S2 di University of Delhi
telah menulis paling sedikitnya 10-20 buah skripsi dalam masa kuliah 3 tahun.
Sebagaimana yang berlaku di University of Delhi, di Jamia Milia Islamia
penulisan skripsi pun bukan merupakan syarat utama kelulusan akhir bagi
mahasiswa S1. Jadi dengan filosofis ini, tidak perlu mempersyaratkan penulisan
skripsi di akhir tahun perkuliahan, kecuali untuk fakultas-fakultas tertentu
seperti misalnya Faculty of Law.
Namun bagi mahasiswa S3 diberlakukan penulisan disertasi, ada yang menggunakan
metode penelitian dengan analisa statistik dan ada juga yang menggunakan model
penelitian kualitatif, hal ini disesuaikan dengan jurusan masing-masing.
D.
Motivasi Tinggi Dalam Kebersahajaan
Seorang bijak mengatakan bahwa dengan
dorongan dan motivasi yang kuat, seseorang akan membuat perubahan, sebaliknya,
seseorang tanpa motivasi walaupun dengan fasilitas yang lengkap tidak akan
melakukan apa-apa. Fasilitas mewah bukan segalanya dalam mencapai mutu
pendidikan berkualitas. Berkenaan dengan hal ini, sebagaimana kita ketahui bahwa
ada banyak anak bangsa Indonesia yang berhasil mencapai prestasi akademik pada
tingkat internasional padahal mereka mengenyam pendidikan di Indonesia dengan
fasilitas seadanya. Keberhasilan mereka tersebar di berbagai bidang keilmuan
seperti pendidikan, teknologi, penelitian, hukum dan sebagainya. Sebut saja
Prof. Yohanes Surya, Prof. Ken Soetanto (profesor di Waseda University,
Jepang), Prof. B.J. Habibie, Prof. Dr. Azyumardi Azra, Prof. Dr. Nurcholis
Madjid dan banyak lagi. Mereka semua dulunya juga mengenyam pendidikan di
Indonesia dengan segala keterbatasan fasilitas. Lalu apa yang dapat disimpulkan
adalah bahwa walaupun dengan fasilitas sederhana dengan berbekal semangat dan
motivasi belajar yang dahsyat mereka mampu mencapai puncak prestasi dalam bidang
akademis. Namun seiring berjalannya waktu, semangat haus ilmu terasa semakin
tak mendahaga. Di banyak tempat di Indonesia, pencari ilmu dimanjakan dengan
berbagai fasilitas-fasilitas mewah yang katanya bertujuan untuk menunjang
proses pembelajaran, tapi kenyataannya hal itu malah menurunkan semangat
belajar generasi muda Indonesia yang berujung pada menurunnya kualitas akademis
mahasiswa Indonesia di mata dunia.
Prinsip kesederhanaan yang bersahaja
nampaknya masih dipegang teguh oleh kalangan civitas akademika baik di
University of Delhi maupun di Jamia Millia Islamia. Para civitas akademika
tidak terlalu mempermasalahkan soal fasilitas yang amat sederhana ini. Bagi
mereka, menghasilkan lulusan berkualitas jauh lebih penting ketimbang
meributkan soal fasilitas pendukung. Walaupun menurut Gunawan, sarana dan
prasarana pendidikan merupakan faktor kesuksesan kegiatan belajar mengajar.
Namun India, dengan kesederhaannya mampu mencetak lulusan-lulusan berkualitas. Adapun
untuk bangunannya menggunakan bangunan-bangunan tua untuk menuntut ilmu, ruang
belajarnya hanya berukuran kira-kira 5×6 meter yang hanya dilengkapi dengan
kursi-kursi kayu, meja belajar, papan tulis dengan kapur tulis-jangan bayangkan
white board berspidol- serta satu
unit kipas angin yang kalau di-on-kan akan mengeluarkan suara bising. Fasilitas
belajar di kampus ini memang sangat sederhana, namun kualitas lulusan Jamia
Milia Islamia University setara dengan lulusan kampus-kampus Eropa dan Amerika,
terbukti dengan masuknya Jamia Milia Islamia University ke dalam 100
universitas terkemuka se-India. Hal ini disebabkan tingginya kualitas dan
penekanan keilmuan dalam proses belajar mengajar terutama penguasaan bahasa
asing. Pada dasarnya, fasilitas belajar mengajar yang disediakan di kedua kampus
ini lengkap adanya namun dalam kondisi sederhana. Di kedua kampus ini terdapat,
hostel atau asrama bagi mahasiswa,
sarana olah raga, auditorium, panggung kesenian, laboratorium dan kantin.
Bicara soal gaji bagi pengajar, tak
tampak gelimang glamour pada gaya
hidup professor-profesor. Kehidupan mereka jauh dari kesan mewah. Tidak seperti
kebanyakan yang berlaku di Indonesia, keunggulan dan prestige seorang akademisi tidak diukur dengan indikator material,
namun mengarah pada kultur akademis yang mencipta, dengan seberapa sering
keilmuan dan pemikirannya yang dicurahkan dalam bentuk karya tulis masuk dalam
jurnal internasional dan seberapa tinggi frekuensi mengajar di universitas lain
terutama di kampus-kampus di luar negeri dan masih banyak lagi hal yang menjadi
indikator bagi seorang profesor yang berkualitas yang masih bernuansa akademik.
Mutu jauh lebih penting bagi India.
BAB III
KESIMPULAN
New Delhi merupakan pusat pendidikan di daerah India
Utara. University of Delhi merupakan salah satu kampus terbaik di India yang
terkenal dengan kualitasnya dalam sistem pembelajaran dan penelitian serta
telah menghasilkan sarjana di berbagai bidang keilmuan. Adapun Jamia Millia
Islamia juga merupakan salah satu kampus terbaik yang terdapat di New Delhi, India.
Jamia Millia Islamia yang merupakan kampus bermayoritas Muslim dikenal dengan
kualitasnya dalam sistem pembelajaran dan penelitian serta telah menghasilkan
sarjana di berbagai bidang keilmuan, khususnya yang berkaitan dengan ilmu-ilmu
keislaman.
University of Delhi maupun Jamia Millia Islamia,
keduanya mengadopsi sistem pendidikan campuran, yaitu European system dan American
system. Sistem pembelajaran yang diterapkan merupakan gabungan dari
keduanya, misalnya, dosen memberikan perkuliahan di ruang kelas dan memberikan
sejumlah tugas-tugas bagi mahasiswa.
Kemudian, kedua kampus tersebut memiliki kualitas
standar internasional dan mampu mencapai prestasi di tingkat dunia meskipun
hanya memiliki sarana belajar yang sederhana. Hal itu dikarenakan iklim dan
orientasi akademis benar-benar tercipta di kalangan civitas academika di kedua
perguruan tinggi ini.
DAFTAR PUSTAKA
Yozar Anwar, Pergolakan
Mahasiswa Abad ke-20; Kisah Perjuangan Anak-Anak Muda Pemberang, Jakarta:
Sinar Harapan, 1981
No comments:
Post a Comment