Monday, 30 April 2012

"Andai Aku Jadi Pengusaha Sukses"


“Andai Aku Jadi Pengusaha Sukses”
Sebelum berbicara mengenai kewirausahaan, setidaknya perlu diketahui arti dari wirausaha itu sendiri. Kewirausahaan terdiri dari kata "wira" : sendiri, disiplin, dan bertanggung jawab. Sedangkan "usaha" : aktivitas yang dilakukan berdasarkan pengetahuan, kemampuan dan kreativitas. Kewirausahaan adalah kemampuan kreatif dan inovatif yang dijadikan dasar, kiat dan sumber daya untuk mencapai peluang menuju sukses. Adapun menurut Drucker (1959), wirausaha yaitu kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru yang berbeda dari yang lain melalui pemikiran kreatif dan inovatif sehingga menciptakan peluang atau lapangan pekerjaan.
Proses kewirausahaan diawali dengan adanya aksioma yaitu adanya tantangan. Dari tantangan tersebut munculah gagasan, dan dorongan berinisiatif, yang tidak lain adalah berfikir kreatif dan inovatif. Setiap tantangan pasti memiliki resiko baik itu berhasil maupun tidak berhasil. Di sisi lain tantangan menjadi wirausaha tidak hanya bersifat personal, melainkan juga bersifat sosial.
Tantangan yang pertama, yaitu masih sedikitnya entrepreneur atau pengusaha di Indonesia jika dibandingkan negara-negara lain khususnya di Asia, seperti India, Malaysia dan yang lainnya. Idealnya, jika dikatakan oleh David McClelland, bahwa suatu bangsa atau negara bisa disebut makmur bila jumlah entreprenuer atau pengusaha paling sedikit 2 persen dari total jumlah penduduknya. Adapun jumlah pengusaha atau entrepreneur di Indonesia pada tahun 2009 baru 0,18% dari total penduduk Indonesia. Artinya baru sekitar 450.000 (data majalah Kesra-Menko Kesra menyebutkan 400.000 orang) penduduk Indonesia yang membuka usaha sendiri dan tidak tergantung bekerja pada pemerintah atau orang lain. Dari data statistik tersebut menandakan, bahwa masih sangat jauh dari kata ideal suatu bangsa atau negara. Oleh karena itu, setidaknya Indonesia dibutuhkan lebih dari 4 juta wirausahawan untuk membangun sektor perekonomian masa depan yang tangguh.
Tantangan yang kedua, sebagian besar lulusan perguruan tinggi atau sarjana masih berorientasi mencari pekerjaan, terutama menjadi pegawai negeri sipil. Ditambah lagi para pencari kerja dari strata pendidikan lainnya yang sama-sama mencari kerja. Akibatnya, semakin banyak tingkat pengangguran, terutama pengannguran terdidik. Selain itu, para terdidik masih berparadigma, bahwa seorang yang mempunyai gelar haruslah bekerja di kantoran atau di posisi nyaman, sehingga enggan berprofesi dalam bidang yang bertolok belakang dari paradigma mereka. Akibatnya lagi-lagi pengangguran semakin menumpuk. Maka dari itu, tidak salah jika ada yang berpendapat, sekolah tinggi tidak menjamin pekerjaan dan bahkan seorang yang tidak berpendidikan tinggi dapat lebih sukses jika dibandingkan dengan yang berpendidikan tinggi. Dari sekian permasalahan yang menyangkut mengenai pendidikan kita, tidak lain disebabkan pendidikan kita yang anti realita antara teori yang diajarkan dalam pendidikan dengan realita dalam masyarakat.
Ketidaksesuaian atau ketidakrealitanya pendidikan kita (Indonesia) dapat dilihat dari masih banyaknya para sarjana atau para kaum terdidik yang tidak terserap oleh dunia kerja. Hal itu dikarenakan masih sedikitnya lapangan pekerjaan yang tersedia. Selain itu, teori-teori yang diajarkan dalam pendidikan bersifat statis, yang mana berbanding lurus dengan realita sosial masyarakat yang dinamis. Akibatnya, ketika sarjana-sarjana atau para terdidik di turunkan ke masyarakat, mereka sangatlah terkejut bahkan sampai hilangnya idealis dan menjadikan mereka down.
Kemudian ketidakmampuan dan ketidaksesuaian pendidikan kita antara teori dan realita sosial yang ada dapat dilihat dari kurangnya keseriusan dalam pendayagunaan secara maksimal pada bidang pertanian dan perkebunan. Padahal Indonesia notabenenya merupakan negara yang begitu kaya akan sumber daya alamnya, dan negara yang agraris. Namun, dengan melimpah ruahnya SDA, ternyata kita belum mampu mengelolanya secara baik demi kemakmuran bersama.
Dari sekian banyaknya permasalahan yang sangat komleks, maka seandainya “saya menjadi wirausahawan sukses” di luar pulau Jawa dan khususnya pulau Sumatera, ada beberapa hal yang akan saya lakukan. Pertama, memerdekakan orang tua dari yang namanya bekerja ataupun sejenisnya. Kedua, akan membuat lapangan pekerjaan yang sekiranya dapat mengurangi pengangguran, dengan cara salah satunya mengajak sahabat-sahabat yang bisa dikatakan kurang beruntung dalam hidupnya atau dengan kata lain tidak mampu mengenyam pendidikan lebih tinggi. Di sisi lain, akan memberikan pembelajaran atau pengarahan untuk bagaimana supaya para kariyawan atau pekerja untuk dapat mandiri atau mengembangkan usahanya sendiri. Dengan kemandirian itu sekiranya akan menimbulkan efek domino yang positif, karena pada prinsipnya seorang pengusaha bisa dikatakan suksek yaitu bagaimana ia mampu mengsukseskan orang lain, bahkan melebihi dari dirinya sendiri.
Ketiga, membuat atau memiliki lembaga pendidikan yang kompeten yang khususnya diperuntukkan bagi mereka yang kurang mampu. Di dalam pendidikan itu nantinya juga akan dikembangkannya jiwa-jiwa kewirausahaan, di situ peserta didik diajarkan untuk bagaimana kreatif, inovatis dan produktif sehingga dapat menghasilkan karya. Dari hasil karyanya akan dipasarkan, kemudian hasil tersebut akan dikembalikan ke lembaga sekolah sebagai biaya oprasinal pendidikan.
Keempat, akan memberikan tempat usaha atau lapangan pekerjaan untuk organisasi sebagai penghasilan dalam rangka menunjang produktifitas dalam pengkaderan. Dengan seperti itu setidaknya jika organisasi mengadakan acara atau kegiatan yang membutuhkan dana bisa mengambil dari hasil usaha tersebut. Di sisi lain, hasil dari usaha tersebut akan diberikan kepada pengurus organisasi sebagai bentuk apresiasi dan sebagai dorongan untuk berorganisasi lebih maksimal sehingga akan lebih produktif dalam bekerja.
Kelima, ingin menjadi pemimpin baik itu di daerah seperti kabupaten maupun di tingkat yang lebih tinggi. Pertanyaannya, kenapa harus menjadi pengusaha terlebih dahulu? Karena bagiku untuk menjadi pemimpin yang tidak korup, yang kemudian mendedikasikan sebagai pemimpin yang benar-benar sebuah pengapdian secara totalitas, salah satunya cara yaitu haruslah kaya atau memiliki finansial yang cukup. Meskipun cara ini tidak sepenuhnya benar atau cara satu-satunya untuk menjadi pemimpin yang tidak korup, tapi setidaknya bisa masuk akal. Selain itu pada dasarnya untuk menjadi seorang pemimpin bukan cara untuk memperkaya diri, melainkan memang bentuk sebuah pengabdian dalam masyarakat.
Bagi saya berwirausaha tidak semata-mata untuk kepentingan dunia bisnis ataupun kekayaan pribadi, melainkan bagaimana dapat menciptakan lapangan pekerjaan dan merubah mindset seseorang khususnya mahasiswa atau sarjana yang masih berpandangan jika sudah sarjana harus menjadi pegawai negeri. Kemudian, orang yang sukses adalah orang itu mampu menyukseskan orang lain, bahkan lebih sukses dari sendiri. Dengan kata lain, bukan seberapa harta yang dapat kita kumpulkan, melainkan sebarapa banyak orang yang sukses karena kita. Secara tidak langsung, jika orang lain sukses maka kita pun akan lebih sukses.

Tapi ingat boy,..!!!!!
Bukan seberapa besar mimpi Anda, melainkan seberapa besar Anda untuk mimpi itu”.




By: Sang Pemimpi.

No comments:

Post a Comment