IdentitasBuku
:
JudulBuku
: ANTROPOLOGI PENDIDIKAN
TahunTerbit
: 2012
Penulis
: Prof. Dr. H. Mahmud, M. Si. dan Dr. Ija
Suntana, M. Ag
Jumlah
Halaman : 251
Penerbit
: CV Pustaka Setia
Resensi
: 70-90
Agama merupakan kepercayaan yang
disatukan oleh praktik-praktik yang bertalian dengan hal-hal yang suci (objek
referensi, yang dihargai dan malah dahsyat), yaitu hal-hal yang dibolehkan dan
dilarang - kepercayaan yang
mempersatukan komunitas moral dan semuanya terpaut satu sama lain. Agama dalam
arti eksklusif yaitu suatu sistem kepercayaan dan praktik yang terorganisir,
yang didasarkan pada keyakinan yang tidak terbukti, yang memostulatkan adanya
makhluk-makhluk, kekuasaan atau kekuatan supernatural yang menguasai dunia
fisik dan sosia.
Agama dan system moralitas tidak
bisa memadai untuk dipersamakan. system agama sering berkaitan erat dengan
system moralitas sekuler, tetapi keduanya sulit disamakan. Agama berbanding
lurus dengan magis (ilmu gaib), perbedaan ini didasarkan, bahwa agama merupakan
sebuah “permohonan, sedangkan ilmu gaib didasarkan “manipulasi”. Namun, disisi
lain ada yang menyatakan, bahwa agama tidak dapat dipisahkan dengan ilmu gaib
dikarenakan agama dan ilmu gaib sering terjaring erat dan adapun perbedaan
keduanya hilang di dalam praktik.
Perbedaan antara agama dan ilmu,
agama berurusan dengan yang sifatnya supernatural (superempiris), sedangkan
ilmu sendiri membatasi penegasanya pada dunia alamiah dan empiris. Meskipun
keduanya memiliki perbedaan yang radikal, namun setidaknya tidak akan
memunculkan konflik jika agama dapat membatasi dirinya pada dunia supernatural
karena dengan seperti itu agama akan tetap memegang kontrol eklusif atas dunia
pemahaman manusiayang secara total tidak dapat didekati oleh ilmu.
Agama mengalami perubahan dan itu
yang dinamakan evolusi agama. Agama berevolusi sebanyak lima kali, yaitu primitif,
purbakala, historis, modern awal, dan modern (Robert Bellah, 1964). Evolusi
agama yang disampaikan oleh Robert Bellah tidak mencakup lebih rinci mengenai
agama primitif meskipun skema evolusi Bellah mempunyai manfaat yang menekankan
atas evolusi tema penolakan dunia dengan munculnya agama-agama historis. Adapun
yang lebih eksplisit dalam penyampaian mengenai agama primitif ialah Wallace.
Wallace mengidentifikasi empat tipe agama evolusioner yang didasarkan pada
gabungan pranata pemujaan: (1) agama-agama shaman, yang hanya terdiri atas
pranata pemujaan individual dan shamanik; (2) agama-agama komunal, yang
mengandung pranata pemujaan komunal, shamanik, dan individualistik; (3)
agama-agama Olympian, yang mengandung pranata pemujaan individual, shamanik,
dan komunal maupun pemujaan eklesiastikal yang terorganisasi oleh sekeliling
rumah-rumah pemujaan (pantheon) dewa-dewa tinggi yang paliteistik; (4)
agama-agama monoteistik, yang mengandung pranata pemujaan eklesiastikal yang
terorganisasi sekitar konsep suatu dewa tinggi tinggal.
Agama bukan hanya sebatas pemuajan
terhadap apa yang dianggap supernatural (superempiris), melainkan agama juga
dipandang sebagai alat mengabsahkan dan melindungi kepentingan politik dan
kelas sosial yang telah mapan, yang dilayani oleh system politik. Agama
dipandang juga sebagai kekuatan konservatif secraa inheren, yang secara aktif
meningkatkan pemeliharaan orde politik dan sosial yang telah mapan dan
menetralisasi setiap usaha yang signifikan untuk mengubah orde baru. Akan
tetapi, juga dikemukakan bahwa agama sering berfungsi sebagai panglima
berhimpun guna melakukan perubahan besar dalam lembaga-lembaga yang telah
ditetapkan. Jadi, agama tidak harus bersifat konservatif dan
sesungguhnya,sering merupakan kekuatan radikal.
No comments:
Post a Comment