Wednesday, 7 March 2012

AGAMA DAN MASYARKAT


IdentitasBuku :
JudulBuku           : ANTROPOLOGI PENDIDIKAN
TahunTerbit         : 2012
Penulis                 : Prof. Dr. H. Mahmud, M. Si. dan Dr. Ija Suntana, M. Ag
Jumlah Halaman : 251
Penerbit               : CV Pustaka Setia
Resensi                : 70-90

Agama merupakan kepercayaan yang disatukan oleh praktik-praktik yang bertalian dengan hal-hal yang suci (objek referensi, yang dihargai dan malah dahsyat), yaitu hal-hal yang dibolehkan dan dilarang -  kepercayaan yang mempersatukan komunitas moral dan semuanya terpaut satu sama lain. Agama dalam arti eksklusif yaitu suatu sistem kepercayaan dan praktik yang terorganisir, yang didasarkan pada keyakinan yang tidak terbukti, yang memostulatkan adanya makhluk-makhluk, kekuasaan atau kekuatan supernatural yang menguasai dunia fisik dan sosia.
Agama dan system moralitas tidak bisa memadai untuk dipersamakan. system agama sering berkaitan erat dengan system moralitas sekuler, tetapi keduanya sulit disamakan. Agama berbanding lurus dengan magis (ilmu gaib), perbedaan ini didasarkan, bahwa agama merupakan sebuah “permohonan, sedangkan ilmu gaib didasarkan “manipulasi”. Namun, disisi lain ada yang menyatakan, bahwa agama tidak dapat dipisahkan dengan ilmu gaib dikarenakan agama dan ilmu gaib sering terjaring erat dan adapun perbedaan keduanya hilang di dalam praktik.
Perbedaan antara agama dan ilmu, agama berurusan dengan yang sifatnya supernatural (superempiris), sedangkan ilmu sendiri membatasi penegasanya pada dunia alamiah dan empiris. Meskipun keduanya memiliki perbedaan yang radikal, namun setidaknya tidak akan memunculkan konflik jika agama dapat membatasi dirinya pada dunia supernatural karena dengan seperti itu agama akan tetap memegang kontrol eklusif atas dunia pemahaman manusiayang secara total tidak dapat didekati oleh ilmu.
Agama mengalami perubahan dan itu yang dinamakan evolusi agama. Agama berevolusi sebanyak lima kali, yaitu primitif, purbakala, historis, modern awal, dan modern (Robert Bellah, 1964). Evolusi agama yang disampaikan oleh Robert Bellah tidak mencakup lebih rinci mengenai agama primitif meskipun skema evolusi Bellah mempunyai manfaat yang menekankan atas evolusi tema penolakan dunia dengan munculnya agama-agama historis. Adapun yang lebih eksplisit dalam penyampaian mengenai agama primitif ialah Wallace. Wallace mengidentifikasi empat tipe agama evolusioner yang didasarkan pada gabungan pranata pemujaan: (1) agama-agama shaman, yang hanya terdiri atas pranata pemujaan individual dan shamanik; (2) agama-agama komunal, yang mengandung pranata pemujaan komunal, shamanik, dan individualistik; (3) agama-agama Olympian, yang mengandung pranata pemujaan individual, shamanik, dan komunal maupun pemujaan eklesiastikal yang terorganisasi oleh sekeliling rumah-rumah pemujaan (pantheon) dewa-dewa tinggi yang paliteistik; (4) agama-agama monoteistik, yang mengandung pranata pemujaan eklesiastikal yang terorganisasi sekitar konsep suatu dewa tinggi tinggal.
Agama bukan hanya sebatas pemuajan terhadap apa yang dianggap supernatural (superempiris), melainkan agama juga dipandang sebagai alat mengabsahkan dan melindungi kepentingan politik dan kelas sosial yang telah mapan, yang dilayani oleh system politik. Agama dipandang juga sebagai kekuatan konservatif secraa inheren, yang secara aktif meningkatkan pemeliharaan orde politik dan sosial yang telah mapan dan menetralisasi setiap usaha yang signifikan untuk mengubah orde baru. Akan tetapi, juga dikemukakan bahwa agama sering berfungsi sebagai panglima berhimpun guna melakukan perubahan besar dalam lembaga-lembaga yang telah ditetapkan. Jadi, agama tidak harus bersifat konservatif dan sesungguhnya,sering merupakan kekuatan radikal.

No comments:

Post a Comment