Wednesday, 7 March 2012

Psikologi ; ALIRAN FUNGSIONALISME


BAB I
PENDAHULUAN
Psikologi sebagai suatu ilmu yang relatif muda apabila dibandingkan dengan ilmu-ilmu yang lain. Namun demikian telah cukup lama masalah psikologi dibicarakan oleh para ahli. Psikologi pada mulanya merupakan bagian dari filsafat yang kemudian memisahkan diri namun ini bukan berarti psikologi tidak terkena pengaruh dengan filsafat.
Terpisahnya psikologi dari filsafat dapat diidentifikasi dengan adanya aliran pertama dalam psikologi yaitu strukturalisme (Wilhelm Wundt, 1832-1920). Kemudian aliran selanjutnya yaitu fungsionalisme yang merupakan reaksi terhadap strukturalisme tentang keadaan-keadaan mental.
Pendekatan fungsionalisme berlawanan dengan pendahulunya, yaitu strukturalisme. Aliran fungsionalisme juga keluar dari pragmatism sebagai sebuah filsafat. Aliran fungsionalisme berbeda dengan psikoanalisa, maupun psikologi analytis, yang berpusat kepada seorang tokoh. Fungsionalisme memiliki macam-macam tokoh antara lain Willian James, John Dewey, James Rowland Anggell dan James Mc.Keen Cattell.
Aliran fungsionalisme merupakan aliran psikologi yang pernah sangat dominan pada masanya, dan merupakan hal penting yang patut dibahas dalam mempelajari psikologi. Adapun sekiranya dalam tulisan ini akan membahas mengenai aliran fungsionalisme yang merupakan aliran yang banyak mempengaruhi aliran-aliran psikologi modern.
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Psikologi
Psikologi berasal dari dari kata dalam bahasa Yunani Psychology yang merupakan gabungan dari kata psycho dan logos. Psycho yang berarti jiwa dan logos berarti ilmu atau ilmu pengetahuan. Karena itu perkataan psikologi sering diartikan atau diterjemahkan dengan ilmu pengetahuan tentang jiwa atau disingkat ilmu jiwa.[1]
Namun demikian ada sementara ahli yang kurang sependapat bahwa psikologi itu benar-benar sama dengan ilmu jiwa, walaupun ditinjau dari arti kata kedua istilah itu sama. Dalam pandangan ini Garungan mengemukakan mengenai perbedaan antara ilmu jiwa dan psikologi. Perbedaan itu dilihat dari ruang lingkup, ilmu jiwa mempunyai pandangan lebih luas yang mana meliputi segala pemikiran, pengetahuan, tanggapan, khayalan dan segala spekulasi mengenai jiwa. Adapun psikologi itu sendiri merupakan istilah “ilmu pengetahuan” suatu istilah yang scientific, ilmu jiwa yang bercorak ilmiah tertentu dan diperoleh secara sistematis dengan metode-metode ilmiah. Dengan demikian kiranya agak jelas, bahwa yang dinamakan ilmu jiwa belum tentu “psikologi”, tetapi psikologi itu senantiasa ilmu jiwa (Gerungan, 1966:6).[2]

B.     Definisi Fungsionalisme
Tokoh dalam aliran fungsionalisme bernama William James (1842-1910), banyak hal yang merupakan paradoksal dari James dalam kaitannya dengan psikologi di Amerika. Pada satu sisi ia meruapakan pelopor atau pendahulu bagi psikologi fungsional di Amerika, ia merupakan pioneer psikologi modern di Amerika (Schultz dan Schultz, 1992).[3]
Fungsionalisme mengorientasi dalam psikologi yang menekankan pada proses mental dan menghargai manfaat psikologi serta mempelajari fungsi-fungsi kesadaran dalam menjembatani antara kebutuhan manusia dan lingkungannya. Maksudnya, fungsionalisme memandang bahwa masyarakat adalah sebuah sistem dari beberapa bagian yang saling berhubungan satu sama lain dan tak bisa dipahami secara terpisah.[4]
Fungsionalisme merupakan sebuah studi tentang operasi mental, mempelajari fungsi-fungsi kesadaran dalam menjembatani antara kebutuhan manusia dan lingkungannya. Fungsionalisme menekankan pada totalitas dalam hubungan pikiran dan perilaku. Dengan demikian, hubungan antar manusia dengan lingkungannya merupakan bentuk manifestasi dari pikiran dan perilaku.
Fungsionalisme memandang bahwa pikiran, proses mental, persepsi indrawi, dan emosi adalah adaptasi organisme biologis (Ash-Shadr, 1993:259-260). Drever menyebutkan fungsionalisme (functional Psychology) lebih menekankan pada fungsi-fungsi dan bukan hanya fakta-fakta dari fenomena mental, atau berusaha menafsirkan fenomena mental dalam kaitan dengan peranan yang dimainkannya dalam kehidupan atau suatu psikologi yang mendekati masalah pokok dari sudut pandang yang dinamis bukan statis.[5]
Fungsionalisme juga memandang bahwa psikologi tak cukup hanya mempersoalkan apa dan mengapa terjadi sesuatu (strukturalisme) tetapi juga mengapa dan untuk apa (fungsi) suatu tingkah laku tersebut terjadi. Fungsionalisme lebih menekankan pada aksi dari gejala psikis dan jiwa seseorang yang diperlukan untuk melangsungkan kehidupan dan berfungsi untuk penyesuaian diri terhadap lingkungan sekitar dan sosial.[6]
C.    Ciri - ciri Fungsionalisme
Aliran fungsionalisme memiliki beberapa ciri khas, yaitu :
1.      Menekankan pada fungsi mental dibandingkan dengan elemen-elemen metal.
2.      Fungsi-fungsi psikologis adalah adaptasi terhadap lingkungan sebagaimana adaptasi biologis Darwin. Kemampuan individu untuk berubah sesuai tuntutan dalam hubungannya dengan lingkungan adalah sesuatu yang terpenting.
3.      Sangat memandang penting aspek terapan atau fungsi dari psikologi itu sendiri bagi berbagai bidang dan kelompok manusia.
4.      Aktivitas mental tidak dapat dipisahkan dari aktivitas fisik, maka stimulus dan respons adalah suatu kesatuan.
5.      Psikologi sangat berkaitan dengan biologi dan merupakan cabang yang berkembang dari biologi. Maka pemahaman tentang anatomi dan fungsi fisiologis akan sangat membantu pemahaman tentang fungsi mental.
6.      Menerima berbagai metode dalam mempelajari aktivitas mental manusia, meskipun sebagian besar riset dilakukan di Univ. Chicago (pusat perkembangn fungsionalisme) menggunakn metode eksperimen, pada dasarnya aliran fungsionalisme tidak berpegang pada satu metode inti. Metode yang digunnakan sangat tergantung dari permasalahan yang dihadapi.

D.    Metode – metode dalam Fungsionalisme
Aliran ini mempelajari fungsi dan tingkah laku atau proses mental, bukan hanya mempelajari struktural. Metode yang dipakai oleh aliran fungsionalisme dikenal sebagai metode observasi tingkah laku dan instropeksi .
1.      Metode observasi tingkah laku terbagi menjadi 2 (dua) yaitu:
a.       Metode Fisiologis
Menguraikan tingkah laku dari sudut pandang anatomi dan ilmu faal. Jadi, mempelajari perilaku yang dikaitkan dengan organ-organ tubuh dan sistem sarafnya.
b.      Metode Variasi Kondisi
Tidak semua tingkah laku manusia dapat dijelaskan dengan anatomi dan fisiologi, karena manusia mempunyai sudut psikologis. Metode variasi kondisi inilah yang merupakan metode eksperimen dari aliran fungsionalisme.
2.      Metode Instrospeksi
Stimulus berasal dari lingkungan secara alamiah, bisa pada banyak bagian sekaligus sehingga jiwa menunjukkan fungsinya. Metode ini terlalu bersifat subjektif sehingga sulit di sistematikan dan sulit dikuantitatifkan.

E.     Sumbangsih bagi Dunia Psikologi
1.      Mengembangkan ruang lingkup psikologi dari segi kelompok subyek (anak, binatang) maupun bidang kajian (psikologi abnormal, psychological testing, psikologi terapan). Hal ini dimungkinkan karena aliran fungsionalisme lebih terbuka kepada perbedaan individual dan bidang aplikasi daripada strukturalisme. Salah satu pelopor psychological testing adalah James McKeen Cattell, mantan murid Wundt. Selanjutnya bidang psychological testing ini menjadi salah satu bidang kajian penting dan paling populer dalam psikologi.
2.      Memperkenalkan pentingnya perilaku nyata sebagai representasi dari aktivitas mental. Pandangan ini mempersiapkan jalan bagi berkembangnya aliran baru, behaviorisme yang berpegang pada perilaku nyata sebagai satu-satunya obyek psikologi
3.      Memperkenalkan konsep penyesuaian diri sebagai obyek psikologi. Konsep adaptasi dan adjustmen ini menjadi konsep yang sangat penting dan sentral bagi beberapa bidang studi psikologi selanjutnya, seperti kesehatan mental dan psikologi abnormal.
F.     Kritik terhadap Fungsionalisme
1.      Kritik utama dari aliran strukturalisme adalah lebih pentingnya isi/elemen mental daripada prosesnya. Pada masa dimana terjadi persaingan ketat antara fungsionalisme dan strukturalisme, kritik ini cukup mendapat perhatian penting.
2.      Kurang adanya fokus yang jelas dan terarah dalam aliran fungsionalisme. Para tokoh tidak pernah terlalu jelas dan elaboratif dalam mengungkapkan konsep-konsepnya dalam karya mereka. Akibatnya aliran ini dianggap tidak terlalu utuh dan terintegrasi dan berdampak pada posisinya yang kurang kuat sebagai sebuah sistem. Bersifat teleological, sesuatu ditentukan oleh tujuannya. Hal ini menggambarkan orientasi pragmatisme yang seringkali dikritik sebagai lebih berorientasi pada hasil dan tidak memperhatikan proses.
3.      Terlalu eklektik, mencampurkan berbagai ide dan konsep dari beragam sumber sehingga terkesan kompromistis dan kehilangan bentuk asli. Pada dasarnya, fungsionalisme memang tidak ingin muncul sebagai sebuah aliran yang strict dan lebih memilih untuk dapat lebih fleksibel dalam mencapai tujuan-tujuannya.

BAB III
KESIMPULAN
Fungsionalisme adalah aliran psikologi yang memandang bahwa manusia harus dipandang secara menyeluruh. Apa yang dilakukan manusia sebagai aksi adalah hal yang kompleks yang merupakan manifestasi dari jiwa dan mempunyai maksud tertentu bukan hanya disebabkan oleh sesuatu hal. Fungsionalisme memandang bahwa pikiran, proses mental, persepsi indrawi, dan emosi adalah adaptasi organisme biologis.
Beberapa ciri fungsionalisme diantaranya adalah menekankan fungsi dibanding elemen mental, memandang penting kemampuan individu untuk berubah sesuai tuntutan lingkungannya, serta menerima berbagai metode dalam mempelajari aktivitas mental manusia.
Terdapat dua metode yang digunakan dalam fungsionalisme, yaitu : Metode observasi tingkah laku terbagi menjadi Metode Fisiologis dan Metode Variasi Kondisi, serta Metode Instrospeksi.
Aliran fungsionalisme dapat memberi pengaruh positif dalam dunia psikologi, yaitu mengembangkan ruang lingkup psikologi dari segi kelompok subyek (anak, binatang) maupun bidang kajian (psikologi abnormal, psychological testing, psikologi terapan), memperkenalkan pentingnya perilaku nyata sebagai representasi dari aktivitas mental dan memperkenalkan konsep penyesuaian diri sebagai obyek psikologi.

DAFTAR PUSTAKA

Sobur Alex, Psikologi Umum, Bandung: Pustaka Setia, 2003.
Sugihartoko dkk, Psikologi Pendidikan, Yogyakarta: UNY Press, 2007.
Walgito Bimo, Pengantar Psikologi Umum, Yogyakarta: ANDI Yogyakarta, 2004.
Sepvirna Lydia E P dan Sholihah Maratus, “Aliran Fungsionalisme”. http://psikologi.or.id. 2009.


[1] Bimo Walgito, Psikologi Umum, (Yogyakarta: ANDI Yogyakarta, 2004), hlm.1.
[2] Ibid., hlm 1-2.
[3] Ibid., hlm. 64.
[4] http://psikologi.or.id
[5] Alex Sobur, Psikologi Umum, (Bandung: Pustaka Setia, 2003), hlm. 106.
[6] Ibid.

No comments:

Post a Comment