Wednesday, 28 December 2011

Seminar Nasional PENDIDIKAN PESANTREN DALAM MEWUJUDKAN KEDAMAIAN BERAGAMA


1. PENDIDIKAN PESANTREN DALAM MEWUJUDKAN KEDAMAIAN BERAGAMA (Mark Woodward, Assosiatate Profesor, Arizona State University)

a)     Pertanyaan tentang pesantren sebagai pusat kekerasan.
v Asumsi pesantren adalah pusat gerakan keras.
v Beberapa teroris asal dari latar belakang pesantren.
v Abu Bakar Ba’asyir dan PONPES al-Mukmin (Ngeruki).
v Jumlah pesantren di Indonesia +/- 17. 000.
v Kalau ada 1700 pusat kekerasan-keadaan budaya.

b)     Kenyataan dunia pesantren berbeda
v Latar belakang pesantren dan kyai dari latar belakang NU
v Inti pesantren dan NU => al-Qur’an dan kitab kuning
v Salah satu pelajaran tafsir yaitu pluralism tafsir.

c)     Pendidikan pesantren sebagai basic civic (sipil) pluralism
v Pluralisme => kata panas sekali
v Pengertian pluralisme kurang sempurna, kebingungan tentang tingkatan
v Prulasim “ kesamaan semua agama” dan ada interpretasi dalam gerakan pemikiran mistic seperti Ibn al-Arabi (1164-1240)
v Tafsir ini tidak diterima mayoritas pengikut agama manapun.

d)     Pluralism Sipil
v Semangat kerja sama umat beragama
v Semangat kedamaian sebagai prinsip dasar kehidupan masyarakat
v Fokus dunia
v Perjuangan untuk mengurangi kebencian.

e)     Masalah cuci otak NII dan gerakan keras lain
v Pengertian agama “exclusif”
v Dalil sangat sederhana dan sering keliru
v Pendidikan agama sebagai vaksin
v Bagaimana masyarakat mudah diserang => kelas menengah kebawahyang belum punya pendidikan yang luas.
2.     PENDIDIKAN AGAMA DAN KARIR MENEMUKAN GOD SPOT BAGI KEMANUSIAAN
(Abdul Munir Mulkan, Dosen Tarbiyah dan Keguruan)

ð Apakah pendidikan hanya sekedar mencari ilmu dengan setumpuk penghargaan dan ijazah atau agar bisa belajar hidup (lihat George R. Night, Issues and Alternatif in Education Philosophy).
ð Kekerasan => di mana pendidikan yang selama ini dilakukan/ dijalani (arti luas : pengajian dan khutbah).
ð Kontruksi teologi (kebatilan Vs kesalehan)
ð Iblis beranak dan tidak mati sampai hari kiamat sedangkan malaikat tidak, maka muncul pertanyaan dengan seperti itu kejahatan semakin banyak?
Akan tetapi apa demikianlah tafsir keyakinan Tauhid itu maknannya? Atau sebaliknya?
ð God spot (makrifat)
Dari sinilah karakter atau kepribadian ditumbuhkan bagi kebaikan semua orang sembari meneguhkan keyakinan iman dan pengabdian ibadah kepada Tuhan, inilah yang antara lain bisa dikembangkan.
















3.     REKONSTRUKSI PENDIDIKAN KEAGAMAAN BERBASIS TOLERANSI
(Zuharini)
ð Indonesia adalah negara yang majemuk, baik dari segi etnis, bahasa, budaya, maupun agama.
ð Potensi toleransi yang sangat tinggi, jika dilihat dari realitas sosial kehidupan masyarakat
ð Ancaman intoleransi yang makin eskalatif pasca reformasi.
ð Barometer Toleransi dan Intoleransi
1.     Toleransi
v Hidup berdampingan secara damai dan kesamaan hak (Co-existence)
v Keterbukaan perihal pentingnya pada kelompok lainnya (awarness)
v Pengenalan terhadap terhadap kelompok lain sembari melakukan dialog (mutual learning)
v Pemahaman atas kelompok lain (understanding)
v Penghormatan, pengakuan dan memberikan kontribusi pada kelompok lain (respect)
v Penghargaan pada persamaan dan perbedaan, serta merayakan kemajemukan (value and celebration).
2.     Intoleransi
v Penolakan atas status dan akses yang sama terhadap kelompok lain (restraction)
v Pandangan yang menganggap kelompok lain lebih rendah (de-humanization)
v Pengabaian hak-hak sipil, politik dan ekonomi (opression)
v Penyerangan dan melakukan pembunuhan (act of agression)
v Pengorganisasian pembunuhan masal.

ð Temuan toleransi pada tahun 2010 terjadi 81 kasus dan itu lebih besar 30 persen dari tahun 2009. Untuk tahun 2011 bulan juni saja sudah terjadi +/- 71 kasus dan pasti jauh lebih banyak kasus yang akan terjadi bahkan bisa 100 persen meningkat dibandingkan tahun 2010.
ð Jogja paling sedikit dalaam intoleranya yaitu hanya 1 pada tahun 2010, dan yang tertinggi yaitu Jawa Barat (Bekasi).
ð Intoleran tertinggi dilakukan oleh FPI, MUI dan seterusnya.
ð Sasaran => kristen 34 kasus, Ahmadiyah 26 kasus, kelompok yang dicap sesat 11, dan lain-lain 10.

3.     Bagaimana peran pendidikan keagamaan
v Rekonstruksi sejarah keagamaan yang dapat menginspirasi toleransi (kurangnya pemahaman sejarah agama Islam)
v Rekonstruksi tafsir keagamaan yang toleran sebagai anti-tesa terhadap tafsir keagamaan-keagamaan yang toleran
v Rekonstruksi sikap keagamaan yang membangun harmoni dan gotong royong ditengah kebhinekaan
Rekonstruksi paham ke

No comments:

Post a Comment